Asesmen Masa Depan

NewMalangPos – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi memiliki program pengganti Ujian Nasional yaitu Asesmen Nasional 2021, yang semula direncanakan pelaksanaannya pada bulan Maret tahun 2021.

Kemudian mengalami perubahan jadwal untuk Sekolah Menengah Pertama akan dilaksanakan pada bulan Oktober tahun 2021. Sebelum sampai pada pelaksanaan peserta didik yang terpilih harus mengikuti simulasi dan gladi bersih.

Apa itu Asesmen Nasional 2021?. Asesmen Nasional 2021 menurut Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Anwar Makariem adalah pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program kesetaraan jenjang sekolah dasar dan menengah, yang terdiri dari tiga bagian. Yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar, seperti dikutip dari laman kemdikbud.go.id.

Asesmen seharusnya dilaksanakan sepanjang tahun, sebagaimana yang disampaikan oleh Bukik Setiawan, Pemikir #MerdekaBelajar dan Ketua Yayasan Guru Belajar. Mengapa harus sepanjang tahun?. Karena menurut Bukik, asesmen adalah hal penting. Asesmen bukanlah penilaian, penilaian selalu dilakukan untuk melakukan evaluasi sebuah pembelajaran yang dilakukan di akhir sebuah pembelajaran. Asesmen bisa dilakukan sepanjang proses pembelajaran.

Baca Juga :  UTBK Berkomitmen Perketat Protokol Kesehatan

Asesmen membantu para pendidik untuk mengetahui kualitas pembelajaran yang dilakukan. Asesmen bisa dilakukan dengan tiga cara, yaitu asesmen diagnostik kognitif dan non kognitif, asesmen formatif dan asesmen sumatif. Asesmen diagnostik adalah asesmen yang mengukur kompetensi dan mengukur kebutuhan peserta didik terkait capaian kurikulum.

Asesmen formatif adalah asesmen yang mengukur strategi belajar, cara berpikir dan tantangan belajar peserta didik, serta menentukan langkah belajar selanjutnya. Sedangkan asesmen sumatif adalah asesmen yang mengukur penguasaan dan penerapan hasil belajar oleh peserta didik terkait pencapaian kurikulum.

Lalu apa perbedaan asesmen masa lalu dan asesmen masa depan?. Bukik Setiawan menyampaikan pendapatnya melalui akun instagramnya. Pada masa lalu tidak terdapat asesmen diagnostik baik kognitif dan non kognitif sebelum pembelajaran dimulai, tidak ada asesmen formatif, asesmen sumatif seringkali di sepanjang pembelajaran. Tidak ada refleksi dan umpan balik berdasarkan hasil asesmen, perbaikan setelah asesmen sumatif, dan pandangan bahwa asesmen itu menakutkan.

Baca Juga :  Produk Hukum Yang Hebat

Pada masa depan, asesmen diagnosis dilakukan sebelum masa pembelajaran, asesmen formatif lebih sering dilakukan, asesmen sumatif dilakukan pada akhir masa pembelajaran. Refleksi berkala dan umpan balik berdasarkan hasil asesmen, perbaikan berkala setelah asesmen formatif, dan akan muncul pandangan bahwa asesmen itu mengasyikkan.

Peserta didik mengalami proses pembelajaran tidak hanya terbatas pada tatap muka kelas, dalam kehidupan sehari-hari peserta didik sebenarnya juga mengalami pembelajaran. Hal ini bisa kita manfaatkan sebagai bahan belajar, karena dekat dengan kehidupan sehari-hari dan dekat dengan kehidupan peserta didik. Begitu juga dalam asesmen formatif, bentuk dan macam asesmen menyesuaikan masing-masing karakteristik mata pelajaran. Tidak dibatasi dengan pilihan ganda, isian dan essay, atau harus mengerjakan di atas kertas. Bisa menggunakan google form, quizziz, kahoot atau aplikasi lain yang menarik.

Baca Juga :  Membangun Ekosistem Bisnis Studentpreneur

Cara menanggapi kebijakan tentang asesmen ini juga mendapat respon yang bermacam-macam. Ada yang masih memposisikan bahwa asesmen ini layaknya pengganti ujian nasional, begitu juga cara mempersiapkan peserta didik dalam menghadapinya. Ada juga yang mulai perlahan membuka diri untuk mencari berbagai informasi tentang pelaksanaan asesmen nasional.

Pelaksanaan asesmen nasional juga tidak diberlakukan kepada semua peserta didik dalam satu jenjang. Asesmen nasional ini hanya dilaksanakan oleh peserta didik kelas VIII untuk jenjang SMP. Misalnya seperti SMP Negeri 04 Batu dari peserta didik berjumlah 222 orang, hanya 45 peserta didik saja yang akan melaksanakan Asesmen Nasional.

Untuk mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi asesmen nasional, sekolah tidak perlu melaksanakan drilling atau pembimbingan khusus, seperti bimbingan belajar pada saat ujian nasional. Lalu apa yang harus dipersiapkan sekolah untuk menghadapi asesmen nasional? Di antaranya adalah mengubah strategi pembelajaran yang bisa mengembangkan kemampuan potensi peserta didik.

artikel Pilihan