Antisipasi Memasuki Kemarau, DTPHP Imbau Tidak Tanam di Awal Musim

Foto: Ilustrasi tanam padi. (ipung)

Malang, NewMalangPos – Pemerintah Kabupaten Malang berupaya mengantisipasi musim kemarau dan mengamankan produksi tanaman pangan di musim tanam III tahun 2021. Pasalnya, berdasarkan informasi dari pihak Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), awal musim kemarau berlangsung di sebagian wilayah Jawa pada Mei 2021.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang Budiar Anwar menerangkan, ada upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi musim kemarau agar produksi pangan tidak terganggu. Salah satunya adalah pengaturan irigasi untuk mengantisipasi kekeringan.

“Untuk antisipasi kita sudah bekerjasama dengan dinas PU SDA juga Balai besar Provinsi untuk pembangunan saluran irigasi dan pengairan sawah juga bagi lahan yang baru dibuka,” terangnya, Kamis (6/5).

Baca Juga :  Resmi! Pemerintah Larang Mudik Lebaran 2021

Dia mengatakan, musim kemarau saat ini masih terdapat sedikit curah hujan. Namun, menurutnya musim tanam saat ini telah selesai.

“Musim kemarau di bulan Mei ini tidak sepenuhnya musim kemarau, masih ada curah hujan walaupun tidak banyak, Waktu tanam sebenarnya sudah selesai, sekarang menunggu pertumbuhannya sampai panen,” ujarnya.

Ia memberi arahan pada para petani agar tidak menanam di awal musim kemarau untuk mengantisipasi terjadinya kekeringan dan menurunnya hasil panen.

“Kami sarankan jangan menanam di awal musim kemarau, karena kesulitan tumbuh disebabkan kekurangan air. Khususnya sawah dengan irigasi non teknis, beberapa di antaranya tadah hujan seperti tanaman jagung. Harusnya sekarang usia dua bulan bulan depan tinggal panen,” tuturnya.

Baca Juga :  Siapkan Masa Depan Jadi Pelatih

Usai kunjungan Presiden beberapa waktu lalu di Kabupaten Malang untuk meninjau panen raya, ia mengatakan bahwa hasil panen saat ini merupakan sisa tanam akhir tahun.

“Panen raya itu sisa tanam akhir tahun kan masih musim penghujan,” ungkapnya.

Ia berujar sebanyak sekitar 40.000 petak sawah merupakan sawah irigasi teknis. Ia menyebut saat ini ada surplus yang tak sedikit.

Hal ini menjadi kabar baik bagi masyarakat karena harga bahan pokok diperkirakan tidak akan mengalami kenaikan signifikan.

“Sawah irigasi teknis kita 40.000 ribu, sedangkan hasil produksi di 2020 itu 307.000 ton gabah kering giling, Kemudian surplus beras kita 72000 ton,” rincinya.

Baca Juga :  Sama-Sama Door To Door

Ia menyebut, harga gabah saat ini berkisar Rp 4400 hingga Rp 4600 per kilogramnya. Hal ini dirasa lebih tinggi dibanding HPP (Harga Pembelian Pemerintah) rata-rata yakni Rp 4200 per kilogramnya

Dirinya berharap, agar petani tetap bersemangat dalam budi daya tanaman pangan. Hal ini dikarenakan Kabupaten Malang dan Jawa Timur merupakan lumbung penghasil padi.

“Ke depan, petani tetap semangat menanam tanaman pangan, karena kita ini kan lumbung pangan khususnya. Jadi dikhawatirkan kekurangan suatu saat, namun bantuan pusat tetap kita butuhkan,” tutupnya. (tyo/ley)