Akhiri Narasi Sangkal Covid-19

Sugeng Winarno Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM

MALANG, NewMalangPos – Korban masih terus berjatuhan. Situasinya masih tak terkendali. Segala upaya telah dikerahkan pemerintah dan semua pihak sebagai ikhtiar lawan wabah. Di sisi lain, masih banyak narasi yang menyangkal Covid-19. Aneka narasi yang menyatakan tak percaya bahwa Covid-19 itu nyata sangat mengganggu dalam penanganan pandemi ini. Parahnya, beberapa narasi penyangkalan justru ada yang disebarkan oleh kalangan medis.

          Polarisasi informasi masih terus terjadi antara pihak yang percaya sains versus pihak yang menyangkal sains. Pihak yang menyangkal sains terus menggemakan teori konspirasi dan aneka hoaks. Merujuk temuan data dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), sejak awal Januari 2020 hingga Juli 2021 terdapat 1.060 hoaks terkait Covid-19. Beberapa informasi bohong itu justru disebarkan oleh dokter umum, dokter spesialis, dokter hewan, dan apoteker.

          Seperti kasus yang terjadi beberapa pekan lalu. Seorang dokter bernama Lois Owien akhirnya harus dimintai keterangan polisi karena telah mengunggah narasi yang menyesatkan terkait Covid-19. Dokter Lois telah mengunggah narasi di media sosial (medsos) yang menyangkal Covid-19. Dalam narasinya, dokter Lois menyatakan bahwa pasien Covid-19 yang meninggal bukan disebabkan virus, tapi reaksi pemberian berbagai macam obat. Unggahan dokter ini juga jadi trending topic di Twitter yang menyebutkan bahwa tenaga kesehatan sebagai alat propaganda pandemi.

          Dalam wawancara dengan seorang youtuber yang viral lewat platform WhatsApp (WA) beberapa waktu silam, dokter Lois juga menyampaikan bahwa pandemi itu sebenarnya plandemi. Menurutnya, pandemi itu di planning atau direncanakan, yang tujuan akhirnya adalah jualan obat dan vaksin. Terkait vaksinasi, dokter yang mengaku berpraktik sebagai terapis hormon antipenuaan itu juga menolak divaksinasi. Dia juga menyampaikan punya link dan menawarkan diri membantu orang yang butuh sertifikat vaksin tanpa perlu disuntik vaksin.

Baca Juga :  Grow and Glow! Penyemangat NMP Arungi Tahun 2021

          Informasi yang disampaikan dokter yang status keanggotaannya di IDI berakhir sejak 8 Januari 2017 itu menimbulkan keonaran di masyarakat. Tak sedikit orang yang terpengaruh dengan narasi penyangkalan yang disampaikan dokter Lois. Mengingat kapasitasnya sebagai seorang dokter, timbul keyakinan di masyarakat bahwa dia orang yang kredibel bicara soal kesehatan. Tak semua orang mampu menolak informasi terkait Covid-19 terutama yang disampaikan oleh dokter dan tenaga kesehatan (nakes).

          Seperti diberitakan sejumlah media, hoaks yang ditebar dokter Lois Owien memakan korban. Seorang warga Depok misalnya, diberitakan meninggal karena termakan hoaks dokter yang ulahnya telah meresahkan banyak orang itu. Tak sedikit orang yang percaya bahwa pasien Covid-19 mati lebih karena komplikasi obat yang diberikan, sehingga beberapa pasien Covid-19 menolak diberikan pengobatan.

Tolak Info Sesat

          Sejak awal pandemi telah terjadi pro kontra antara pihak yang memihak sains dan menyangkal Covid-19 dari kalangan dokter dan masyarakat awam. Di kalangan medis dan awam pun akhirnya terbelah. Ada yang percaya bahwa pandemi Covid-19 itu nyata, sementara ada sekelompok masyarakat yang menyangkal dengan argumen bahwa pandemi itu rekayasa dan konspirasi dunia. Sikap penyangkalan pada Covid-19 menjadikan sekelompok orang abai dan tak patuh pada protokol kesehatan (prokes).

Baca Juga :  13 Koridor Operasi Transjakarta Dihentikan Demi Kelancaran KTT ASEAN

          Beragam narasi terkait pandemi Covid-19 terus diproduksi dan diviralkan oleh sejumlah pihak. Situasinya semakin sulit terkendali karena saat ini siapa saja bisa dengan gampang mengunggah narasi terkait pandemi. Melalui beragam platform medsos informasi datang dan mengalir tak terbendung, menerpa masyarakat yang belum punya literasi Covid-19 yang memadai. Kekuatan medsos memasilitasi penggunanya bebas mengunggah konten (user generated content), menjadikan narasi apapun cepat menyebar dan viral.

          Informasi yang benar dan yang abal-abal menjadi sulit dipilih dan dipilah. Tak jarang justru informasi yang keliru tampil sangat meyakinkan karena sang penyampai pesan (komunikator) tampil layaknya orang yang benar-benar kredibel di bidangnya. Informasi palsu dan menyesatkan akhirnya justru yang banyak digugu dan ditiru masyarakat. Di internet dan medsos, kebenaran dan kepalsuan itu telah berpadu dan sulit dipilah untuk ditemukan yang benar-benar layak dipercaya.

          Penanganan pandemi menjadi semakin rumit karena munculnya informasi bohong dan menyesatkan. Di saat pandemi belum terkendali, saat ini serangan infodemi juga tak kalah ganasnya. Kini kita tak hanya sedang berperang melawan pandemi tetapi juga infodemi. Badai duodemi yang melanda negeri ini butuh solusi medis lewat beragam ikhtiar memutus rantai penularan virus dan solusi non medis guna memutus infodemi yang dampaknya dapat menggagalkan penanganan pandemi.

Sikap Kritis

          Sikap kritis masyarakat saat bermedia penjadi penting. Masyarakat harus punya kemampuan menolak terhadap narasi keliru dan menyesatkan. Kemampuan cakap digital menjadi penting terutama dalam mencerna beragam informasi yang lewat internet dan medsos. Melalui medium digital kebenaran menjadi sulit ditemukan, karena para pakar yang sesungguhnya justru terkalahkan oleh pakar-pakar gadungan yang tampil di ruang maya.

Baca Juga :  Longsor Bantaran Sungai Kembali Terjadi, Dinding Sekolah di Sukun Ambrol

          Kondisi ini sangat berbahaya terutama terkait penanganan Covid-19. Tak jarang para ahli yang kredibel justru kalah cepat dengan dokter gadungan yang viral di medsos. Apalagi ketika informasi resmi dari pemerintah terkesan lamban dan tak jelas. Celah kekosongan informasi justru diisi oleh para pembuat konten medsos. Alih-alih mau mendidik masyarakat, tak jarang kreator konten medsos justru melakukan pembodohan dan penyesatan.

          Bagi para dokter dan nakes hendaknya menahan diri dan berhati-hati dalam menyampaikan informasi terkait Covid-19. Kredibilitas anda sebagai orang yang mengerti medis sangat mempengaruhi masyarakat luas. Untuk para pemengaruh (influencer) medsos dan figur publik hendaknya juga tak serampangan merekomendasikan bermacam obat yang diklaim sebagai obat Covid-19 karena hingga kini obat virus mematikan itu memang belum ada.

          Segala narasi yang menyangkal Covid-19 dan memperlemah penerapan prokes perlu segera diakhiri. Kalau tidak, upaya PPKM darurat atau istilah PPKM dengan level 3 atau 4 bisa bernasib sama dengan beragam aturan pembatasan serupa sebelumnya. Para komunikator informasi kesehatan mestinya satu suara agar informasi yang disebarkan ke masyarakat tak membingungkan, memicu kontroversi, dan bikin onar. Pandemi yang makin mematikan dan infodemi yang tak kalah ganas patut menjadi musuh bersama untuk dilawan. (*)