Ada Zirco di Museum Geologi, Telusur Legenda Cryptozoology

Zirco di spot foto favorit kerangka Dinosaurus. Berwisata ke museum di Lausanne Swiss terasa sangat menyenangkan.

Salam dari Swiss

MALANG, NewMalangPosBoring. Ya, setelah 20 hari dari 12 sampai 30 Juli, putra saya Zirco boring pol. Bermain hanya di sekitar apartemen di antara taman Pac de Milan dan Danau Lac Leman.  Sudah kangen suasana rumah Surabaya yang penuh dinamika bak kapal oleng.

Namanya rekreasi dibenak Zirco, nge-mall dan makan di resto. Kesempatan akhir bulan Juli lalu tiba pas hari Sabtu. Suami saya, Fariz Hidayat ST MT longgar kerjaan. Diajaklah jalan ke kota. Sebetulnya jaraknya dekat tapi dengan standar Zirco juga sulit cari pilihan rekreasi yang sesuai ekspektasinya.

Pilihan jatuh ke wisata museum. Banyak museum di Lausanne. Secara umum andalan utama kota- kota di Swiss adalah museum selain pemandangan alamnya. Di Lausanne terkenal dengan The Olympic Museum. Letaknya di Ouchy Lausanne atau kalau dalam Bahasa Perancis namanya Le Musee Olympique. Museum ini dibuka tahun 1993 yang mencerminkan semangat olahraga. Musee Olympique berisi pusat informasi terbesar tentang olimpiade di dunia. Tiket masuk museum sebesar 20 CHF (1 CHF = Rp 15.700) per orang dewasa. Sedangkan untuk anak-anak di bawah enam tahun gratis.

Museum ini juga belum menjadi pilihan dulu selain mahal untuk kantong rupiah juga khawatir Zirco tidak bisa menikmatinya. Kapan-kapan saja ditunda dulu walau lagi trending mestinya karena lagi euforia Olimpiade Tokyo. Layak jadi berita.

Cari museum yang gratis dulu. Pilihan ke Vaud Zoology Museum, Archaelogy and History Museum, Money Museum dan Geology Museum. Beberapa museum ini terletak di satu Gedung yaitu Palais de Rumine. Letaknya di Place de la Riponne Lausanne yang tak jauh dari apartemen kami. Hanya 2,3 km, cukup sekali baik bus selama 17 menit perjalanan.

Zirco sangat suka sekali ke Zoology Museum. Karena dia bisa melihat banyak sekali jenis hewan di seluruh dunia. Seperti African Buffalo, Black and White Rhinos, Great Auk (Sea Bird), Orang-Utan, Siberian Tiger, White Shark, Sea Turtle, dan Jaw of the Sperm Whale. Beberapa hewan pastinya sudah punah dan hidup di zaman puluhan ribu tahun lalu.

Baca Juga :  Awas Jalan Payung 1 Retak

Menariknya lagi ada bagian tentang Cryptozoology. Cryptozoology adalah penelitian terkait hewan yang tersembunyi atau hewan mitos. Hewan tersebut tidak diketahui dalam ilmu sains karena bukti keberadaannya sangat sedikit. Namun ceritanya sangat melegenda. Salah satu contohnya Kraken dan Yeti. Zirco sudah familiar dengan kedua nama ini karena papinya pernah menceritakan legenda tersebut. Tentu sumbernya dari nonton video YouTube, hehehe. Kraken di ilustrasikan dengan monster cumi-cumi raksasa yang biasanya ada di film-film kartun. Sedangkan Yeti adalah karakter manusia salju yang meninggalkan jejak kaki di pegunungan Asia. Meskipun keberadaan Yeti juga tidak terbukti, cerita legenda ini juga ada di film kartun. Tak heran Zirco sering bertanya terkait kedua makhluk tersebut.

Di Archaelogy and History Museum juga terdapat anatomi tubuh manusia dan hewan. Zirco menikmati pemandangan kerangka hewan Dinosaurus, Badak  dan juga beberapa jenis ikan. Dia juga belajar kerangka tubuh manusia dari mulai kepala hingga kaki. Tapi tetap spot favoritnya adalah berfoto dengan kerangka Dinosaurus.

Sedangkan saat mengunjungi Geology Museum saya bercerita ke Zirco kalau namanya berasal dari sebuah bebatuan yang kemudian diproses menjadi keramik. Bagi yang dulu sekolahnya pernah belajar kimia dan menghafal tabel periodik unsur pasti pernah membacanya. Yaitu symbol Zr (Zirconium).

Kami melihat batu mineral Zircon, batu ini setelah diolah bisa menjadi partikel keramik yang kuat bernama Zirconia. Sebenarnya Zirconia adalah material yang saya pelajari saat mengerjakan skripsi dan tesis. Saking intensnya bergelut dengan Zirconia maka saya bercita-cita memberikan nama tersebut ke anak saya kelak. Jadilah Omera Zirco Okfarizi. Zirco sangat antusias saat menemukan batu Zircon, dan mengetahui asal usul cerita nama dia. Aneh ya namanya, ya begitulah generasi millenial sekarang kalau kasih nama ke anak harus aneh dan out of the box.

Destinasi terakhir di Money Museum, masih di gedung yang sama hanya berbeda lantai. Kami melihat transformasi uang di Eropa dari zaman dahulu hingga sekarang. Mulai dari masih berupa tukar menukar barang, pembayaran dengan uang koin dan juga uang kertas. Meskipun museum sudah didirikan sejak tahun 1892 dan terus dilakukan pembangunan hingga tahun 1904, seluruh bangunan museum masih terawat dengan sangat baik. Kebersihan selalu dijaga di seluruh sudut museum. Sehingga membuat pengunjung terasa nyaman. Desain interior bangunan yang khas dan kental ala Eropa semakin memanjakan mata pengunjung.

Baca Juga :  Dialog Kerukunan FKUB, Moderasi Beragama Kunci Kedamaian

Tak jauh dari Palais de Rumine juga ada destinasi yang wajib dikunjungi yaitu Lausanne Cathedral – Gereja di pusat kota Lausanne dengan bangunan artistik yang dibangun sejak tahun 1170. Kebetulan karena sudah sore dan suhu udara yang dingin, kami hanya mengunjungi di area luar saja tidak masuk ke dalam gereja. Yang penting sudah pernah jalan-jalan ke area pusat kota dan menikmati pemandangan sore Lausanne.

Selepas memenuhi kebutuhan yang menghibur Zirco lanjut jalan-jalan ke kawasan pertokoan di sepanjang daerah Bel Air dan St. Francois (Pusat Kota Lausanne, Baca: Bel Air dan Sang Frangsoa), banyak sekali ragam brand-brand fashion terkenal. Ada yang harganya puluhan CHF hingga ribuan CHF.

Saya tertarik beli jaket multi fungsi. Walau musim panas saya masih merasa kedinginan. Di luar rumah harus masih menggunakan jaket. Beli yang murah meriah yang terjangkau saja. Pilihan jatuh pada jaket jins putih merek Tally Weijl – salah satu brand fashion berasal dari Basel Switzerland seharga 38 CHF ini menjadi penghangat tubuh disaat udara dingin menyerang. Memilih jaket ini karena kebetulan belum punya jaket warna putih dan kayaknya saat summer begini cocok ya pakai warna putih, netral dipakai ke semua warna baju. Sebenarnya saya dan kami semua sudah siap beberapa jaket tebal tapi masih di kontainer yang sampai sekarang belum diketahui kapan tiba di Lausanne.

Baca Juga :  Sepi Peminat, Pendaftar CPNS dan PPPK di Kabupaten Malang cuma 95 Orang

Setelah itu kami menuju pusat elektronik bernama Media Markt di daerah Renens (baca:Renengs). Tempatnya sangat besar dan luas. Kalau di Surabaya ini semacam Hartono Elektronik yang digabung dengan Plaza Marina. Kami membeli DVD external drive karena buku sekolah Zirco dilengkapi game interaktif pembelajaran yang bisa membuat siswa jadi semangat belajar. Maklum kedua laptop kami di rumah tidak dilengkapi dengan DVD Player. Sedangkan si bapak Fariz membeli Nintendo Switch. Katanya sih untuk olahraga di rumah supaya stamina tubuh terjaga dan kuat jalan setiap hari. Tapi nyatanya juga beli game bola dan pokemon yang bisa dimainkan oleh Zirco juga. Biasalah ya alasan bapak-bapak beli mainan katanya buat anak tapi bapaknya pun turut bahagia sekali. Tapi ya gak apa-apalah jadi obat stres. Kerja di Kantor Global harus full energi. Jam kerjanya menjadi lebih panjang berkoneksi dengan seluruh dunia lima benua.

Sebelum pulang kerumah kami mampir dine in dulu di McD karena sudah kelaperan setelah belanja dan jalan yang cukup jauh. McD masih menjadi tempat favorit keluarga di Lausanne. Terlihat banyak anak kecil yang membeli kids meal di McD. Kami membeli Chicken Burger, Fish Burger, French Fries dan juga Chicken Nugget. Menu sederhana ini harganya mencapai empat kali lipat dibanding saat kita beli McD di Indonesia.

Dengan berakhirnya bulan Juli habis juga suasana liburan. Habis sudah duit rupiah. Anggap saja jalan-jalan ini sebagai welcome party sebagai warga Swiss sepenuhnya. Pegang duit CHF belanja pakai hitungan CHF. Kapan-kapan saya hitungkan berapa biaya hidup di Swiss kalau saya sudah berdamai dengan duit CHF. (OPP)

artikel Pilihan