Bagi-Bagi Nasi Bungkus ala Komunitas Anak Bangsa Malang

MEREKA merelakan waktu, tenaga dan uang untuk sesama. Jenis kegiatannya bagi nasi bungkus secara gratis kepada sesama yang membutuhkan. Itulah geliat Komunitas Anak Bangsa Malang.

Awalnya Swadaya Anggota, Kini Banyak Bantuan Berdatangan

NEW MALANG POS – Saat semua orang tertidur lelap di malam hari, ada sekelompok warga Kota Malang yang sibuk demi sesamanya. Mereka memasak berbagai macam masakan mulai pukul 21.00 WIB sampai 01.00 dini hari. Kadang hingga pukul 02.00 WIB. Mereka tanpa lelah memasak. Pagi hari dilanjutkan lagi dengan membagi-bagikan secara gratis.

Hal ini tidak akan terjadi jika bukan karena gerakan hati dan empati. Inilah yang dilakukan 15 orang warga Kota Malang. Mereka tergabung dalam Komunitas Anak Bangsa Malang. Aktivitas itu dilakukan setiap malam Kamis sejak awal Juli 2021 hingga sekarang.

Mereka biasanya memasak nasi, menggoreng mi, telor, hingga oseng-oseng tempe. Lauknya sederhana, telur dadar atau telur goreng. Setelah selesai lalu dibungkus, Jumat pagi sudah ditata rapi di sebuah meja.

Yuning Kartikasari, salah satu pendiri Komunitas Anak Bangsa Malang menceritakan sebanyak 150 hingga 200 nasi bungkus setiap Jumat dibagikan gratis kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Setiap hari Jumat jam 9 pagi kita buka stan. Lokasinya berbeda-beda. Kami gelar meja dan kursi, diberi tulisan nasi bungkus gratis. Biasanya setengah jam saja sudah habis,” papar perempuan yang akrab disapa Yuyun ini.

Baca Juga :  Enggan Dituduh, Istana Minta Polisi Usut Peretasan Tempo

Nasi bungkus gratis hasil masakan mereka ini dibagikan gratis dengan tujuan membantu sesama. Khususnya selama masa pandemi Covid-19. Meski begitu pembagian nasi bungkus gratis ini membutuhkan survei terlebih dahulu.

Yuyun mengatakan ia memilih lokasi pembagian nasi bungkus gratis berbeda-beda setiap minggunya. Dipilih lokasi yang banyak ditemui kalangan masyarakat yang bekerja tanpa bisa meninggalkan tempat kerjanya.

“Kita ambil kawasan dekat-dekat pasar loak. Misalnya di kawasan Jalan Dr Sutomo, lalu pernah juga kita bagi-bagi di kawasan Pasar Comboran. Di sana juga banyak pemulung. Biasanya tempat-tempat itu yang kita datangi,” papar perempuan asal Kelurahan Kotalama ini.

Yuyun menjelaskan biaya membeli bahan untuk memasak diupayakan oleh anggota komunitasnya sendiri secara swadaya. Dimana, dikatakannya mencukupi untuk membuat hingga 100 bungkus diawal-awal kegiatan ini dilakukan.
Akan tetapi berjalan dua hingga tiga minggu kegiatan ini dilakukan, banyak donatur dan warga yang ikut menyumbangkan.

“Jadi awal-awal kita itu swadaya sendiri karena memang ya ingin bantu sesama. Nah anak-anak ini suka bikin status misal di WhatsApp nah ini ternyata banyak yang tahu. Dan mulai datang bantuan dari orang-orang,” kata dia.

Yuyun mengatakan, bantuan datang tidak pernah berupa uang. Akan tetapi kebanyakan bantuan beras, masakan jadi, hingga donasi berupa tempat nasi dari stereofoam beserta sendok dan garpunya.
Dari bantuan-bantuan yang diberikan itulah nasi bungkus yang bisa dibagikan menjadi lebih banyak. Dari 100 hingga saat ini bisa dibagi hingga 200 bungkus tiap Jumat.

Baca Juga :  Ramai di Jagat Maya, Tagar Dukung Polisi Bermunculan Usai #PercumaLaporPolisi Trending

“Banyak orang yang tahu lalu mereka datang bawa makanan jadi misalnya oseng-oseng tempe. Pernah juga seorang pedagang ayam di pasar beri beberapa kilo rempelo ati. Ya itu yang kami masak jadi lauk. Seperti itu orang-orang bantu kita,” jelas perempuan yang aktif di Lembaga Perlindungan Anak Malang ini.

Yuyun menjelaskan ada pula warga sekitar yang tahu dan ikut memberikan sumbangan. Bukan berupa barang atau bahan makanan. Akan tetapi sengaja datang ke Markas Komunitas Anak Bangsa di Jalan Sartono SH dan menawarkan tenaganya.
Tiga hingga lima orang kadang-kadang, lanjut Yuyun datang untuk membantu. Yakni ikut memasak.

“Jadi ada saja warga yang datang mereka mau bantuin kita masak, sampai packing, bungkusin nasinya. Jadinya kita tak sampai pagi lagi masaknya,” ungkap Yuyun.

Atas bantuan yang terus mengalir inilah, kegiatan bagi makan gratis ini terus berlanjut hingga saat ini. Menurutnya warga Kota Malang memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap sesama. Hanya butuh sedikit dorongan saja.
Ia merasa apa yang dilakukannya bisa menjadi dorongan kegiatan sosial yang bisa dilakukan warga lainnya.

Baca Juga :  Agar Makin Mudah Atur Lalu Lintas Kota Malang, Menunggu Perubahan Status Jalan

“Kalau melihat banyak yang bantu kita, sumbang makanan, sumbang ini itu, ikut gabung ini kan berarti mereka ini kepeduliannya besar sekali. Kami di komunitas sangat terbantu dan warga yang butuh juga bisa semakin banyak yang terbantu,” jelas perempuan yang aktif di WCC (Woman Crisis Centre) Malang ini.

Selama kurang lebih dua bulan melakukan kegiatan ini, Yuyun dan teman-temannya juga merasakan hal yang cukup melelahkan. Apalagi jika menemui warga yang mengambil nasi bungkus berlebih dari yang dibutuhkan.
Terkadang, Yuyun harus meninggikan suaranya dan meneriakan motto dari gerakan pembagian nasi gratis ini. Yakni “Ambil Secukupnya, Bayar Kami dengan Doa”.

“Jadi kalau sudah ada yang seperti itu saya bilang pelan-pelan ‘ambil saja secukupnya, masih banyak yang belum dapat’ lalu ‘bayar kami dengan doa saja’. Alhamdulilah sekali diberi tahu, bisa langsung dipahami,” papar perempuan kelahiran 1971 ini.

Untuk menentukan lokasi pembagian pun, Yuyun dan teman-teman relawan dan komunitas melakukan survei terlebih dahulu. Jadi harus dipastikan lokasi yang dituju benar-benar dikelilingi orang yang membutuhkan. (Sisca Angelina/van)

artikel Pilihan