ANTI KLIMAKS

MALANG, NewMalangPos – Anti Klimaks! Ya, saat Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan, Senin (16/8) malam kembali mengumumkan perpanjangan PPKM Level hingga 23 Agustus 2021, masyarakat sudah bisa menebak. Termasuk di Malang Raya. Sudah tidak ada greget, tidak ada rasanya.

          Sudah jenuh, bahkan nyaris sudah tidak peduli dengan PPKM. Tidak pedulinya bukannya tidak mau patuh. Tapi masyarakat butuh suasana baru. Suasana yang merdeka. Merdeka dari Covid-19 dengan prokes ketat. Karena bagi masyarakat secara umum, pemberlakuan PPKM atau tidak, Diperpanjang atau Tidak, masyarakat sudah paham pentingnya Protokol Kesehatan.

          Kebutuhan masyarakat sekarang adalah bisa Vaksinasi dan hidup kembali dengan herd immunity. Masyarakat sudah sangat paham pentingnya vaksinasi. Buktinya, dimanapun ada program vaksinasi, selalu kuotanya habis sebelum pendaftaran ditutup. Saat ini semua elemen masyarakat, dari segala lapisan berebut menggelar vaksinasi. Masyarakat pun dengan sangat sadar antusias mengikuti vaksinasi.

          Makanya, PPKM yang secara umum hanya fokus pada pembatasan agar penularan Covid-19 tidak makin menyebar, sudah seharusnya diakhiri. Kenapa? Ada pertanyaan-pertanyaan yang mengemuka pada masyarakat soal teknis dan eksekusi di lapangan. Antara aturan dan penegakan di lapangan yang tidak sesuai dan cenderung hanya formalitas saja.

          Sejak PPKM Level diberlakukan di Malang Raya, pengetatan tidak dilakukan dengan sempurna. Kenapa? Jawabannya untuk melakukan pengetatan secara maksimal dan total dibutuhkan personel dalam jumlah besar dan ketahanan yang super prima. Dibutuhkan biaya yang super besar juga.         Pertanyaanya, apakah negara sudah mencukupi kebutuhan dana untuk penegakan pengetatan PPKM itu? Apakah operasi besar besaran yang dilakukan aparat gabungan itu dananya dianggarkan oleh negara? Kalau tidak, maka wajar jika penegakan di lapangan hanya dijalankan setengah hati. Kadang serius sekali, kadang justru dilonggarkan dan berjalan apa adanya.  

Baca Juga :  Gubernur Jatim Resmikan Isi Ulang Oksigen Gratis

          Secara logika, siapa yang bisa bertahan menjaga di jalan raya berhari-hari dan berbulan-bulan? Apalagi kalau dituntut melakukan operasi selama 24 jam? Belum fakta jumlah personel kepolisian, dishub, satpol PP, TNI dan aparat gabungan lainnya juga sangat terbatas.

          Belum faktor kelelahan dan factor rentannya mereka terpapar Covid-19 dari para pengendara yang diperiksa. Karena faktanya, virus ini susah dideteksi, tidak diketahui pasti dia nempel atau menyerang siapa saja. Tidak terbatas di ruang tertutup atau terbuka. Yang sudah divaksinasi saja juga bisa kena lagi. Aparat juga manusia yang bisa lelah dan punya batasan-batasan kondisi fisiknya.   

          Mereka, aparat aparat itu juga tidak hanya mengurusi pengetatan wilayah saja, tapi harus fokus mengurusi jumlah korban Covid-19 yang bertambah tiap hari, jumlah korban yang sembuh, dan jumlah korban yang meninggal.

          Data-data itu juga harus dilaporkan dengan system yang sudah disiapkan. Tidak boleh salah melaporkan. Tidak boleh ada kekeliruan karena bisa sangat berdampak pada status zona wilayah. Jangan sampai yang zonanya orange, karena salah sata bisa menjadi Zona Merah. Begitu sebaliknya.

          Di samping itu, aparat juga harus fokus mengurusi vaksinasi yang harus digenjot karena mengejar target 70 persen untuk bisa herd immunity. Bisa dibayangkan betapa lelah dan melelahkan segala yang harus diurusi oleh kita semua saat ini. Karena itu, sementara hal yang paling mendasar, masyarakat butuh sehat dan butuh makan.

Baca Juga :  Dinkes Kota Malang Petakan Risiko Ibu Hamil

          Maka saat ini yang harus didorong oleh semua pihak adalah menyegerakan vaksinasi di semua lini. Termasuk menggenjot vaksinasi pelajar. Harapannya, di bulan Agustus ini semua sudah mendekati target vaksinasi secara nasional. Kalau pun tidak, bulan Agustus adalah akhir dari segala macam aturan PPKM.

          Tidak ada lagi PPKM lanjutan yang justru kontraproduktif dengan semangat ingin sehat yang dilakukan masyarakat. Semakin banyak yang sudah melakukan vaksinasi, maka diharapkan situasi Covid-19 perlahan mereda, terus menurun angka kasusnya dan pelan-pelan hilang dari bumi tercinta. Kalau pun masih ada, sudah ada obat penangkalnya.

          Semoga, di sisa Agustus ini, semua urusan masing-masing pemerintah kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang dipermudah. Semua program vaksinasi yang direncanakan bisa lebih dipercepat. Vaksinasi pelajar sesuai target yang ditentukan dan di akhir Agustus nanti semua sudah siap semua menatap masa depan: Hidup normal dengan Covid-19.

          Liga 1 benar-benar bisa digelar tepat 27 Agustus 2021 dan menjadi sirine bahwa Kemerdekaan dari Covid-19 dimulai di Bumi Indonesia, termasuk di Malang Raya. Perlahan sekolah tatap mulai digelar, perlahan kampus sudah kembali bergairah, bisnis mengalir dan menemukan jalan mulusnya kembali, dan suasana masyarakat makin kuat dan tangguh.

Baca Juga :  Pengedar Sabu Purwodadi Ditangkap di Lawang

          Seperti semangat HUT ke 76 RI, Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh. Masyarakat juga tumbuh semangatnya untuk bekerja secara normal, para mahasiswa dan siswa serta guru kembali belajar dan mengajar dengan asyik, serta kehidupan sosial kembali menemukan ritme dan dinamikanya yang indah.

          Saya jadi teringat puisi berjudul Jangan Teriak Merdeka: Malu Kita karya Dr. Ahmad Sastra, Pakar Filsafat Bogor yang ditulis 3 Agustus 2019 lalu pukul 22.44 WIB. Saya tidak akan menuliskan secara lengkap. Tapi saya akan potongkan saja kalimat yang bisa jadi bahan renungan kita bersama.

          Negeri katulistiwa ini dihampari kekayaan alam yang luar biasa
          Namun dikelola dan dimiliki negara lain
          Membiarkan sumber daya alam milik rakyat dirampok      penjajah
          Rakyat tidak pernah bisa menikmatinya
          Jika kekayaan alam ini belum bisa dikuasai negara
          Jika penjajah aseng dan asing belum diusir dari negeri ini
          Jangan teriak merdeka !
          Lebih baik diam dan berfikir
          Malu kita !

          Kemiskinan dan pengangguran semakin meluas
          Terasa berat untuk bisa hidup layak
          Bahkan harga-harga terus merangkak naik
          Ditambah pajak yang kian mencekik
          Jika masih meluas kemiskinan dan ketidakadilan
          Jangan teriak merdeka !
          Lebih baik diam dan berfikir
          Malu kita.

          ……..

          ………..

          Malu kita
          Malu kita
          Tak berdaya
          Tak kuasa
          Lumpuh di ketiak penjajah

          Malu kita……(*)



Pilihan Pembaca