Arsitektur Rumah Tinggal Islami

5
Ir. Budi Fathony, MTA Arsitektur ITN Malang

NewMalangPos – Seringkali karya arsitektur tidak cocok untuk suatu tempat cenderung dipaksakan dengan lingkungan yang ada, bahkan merubah tata ruang kawasan, kasus ini sering kali muncul di sekitar kita pada bangunan berskala kecil maupun besar.

Sebaiknya  arsitek mampu membaca latar belakang sosial dan budaya, pemilik dapat menyampaikan informasi sejelas-jelasnya dengan konsep pada surat Al-Alaq ayat 1 ”Iqro’ bismi-robbikal ladzii khalaq artinya Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.

Arsitek dan pengguna mempunyai persepsi yang beda, diharapkan arsitek mampu menjadi komunikator yang baik, untuk dapat menghasilkan suatu karya baik pula. Kebanyakan manusia sebagai pemilik dan pemakai adalah berpikir secara verbal, hanya menilai obyek pada segi estetika saja. Sedangkan arsitek selalu menggunakan bahasa gambar sebagai wujud akhir disain agar lebih mudah dicerna.

Allah SWT selalu mengingatkan pada surat Al-Alaq ayat 5. “Allamal insaanaa maa lam ya’lam. Artinya Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui(nya).Disadaribahwa manusia sebenarnya tidak mempunyai kemampuan jika Allah SWT tidak memberikan Petunjuk-Nya (Al-Alaq ayat 2) “Khalaqal insaana min alaq artinya Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Lingkungan yang baik tentunya akan menghasilkan perilaku manusia yang baik pula, dapat memberikan rasa aman dan nyaman secara psikologi demikian sebaliknya. Peran arsitek ternyata tidak cukup sekadar dapat melakukan tahap proses hingga terwujud, tetapi selama bangunan masih berfungsi, kokoh adalah menjadi tanggung jawab arsitek.

Sebagai home base, rumah tinggal mempunyai makna sebagai wadah qolbu dalam rumah tangga yang berfungsi tempat menenangkan jiwa, hati, dan raga manusia. Tata ruang dalam dapat mencerminkan nilai-nilai hidup untuk selalu berupaya menjaga dan memperindah lingkungannya, baik fisik maupun spiritualnya, baik yang menyangkut tata cara, cita-cita dan nilai-nilai budaya Islami.

Rumah tinggal bagian dari arsitektur yang oleh manusia dibangun melalui proses budaya yang dimiliki. Proses tersebut menunjukkan pula bahwa rumah tidak tumbuh dengan sendirinya melainkan oleh manusia yang mendapat akhlaq dengan moral yang baik dari Allah SWT. Hal ini yang mendasari proses rancang tumbuhnya rumah tinggal bagi manusia dengan segala penutup auratnya.

Kebutuhan akan papan adalah penting di samping kebutuhan sandang dan pangan yang tidak dapat dipisah. Karena rumah tinggal sebagai tempat pertemuan anggota keluarga suami, istri dan anak-anaknya. Tempat peristirahatan mencari ketenangan lahir batin yang memiliki kehormatan sesuai dengan ajaran syariat dan tempat untuk mencari ridho melalui ibadah kepada Allah SWT.

Perencanaan bangunan selalu berbicara tentang konsep ruang dan massa bangunan. Rupanya sejak filsuf Lao-Tzu dan Plato memulai memasalahkan konsep ruang dan konsep massa bangunan, sejak itu  perbedaan pendapat itu selalu diperhatikan dengan teliti oleh arsitek.

Lao-Tzu bertolak pada dasar TAO (The way of becoming) yang menekankan bahwa “yang tiada itu, adalah utama dalam membuat sesuatu bentuk nyata”, sedangkan Plato mendasarkan filsafatnya pada kenyataan bahwa “hanya sesuatu yang dapat diraba yang dianggap nyata” ini menjadi pertentangan antara filsafat timur dan barat.

Sebagai masyarakat Timur dan Islami tentunya dapat menerapakan konsep tersebut di atas bahwa “yang tiada itu UTAMA.” justru Allah SWT selalu ada yang lebih dekat dan memiliki ruang di segala tempat melalui akal, qalbu dan raga yang diciptakan untuk menggerakkan setiap langkah manusia.

Penataan ruang dalam adalah utama ditinjau dari segi hirarki dan karakter di antaranya (hal ini sama sekali tidak ada hubungan dengan fengsui atau hongsui!, karena bukan faham Islami, walaupun sebagian orang Islam masih menganut ini).

Bahkan belum terpikirkan dari segi perawatan, penempatan material bangunan diharapkan tidak mengganggu halaman orang lain atau fasilitas umum, perlunya proses izin tetangga kiri-kanan dan muka-belakang guna menjaga ketenteraman bermasyarakat.

Islam tidak bertentangan dengan apa yang telah dicapai oleh perkembangan Ipteks tentang seni arsitektur. Bahkan Islam menuntut tiap muslim agar mengikuti teknologi dan syarat-syarat ilmiah dan alamnya bagi pembangunan untuk mengamankan dan menyenangkan bagi penghuninya.

Posisi letak bangunan sangat berpengaruh terhadap kondisi udara di dalam ruang, pada disain tata ruang dalam tentunya tidak sama dengan posisi arah orientasi bangunan ke arah utara, selatan, timur dan barat.

Dalam perencanaan bangunan sebaiknya diperhatikan: Pertama, Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kenyaman dan kemampuan mental dan fisik penghuni: radiasi matahari, kesilauan, temperatur dan perubahan temperatur, curah hujan, gerakan udara, pencemaran udara.

Kedua, Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keselamatan bangunan: gempa bumi, badai, hujan lebat dan banjir, gelombang pasang. Ketiga, Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kerusakan bangunan dan pelapukan bahan bangunan lebih awal: faktor-faktor pada butir (kedua), intensitas radiasi matahari yang kuat, kelembaban udara dan kondensasi yang tinggi, badai debu dan pasir, dan kandungan garam dalam udara.

Demikian halnya rumah merupakan nikmat Allah SWT, ketenangan jiwa merupakan tujuan adanya tempat tinggal dengan perencanaan tata ruang dalam yang terkait dengan kebutuhan ruang karena jumlah anggota keluarga. Pilihan jumlah perabot dan peralatan rumah tangga juga untuk menunjang kesenangan dan ketenangan. Bisakah ketenangan atau ketenteraman tampak bila di dalamnya banyak percekcokan dan permusuhan, atau terisi oleh tata cara jahiliyah?.

Agar dapat diterima secara universal maka perlu diperhatikan: Pertama, Menyesuaikan antara wujud tampang bangunan (gaya arsitektur) dengan disain tata ruang dalam, sehingga suasana ruang dalam akan menyatu dengan pilihan model perabotan. Kedua, Berlebihan pada tampilan ruang dalam karena tidak terencana dengan baik, karena sewaktu-waktu jika bosan mudah dirubah. Ketiga, Terdapat beberapa rancangan perabotan dari merek yang terkenal, ternyata kurang nyaman pada ukuran dengan besaran ruang. Keempat, Ketergantungan pada produk serba mekanis, sehingga terjadinya krisis energi yang sebenarnya untuk kenyamanan semata.

Harapan wujud rumah tinggal secara arsitektur Islami antara lain, orientasi atau sumbu imajiner tempat salat diutamakan menghadap QIBLAT, sehingga garis tersebut siku 90 derajat terhadap perencanaan tata ruang dalam rumah tinggal. (Yunus ayat 87 ”…dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat untuk salat…”; ).

Setiap mengawali pada semua aktifitas lakukan do’a dan rumah selalu digunakan untuk salat berjama’ah sekeluarga.(*)