BE WISER

MALANG, NewMalangPos – “Bu, kapan kita sekolah lagi?’’ Tanya salah seorang anak siswa Kelas 6 SD yang terdengar di HP.

‘’Sabar ya, anak-anak. Kita sekarang masih dalam masa PPKM sampai 2 Agustus mendatang. Doakan setelah tanggal 2 Agustus, kita bisa sekolah tatap muka lagi, ya. Doakan. Ibu juga kangen kalian semua, anak-anak. Tetap semangat ya,’’ jawab bu Guru yang pagi itu memberikan materi pelajaran Bahasa Daerah. ‘’Ya, bu,’’ sahut anak-anak kompak.

          Perbincangan di atas adalah cuplikan kecil dari dialog polos anak-anak yang sudah setahun lebih belajar daring. Baik via google meeting, zoom meeting maupun aplikasi lainnya. Ya pagi itu, saya sengaja mengikuti pembelajaran daring anak saya, Levent Farras Rabbani, siswa kelas 6 SD Muhammadiyah 8 (Mapan) Dau Kabupaten Malang. Sekolah terasa hadir di rumah.

          Ada kerinduan yang mendalam dari siswa-siswi itu untuk kembali ke sekolah. Begitu juga kerinduan para guru kepada siswa-siswinya untuk kembali belajar secara tatap muka. Tapi apa daya, tahun ajaran baru di pertengahan bulan Juli ini kembali harus digelar secara daring, meskipun jauh sebelumnya, Menristek Nadiem Makarim menegaskan sudah harus tatap muka. Tapi melonjaknya kasuss Covid-19 belakangan di Indonesia, termasuk di Malang Raya membuat semuanya harus ditunda.

          Meski mungkin semua unsur pendidikan sudah mengalami kejenuhan, namun saya masih melihat sisi positifnya. Energi baiknya. Yaitu semangat belajar yang terus menyala-nyala di kalangan dunia pendidikan. Baik siswanya, mahasiswanya, guru-gurunya dan dosen-dosennya. Termasuk para mentor dan pemateri-pemateri pelatihan, baik local, regional dan nasional.

          Walaupun setiap hari, ambulans silih berganti meraung-raung di jalanan, dan nyaris setiap hari pengumuman orang meninggal bersahutan, namun dunia pendidikan tetap asyik dengan program-program pembelajarannya. Fokus demi pendidikan anak-anak di masa depan. Luar biasa!

          Bisa dibayangkan betapa bosannya siswa harus terpaku berjam-jam di depan laptop dan HPnya dalam sehari. Dan betapa lelahnya fisik dan pikiran para guru di depan laptopnya mengajar guna memenuhi dan mencapai target pembelajaran yang sudah diprogramkan. Itu belum mengikuti program pengembangan kompetensi diri usai mengajar atau di sela-sela jam pelajaran.

Baca Juga :  Pilkada Buka Lapak

          Setidaknya siswa rata-rata harus belajar 2-3 jam, bisa lebih mulai Senin-Jumat. Sementara seorang guru harus 4-5 jam dalam sehari harus fokus di depan laptop. Tak cukup sampai di situ, guna menyesuaikan dengan teknologi masa kini, guru juga harus aktif mengikuti pelatihan-pelatihan mandiri, baik gratis maupun berbayar untuk menunjang program pembelajarannya kepada para siswa.

          Jujur sebagai orang tua, dan saya yakin kebanyakan orang tua, punya kekhawatiran yang sama. Khususnya anak-anak yang sekarang duduk di bangku kelas 6 SD, Kelas 9 SMP dan kelas 12 SMA/SMK. Karena pasti, mereka harus mendapatkan perhatian dan pembelajaran lebih. Karena mereka berada pada fase kelulusan yang menentukan ke jenjang selanjutnya.

          Setelah setahun lebih tidak tatap muka, kekhawatiran kemampuan siswa kurang menghantui. Terlebih pembelajaran secara daring. Apalagi untuk anak-anak yang tergolong kinestetik. Anak-anak yang pembelajarannya harus diperlakukan secara khusus. Karena mereka lebih menyukai gerakan, praktik dan pembelajaran di luar ruangan.

          Bila situasi normal saja, mungkin para guru sudah repot mengurus mereka di dalam kelas. Apalagi ini daring, yang susah untuk mengontrol dan menjangkau siswa satu persatu. Tentu butuh perhatian ekstra bagi guru dan orang tua siswa untuk fokus pada anak-anak kinestetik ini. Karena mereka tidak akan jenak, kalau pembelajarannya monoton dan tidak menarik bagi mereka. Mau untuk zoom meeting saja dan tenang mengikuti pembelajaran daring, itu sudah sangat bagus.

          Kegelisahan itulah yang menghinggapi hingga muncul ketakutan, bagaimana nanti saat si anak menjalani ujian akhirnya. Apakah bisa menjawab soal soal ujian kelas 6 yang pastinya lebih berat? Sementara si anak kelihatan santai. Ia tetap ingin bermain, bermain dan bermain. Kekhawatiran dan kerinduan akan sekolah tatap muka itulah yang kini dinantikan, khususnya untuk orang tua yang anak-anaknya tergolong kinestetik.     

Baca Juga :  Ketatkan Jam Malam!

          Cynthia Ulrich Tobias dalam buku terjemahaan Cara Mereka Belajar (2013) menjelaskan, gaya belajar kinestetik adalah cara mempelajari sesuatu dengan melibatkan gerakan anggota tubuh, apa yang sedang dipelajari diperagakan. Cynthia juga menegaskan setiap anak adalah individu yang unik, yang mempunyai kelebihan sendiri-sendiri. Apa yang menjadi kesukaannya juga bersifat individual, talenta atau ciri khusus yang bersifat individual ini disebut gaya belajar.

          Seorang pakar pendidikan dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, Thomas Armstrong mengungkapkan, ada delapan jenis kecerdasan anak menurut teori Multiple Intelligences atau kecerdasan multipel. Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh pakar pendidikan yang juga dari Universitas Havard, Howard Gardner.

          Howard Gardner menegaskan setiap individu adalah cerdas, tidak ada individu yang bodoh. Cerdas yang dimaksud bukan cerdas di segala bidang, melainkan cerdas di bidangnya masing-masing. Tidak ada anak yang bodoh. Setiap anak memiliki kepintarannya masing-masing.

          Howard membaginya menjadi delapan jenis kecerdasan anak, yaitu word smart (kecerdasan linguistik), number smart (kecerdasan logika atau matematis), self smart  (kecerdasan intrapersonal), people smart (kecerdasan interpersonal), musik smart (kecerdasan musikal), picture smart (kecerdasan spasial), body smart (kecerdasan kinetik), dan nature smart (kecerdasan naturalis).

          Kamis, 22 Juli 2021 lalu, saya diundang SMA Islam Sabilillah Malang untuk menjadi pemateri literasi media dengan tema Secret Behind A News. Zoom meeting diikuti sedikitnya 400 lebih peserta, kelas 10, 11 dan 12. Meskipun tidak bertatap muka, saya merasakan betapa mereka sangat antusias mengikuti materi. Tentu dengan kondisinya masing-masing.

Baca Juga :  Jam Kerja Tak Menentu, Ketemu Warga Malah Ditagih Masker

          Saya mengetahui mereka antusias dan respek dari pertanyaan-pertanyaan yang meluncur dari para milenial itu. Dan saya harus memahami dan ikut ke dalam dunia mereka. Dunia yang sudah tak bisa lepas dari teknologi. Karena itu, materi saya pun saya beri judul: Saleh Berliterasi Media.

          Ada hal yang menarik di lingkungan pendidikan Sabilillah Malang ini. Yaitu capaian dan tujuan pembelajaran yang dikemas dalam Be WISER. Apa itu?  Kabag Kurikulum dan Kesiswaan LPI Sabilillah Malang Idi Rathomy Baisa, S.Pd., M.Pd., saat diwawancarai wartawan New Malang Pos mengatakan prinsip dasar pembelajaran tatap muka di masa mendatang bukan berarti kembali pada pembelajaran konvensional.  

            SISMA (Sekolah Islam Sabilillah Malang) tetap dengan karakteristiknya yakni pembelajaran berbasis IT.  Sistem pendekatannya dengan memadukan tatap muka dan pemanfaatan media pembelajaran berbasis IT ini dikenal dengan istilah Blended Learning.

          Terkait dengan Blended Learning, SISMA memadukan dengan arah tujuan pembelajaran Be WISER. Yaitu Being Excellent by Wondering, Investigating, Synthesizing, Expressing, Reflecting. Be WISER adalah sebuah tujuan pembelajaran untuk mencetak generasi muda bangsa Indonesia yang wise atau bijak.

          Idi menerangkan, generasi muda bangsa yang bijak memiliki karakter wonder artinya suka bertanya tentang hal yang belum diketahui. Punya semangat mencari tahu atau investigate dan punya kemampuan menyimpulkan atau synthesize. Selanjutnya bisa mempresentasikan atau express dan introspeksi diri (reflective).

          Be WISER memacu anak untuk semangat dan meningkatkan minat belajar termasuk gemar membaca untuk mencari tahu. Be WISER juga melatih siswa untuk bernalar dan berpikir kritis sehingga mampu untuk memecahkan masalah. “Jadi kapan kembali sekolah, yah?’’ Tanya Levent yang sudah bosan karena selama PPKM Level 4 ini tidak bisa latihan sepak bola.(*)

artikel Pilihan