Apa Kabar Proyek Pemindahan Ibu Kota?

Ilustrasi: kepala Bappenas Suharso Manoarfa Menyebutkan proyek ibu kota baru (foto: CNN Indonesia/ Yullyana Fauzi)

Jakarta, NewMalangPos– Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menyatakan proyek  Pemindahan ibu kota negara alias IKN dari Jakarta menuju Kalimantan Timur akan tetap berjalan bertahap.

Suharso mengatakan Gedung Istana Negara akan dibangun mulai tahun ini juga. Pemindahan baru dilakukan per tahun 2024 karena untuk saat ini pemerintah masih fokus melakukan penanganan pandemi COVID-19 dan upaya pemulihan ekonomi.

“Kita optimistis, mudah-mudahan Istana Presiden bisa di-ground breaking (mulai dibangun) pada tahun ini,” ucap Suharso saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR, Rabu (17/3).

Baca Juga :  Seruan Jokowi Gaungkan Benci Produk Asing Dianggap Paradoks

“Maka tanggal 17 Agustus 2024 itu, Presiden bisa melaksanakan peringatan 17 Agustus di ibu kota negara yang baru,” imbuhnya.

Selanjutnya, beberapa proyek lain yang terkait ibu kota negara baru juga akan dilakukan pada tahun ini. Namun, ia belum menyebut lebih rinci.

Yang pasti, Suharso menekankan proyek ibu kota negara baru tetap berjalan pada tahun ini karena bisa memberi daya ungkit ke perekonomian nasional. Khususnya, di wilayah Indonesia timur dan nasional secara keseluruhan.

“Utamanya, sektor konstruksi, real estate, konsumsi. Jadi, memang diperlukan sebuah proyek besar untuk menarik dan mendorong agar tingkat pertumbuhan (ekonomi) kita bisa lebih tinggi sampai rata-rata pada 2045,” jelasnya.

Baca Juga :  PBNU dan MUI Serukan Umat Ikut Vaksinasi Covid-19

Saat ini, menurut hitung-hitungan Suharso, bila proyek ibu kota negara baru tetap berjalan pada tahun ini, maka bisa menyumbang ekonomi sekitar 1,8 persen sampai 2,2 persen terhadap pertumbuhan Indonesia.

Kendati begitu, Suharso tak menampik bahwa daya dorong proyek ibu kota negara baru ke perekonomian tetap butuh faktor pendamping, yaitu pelaksanaan program vaksinasi nasional. Khususnya agar target vaksin ke 70 juta orang atau 39 persen dari estimasi 181,5 juta orang tercapai.

“Kalau itu terjadi, akan ada pull factor (faktor penarik) di dalam ekonomi kita dan orang akan trust (percaya). Kemudian, sektor-sektor lain akan ikut dengan sendirinya,” pungkasnya. (uli/bir/cnni/mg2/ggs/nmp)