Belasan Petani Wagir Menjerit

new malang pos
Pemerintah Desa Gondowangi ketika memediasi antara petani dengan pihak pengembang, Minggu (21/3).(NMP-M. PRASETYO LANANG)

Tanah Dibeli Pengembang, Namun Tiga Tahun Belum Ada Pelunasan

MALANG, NewMalangPos – Belasan petani di Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir menjerit. Mereka mengeluh karena lahan yang dibeli pengembang perumahan tak kunjung dilunasi. Padahal sudah tiga tahun, namun hak mereka belum didapat.

Akibatnya selain karena tidak bisa mengelola lahan, para petani juga tidak bisa menikmati uangnya. Sebab belum ada kejelasan juga dari pengembang Perumahan Rubyland yang dikelola PT Zein Intra Mapan, untuk pelunasan tanah.

Minggu (21/3) kemarin, Pemerintah Desa Gondowangi, mengundang petani dan pengembang untuk mediasi. Mengingat, sudah tiga kali ajakan untuk mediasi, namun pengembang mangkir dari pertemuan.

Pantauan New Malang Pos, mediasi berlangsung cukup alot. Para petani tidak sepakat dengan pengunduran waktu pelunasan yang dijanjikan pengembang.

“Selama ini kita sebagai petani tidak ada kata kelanjutan sepakat lagi. Petani digantung karena selama ini pengembang susah sekali untuk ketemu,” keluh Sutini, salah seorang petani yang merasa dirugikan.

Tasmo, 75, petani lainnya mengaku lahannya seluas 2.160 meter persegi dibeli dengan kesepakatan awal 2018 lalu. Katanya, sudah mulai dibayar di awal, namun hanya sepertiganya.

Baca Juga :  Jelang Akhir Tugas, Danlanud Bagi Bingkisan

“Sudah terlalu lama dijanjikan, tetapi tidak ada wujudnya. Sekarang saya sudah tidak lagi bekerja sebagai penggarap,” katanya.

Untung, 62, petani lain juga merasakan hal yang sama. Ia tak berani mengelola lahan lantaran sudah dieksekusi.

“Lahan saya 1209 meter persegi belum lunas, saya petani ya nggak berani ngutak-atik meski belum lunas. Tuntutan kami segera lunasi secepatnya,” tuturnya.

Mustiko Aji, salah seorang petani yang juga anggota BPD Desa Gondowangi mengatakan bahwa sejak November 2018, lahan petani dibeli oleh pihak pengembang. Pembayaran dijanjikan dilakukan bertahap mulai dari 10 persen, 30 persen dan 70 persen hingga pelunasan. Namun hal itu tidak berjalan hingga pelunasan satu tahun yang dijanjikan.

“Dulu awalnya bulan November 2018 ada tahapan pembayaran mulai 10 persen, 30 sampai, 70 persen. Tapi belum ada tindaklanjut,” urainya.

Disinggung kerugian, ia belum bisa memastikan karena luasan lahan masing-masing petani beragam. Mulai dari 800 meter persegi hingga 4950 meter persegi. Menurut penuturannya, pihak pengembang menjanjikan pelunasan dalam kurun waktu setahun.

Baca Juga :  Baru 14 dari 571 Pengembang Serahkan PSU

Dengan pembayaran awal sekitar 30% hingga 50% dari harga beli lahan. Pihak petani mengalami kebingungan karena kesulitan ekonomi saat tanah sudah dijual namun belum mendapatkan haknya.

Sementara dalam mediasi, disepakati beberapa hal. Yakni jangka waktu pelunasan kembali diperpanjang hingga tiga bulan kedepan, tepatnya Agustus 2021. Jika Agustus nanti belum dilunasi oleh pengembang maka pembelian lahan dinyatakan batal.

Beberapa konsekuensi yang akan diambil seperti pengembalian dana pembelian lahan kepada pengembang, dan pengembang harus menerima proses pembatalan dengan mengembalikan berkas berkas terkait tanah. Selama belum ada pelunasan petani berhak mengelola tanahnya. Petani berharap ini merupakan keputusan final yang segera menyelesaian masalah pembebasan lahan.

Kepala Desa Gondowangi Danis Setyabudi Nugroho mengatakan, pihaknya sudah melakukan panggilan pada pengembang beberapa kali, namun mangkir. Minggu kemarin pengembang bersedia hadir dan memunculkan kesepakatan baru sebagai bentuk jalan tengah.

“Terpenting harus ada waktu jelas, nanti ada proses usahanya (melunasi), kalau memang tidak dilunasi berarti batal,” terang Danis.

Ia telah mengupayakan kedua pihak agar dapat menemukan solusi tepat dan dapat menerima jika keputusan telah berjalan. Baginya, pemerintah desa akan terus berupaya membantu memediasi dan mengupayakan penyelesaian.

Baca Juga :  Hore! Bisa Sekolah Lagi

“Mau tidak mau ini adalah salah satu prioritas desa dalam mengatasi permasalahan sosial,” imbuhnya.

Pengembang Perumahan Rubyland Insiati mengatakan bahwa dirinya sudah berupaya melunasi namun mengalami kendala. Ia enggan memperjelas terkait permasalahan yang dialaminya. Hanya proses pencarian dana baik investor maupun pembeli tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

“Kalau sebulan kami tidak. Rencana awal

memang bulan Maret lunas, namun karena dari usaha saya belum ada hasil. Petani harus mampu memahami kondisi pandemi yang ada dan berdampak pada pengembang,” urainya.

Di masa pandemi, lanjutnya semua serba susah termasuk perekonomian. Ia mengaku, harusnya  pada bulan Maret menerima uang senilai Rp 18 milyar. Sebesar Rp 5 miliar akan dibayarkan pada petani.

“Tetapi dari perbankkan dicut, semua rencana tidak bisa dijalankan, hampir semua pengembang mengalami hal sama. Tanah masih utuh, kalau mau dimiliki lagi tidak masalah asal uang dikembalikan. Semua butuh proses,” jelasnya.(tyo/agp)