Antisipasi Fomo Saat Daring

40

NewMalangPos – Pembelajaran yang dilaksanakan secara daring selama pendemi ini menuai dilema para orang tua dan guru. Dulu, orang tua dan guru sering memotivasi siswa untuk menggunakan gadget dengan bijak bahkan sangat membatasi screen time tersebut. Kini ironi justru sekolah dan kegiatan pembelajaran sangat bergantung alat canggih tersebut. Kebaikan dan dampak negatif alat komunikasi ini bagai sisi mata uang yang tak terpisahkan. Terlepas dari manfaat besar penggunaan bijak gadget dalam mencari informasi dan belajar, gadget memiliki pengaruh negatif tak terelakkan bagi para penggunanya.

          Selain ketagihan bermain game dan menghabiskan banyak waktu untuk itu, gadget untuk bermedia sosial juga memiliki dampak negatif yang tak kalah memprihatinkan. Salah satu dampak yang mungkin dialami para siswa selama daring ini adalah perasaan cemas jika tertinggal informasi dan apa saja pada sosial media.

          Kecemasan tersebut diistilahkan sebagai Fear of Missing Out (FoMO). Dampak ini tak banyak diketahui baik oleh orang tua maupun guru. FoMO adalah sebuah kecemasan yang timbul karena takut ketinggalan trend yang ada saat ini. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hamutoglu dkk, FoMO memiliki korelasi positif dengan tingginya tingkat penggunaan sosial media.

          Semakin seseorang aktif pada media sosial dan mengikuti kabar orang lain semakin dia merasa tidak puas akan dirinya. Merasa tertinggal atau tidak bisa melakukan apa yang orang lain telah alami. FoMO yang berlangsung terus menerus dapat menyebabkan stres hingga depresi.

          FoMO yang terjadi pada siswa bisa tentang tidak up to date akan hal-hal yang tampaknya sederhana. Seperti menulis status di WhatssApp, game populer di kalangan teman sebaya, boy band dan girl band korea, tiktok, youtube channel hingga pada gaya hidup. Hal ini bisa dicermati dari apa yang sedang mereka perbincangkan pada media sosial.

          FoMO terjadi berawal dari seringnya mereka mengamati bahkan mencermati apa yang sedang orang lain perbincangkan atau sibukkan. Sebagai contoh, Sari yang tidak tahu apa-apa tentang boyband Korea BTS  tiba-tiba menjadi perlu untuk melihat dan mengikuti beritanya karena melihat status teman di WhatssApp dan perbincangan mereka di group.          Sari menjadi merasa butuh untuk mengindolakannya tanpa sebenarnya suka. Sari khawatir tidak nyambung dengan obrolan teman dan dianggap kuno. Sebagai guru dan orang tua, ada beberapa hal yang wajib kita lakukan untuk membersamai anak dan remaja yang tak lepas dari gadget ini.

          Mengetahui Interest Anak

          Mengetahui kesukaan dan kecenderungan anak adalah salah satu jalan mulus untuk masuk ke dunia mereka. Dengan mengetahui apa yang sedang mereka gandrungi, orang tua dan guru bisa ikut nimbrung dan sesekali memberikan batasan atau nasihat tanpa mereka sadari. Orang tua dan guru perlu meluangkan waktu untuk mengetahui kesukaan mereka demi menjalin komunikasi yang hangat dan terbuka.

          Kurangnya pengetahuan orang tua dan guru tentang idola dan kesukaan anak membuat cara menasihati menjadi kaku dan terkesan melarang. Untuk anak laki-laki kesukaan mereka adalah game-game online yang menantang seperti Mobile Legend, Free Fire, Roblox, Among Us, dan masih banyak yang lain.

          Walau tidak semua, anak perempuan umumnya menyukai boyband dan girl band korea seperti BTS, Coldplay, Blackpink, dan Red Velvet. Tidak bisa dipungkiri bahwa itulah yang disukai dan diidolakan kebanyakan anak-anak kita. Komunikasi yang kaku hanya akan membuat orang tua dan guru kehilangan peran dalam mengontrol kesukaan mereka.

          Setelah mengetahui kesukaan anak, orang tua dan guru mampu membangun komunikasi yang baik dan lebih gayeng. Pada saat itulah guru dan orang tua berkesempatan untuk menanamkan budi pekerti. Berkomunikasi dari hati ke hati ketika anak-anak atau remaja kita sedang melakukan kesalahan adalah hal terbaik yang bisa dilakukan untuk tetap mendidik tanpa melukai.

          Betapa banyak kasus kenakalan dan depresi anak dan remaja terjadi karena kurangnya komunikasi yang baik dari orang tua dan guru. Dengan berkomunikasi yang baik, anak diharapkan lebih terbuka, mampu introspeksi diri dan bahkan mungkin menentukan jalan keluar dari masalahnya sendiri.

Menentukan Kesepakatan

Setelah mampu menjalin komunikasi yang baik, orang tua dan  guru memiliki andil yang besar dalam mengarahkan anak membuat kesepkatan penggunaan gadget, baik penggunaannya untuk bermain game maupun bermedia sosial. Orang tua dan guru harus menyampaikan bahwa kesepakatan yang dibuat adalah untuk membangun kedisiplinan diri dan bukan untuk menghukum.

Kesepakatan penggunaan gadget bertujuan memberikan batasan penggunaan secara sadar bukan atas keterpaksaan dan otoritas orang tua ataupun guru. Kesepakatan tersebut bisa berupa jadwal penggunaan, akses yang bisa dibuka, aplikasi pilihan dan durasi penggunaan setiap kali memakai gadget. Kesepakatan bisa berubah sesuai dengan keadaan kemudian jika diperlukan.

Mengalihkan Perhatian Temukan Bakat

Anak dan remaja generasi milenial ini memang tidak akan terpisahkan dari teknologi yang terus berkembang. Menutup akses penggunaan gadget di era digital ini sama saja mengosongkan air dari kolam ikan. Namun demikian, pengaturan penggunaan alat komunikasi tersebut sangat bisa disiasati dan dialihkan.

Anak dan remaja banyak menghabiskan waktu dengan gadget karena kegiatan tersebut menyenangkan dan membuat mereka bahagia. Mengalihkan anak dari gadget adalah upaya untuk mencari aktivitas lain yang sama menyenangkannya. Oleh karena pilihan kegiatan harus disetujui betul oleh anak. Pilihan kegiatan pengganti bisa didiskusikan bersama-sama, seperti berkebun, berenang, olah-raga, berkarya, bermain musik, bernyanyi, menjadi youtuber dengan konten edukasi dan beberapa hal positif lainnya.

Selain menyenangkan, kegiatan tersebut juga mampu memupuk kreativitas mereka. Jika ditekuni, tak heran jika di kemudian hari akan lahir musisi-musisi handal, youtuber profesional, atlet berbakat, dan masih banyak lagi profesi membanggakan lainnya yang bermula dari perhatian orang tua menyediakan aktivitas tambahan.(*)