Idea Anak Pak Lurah

Anak Pak Lurah

NewMalangPos – Di Amerika keluarga presiden disebut sebagai The First Family, Keluarga Utama. Sebutan ini menjadi sebutan resmi di semua kesempatan resmi. Media pun memakai sebutan itu untuk merujuk kepada keluarga presiden.

Di Indonesia tidak ada sebutan seperti itu. Dalam berbagai kesempatan resmi keluarga presiden disebut sebagai keluarga presiden saja tanpa sebutan khusus. Media di Indonesia juga tidak punya sebutan khusus kepada keluarga presiden. Baru beberapa waktu belakangan ini muncul istilah “Pak Lurah” di media, untuk merujuk kepada Presiden Jokowi. Itu pun ada nada pejoratif dan konotatif.

Sebutan “Anak Pak Lurah” diatribusikan kepada Gibran Rakabuming Raka, anak mbarep Presiden Jokowi, yang sekarang menjadi walikota Solo. Ketika itu ada dugaan Si Anak Pak Lurah mendapat aliran dana dari proyek bansos yang bermasalah di KPK.

Sejak itu sebutan Pak Lurah dan Anak Pak Lurah menjadi kosakata baru politik Indonesia dan sering dipakai dalam banyak kesempatan. Kiprah anak-anak Presiden Jokowi pun diasosiasikan dengan Anak Pak Lurah.

Kaesang Pangarep, anak ragil Pak Lurah juga sering menjadi perbincangan karena berbagai aktivitasnya. Ia sempat viral karena putus pacaran. Dan sekarang Kaesang jadi pembicaraan karena resmi menjadi owner Persis Solo setelah mengakuisisi saham mayoritas klub profesional yang berlaga di Liga 2 PSSI itu. Kaesang menjadi pemegang saham bersama Erick Thohir yang kelihatannya ditugasi Pak Lurah untuk menjadi mentor bagi Kaesang. Mungkin sebentar lagi publik bola bisa melihat logo salah satu perusahaan BUMN menempel di jersey Persis Solo sebagai sponsor utama.

Bersama Erick Thohir Kaesang pasti aman mengelola Persis. Erick memang pendekar dalam manajemen olahraga profesional. Kelasnya sudah level dewa, sudah pernah mengelola klub Serie A Inter Milan dan punya saham di klub basket profesional NBA Philadelphia 76-ers.

Klub-klub Liga 2 yang sudah berancang-ancang booking tempat untuk bisa promosi ke Liga 1, nyuwun sewu, kudu rela minggir dulu memberi jalan untuk anak Pak Lurah dan Persis Solo promosi ke Liga 1. Meskipun kompetisi belum dimulai–atau belum tentu dimulai karena pandemi–tapi desas-desus mengenai klub mana saja yang bakal promosi ke Liga 1 sudah santer terdengar. PSSI sudah menyiapkan dua slot untuk promosi ke Liga 1. Tapi kalau ada pembooking baru, bisa saja PSSI mengubah aturan dan menyiapkan tiga slot untuk promosi ke Liga 1.

Suporter Pasoepati Solo yang terkenal fanatik tentu senang mendengar kabar ini. Tapi para suporter mungkin juga bingung karena sebenarnya Solo sudah punya klub sepak bola yang berlaga di Liga 1, yaitu Bhayangkara FC yang musim ini menjadikan Stadion Manahan menjadi home base. Bhayangkara FC menjadi klub nomaden yang nyaris tiap tahun berpindah home base. Kali ini sudah telanjur pindah kos ke Solo dan terpaksa harus berbagi tempat dengan tuan rumah.

Suporter akan terpecah dua, dan akan menarik dilihat mana yang bisa menyedot penonton lebih banyak.

Munculnya Erick Thohir sebagai pengelola klub sepak bola profesional menjadi kabar baik dan kabar kurang baik. Kabar baik karena Erick profesional dan berpengalaman. Kabar kurang baik karena Erick adalah pejabat negara yang mengelola perusahaan negara yang beromset triliunan rupiah.

Keterlibatan Erick menjadi pemegang 20 persen saham bisa menimbulkan konflik kepentingan. Sebagai pejabat tinggi negara Erick harus netral. Sebagai klub profesional Persis Solo adalah perusahaan profesional yang harus dikelola secara mandiri dan transparan.

Dalam akta perusahaan nama Erick tidak muncul tapi diwakili oleh anaknya, Mahendra Thohir. Jadilah duet maut anak Pak Lurah dan Pak Carik di Persis Solo, Kaesang sebagai presiden direktur dan Mahendra sebagai presiden komisaris.

Olahraga Indonesia tidak pernah lepas dari patronase, selalu menempel kepada pejabat birokrasi maupun pejabat politik. Sederet menteri dan pejabat tinggi menjadi ketua organisasi olahraga, bukan karena profesionalitasnya tapi lebih karena akses politik dan dana. Masih sangat jarang klub olahraga di Indonesia yang dikelola secara profesional dan mandiri, lebih banyak yang ngempeng, menyusu, kepada pejabat untuk mendapatkan perlindungan dan akses dana.

Karena itu olahraga selalu rentan terhadap susupan kepentingan politik. Para politisi yang tidak punya kompetensi dalam mengelola klub olahraga ramai-ramai menjadi pengurus klub karena punya target politik.

Patronase olahraga dengan politik adalah fenomena lama era Orde Baru yang keterusan sampai sekarang. Dulu PSSI selalu dipimpin oleh jenderal yang menjadi menteri kabinet atau pemegang jabatan tinggi di pemerintahan.

PBSI yang mengurusi bulu tangkis juga menjadi kapling Angkatan Darat, mulai dari Jenderal Subagio HS sampai Jenderal Wiranto pernah jadi ketua. Bola voli juga begitu, sampai sekarang tetap menjadi onderbouw Polri karena ketua umumnya selalu dari polisi dan para kapolda menjadi ketua di provinsi masing-masing.

Tentu banyak manfaat positif dengan patronase semacam itu, paling tidak ada dana dan fasilitas untuk latihan yang tersedia. Setidaknya juga para atlet bisa mendapat pekerjaan di instansi tempatnya bermain. Perusahaan-perusahaan BUMN selama ini banyak yang yang aktif mengelola klub bola voli profesional yang bertarung di kompetisi nasional Pro Liga. PLN, Bank BNI, Petro Kimia, selama ini terjun mengelola klub bola voli profesional. Tetapi sampai sekarang belum ada BUMN yang langsung mengelola klub sepak bola profesional kecuali Semen Padang. Masuknya Erick Thohir ke Persis Solo mungkin bisa menjadi awal masuknya BUMN mengelola klub sepak bola seperti yang selama ini sudah terjadi di bola voli.

Klub-klub sepak bola profesional Liga 1 di Jawa Timur seperti Arema Malang, Persebaya Surabaya, Persik Kediri, Persela Lamongan, dan Madura United di Madura, sering mengalami kesulitan dalam mencari sponsor. Kiprah Kaesang Anak Pak Lurah yang berhasil menggeret Menteri BUMN masuk sebagai pengelola Persis Solo sangat ditunggu berkahnya oleh pengelola klub dan para suporter.(*)

Hubungi kami
New MALANG POS
Selamat datang di New Malang Pos
Ada yang bisa kami bantu?
Exit mobile version