new malang pos
Sulaiman Sulang SS

Sulaiman Sulang dan Sri Asih punya cara masing-masing melestarikan lingkungan. Mereka gigih di jalurnya. Tujuannya  demi anak cucu menikmati keindahan dan kenyamanan lingkungan di masa mendatang.

Kembalikan Malang Ijo Royo-Royo

Semangatnya tak pernah berhenti untuk melakukan aksi-aksi penyelamatan  lingkungan. Mulai dari pengolahan sampah hingga penghijauan. Sejak tahun 2012 lalu, Sulaiman Sulang, SS sudah terpanggil untuk berkecimpung di bidang ini.

Ketua Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia (HPAI) Wilayah Malang Raya ini selalu terlibat dalam kegiatan tanam pohon. Baik yang diinisiasi HPAI maupun pihak-pihak lain.

Perubahan kondisi alam khususnya di Kota Malang membuatnya tergerak untuk berbuat sesuatu. Menurut guru SMKN 6 Malang ini, Malang sekarang berbeda jauh dengan Malang lima hingga 10 tahun yang lalu.

Jika saat itu Malang masih hijau,  saat ini sudah hampir tidak terlihat lagi. Dalam sekejap Malang berkembang pesat. Pembangunan, terutama pertumbuhan kawasan menggeliat.  Salah satu contohnya wilayah Joyosuko dan sekitarnya delapan tahun yang lalu masih banyak persawahan. Sekarang hamparan sawah sudah tak terlihat. Tergantikan dengan bangunan ruko dan perumahan. “Maka komitmen kami ingin mengembalikan Malang Ijo Royo-Royo bukan Malang Ijo Ruko-Ruko,” katanya.

Dengan spirit menyelamatkan lingkungan dari berbagai sisi itulah, Sulaiman bersama rekan-rekan lain sesama peggiat Adiwiyata membentuk sebuah organisasi. Yakni HPAI Malang Raya. 

HPAI sendiri sudah ada sejak lama. Hanya saja baru terbentuk di Malang Raya pada Januari 2020 lalu. Sulaiman pun dipercaya sebagai ketua.

Berbagai program lingkungan sudah sukses dilaksanakan. Salah satunya tanam pohon. “Dalam waktu dekat kami akan menanam 200 bibit pohon bersama Pemkot Malang. Kita akan cari area yang tepat,” ungkapnya.

Selama ini sudah tak terhitung keterlibatannya dalam gerakan tanam pohon. Mulai dari Kota Batu, Donomulyo, Sumber Air Mendit, dan beberapa daerah lain. Terbaru, di daerah Ngebruk Kabupaten Malang, pada Jumat (20/11) kemarin. Yaitu dalam rangka Hari Tanam Pohon bersama DLH Kabupaten Malang.

Ia punya target dalam satu tahun ada 3.000 sampai 5000 bibit pohon. Untuk mencapai target tersebut, dia  akan terus berkolaborasi dengan berbagai instansi bergerak bersama. Baik instansi pemerintah maupun swasta. “Alhamdulillah dengan Pemkot Malang kita sudah siap berkolaborasi menanam 10.000 ribu bibit pohon pule untuk ditanamkan di area gersang yang ada di kota,” tutur Sulaiman.

Tanam pohon merupakan sebuah kegiatan sederhana namun punya dampak signifikan terhadap kelangsungan hidup manusia. Bahkan ada yang mengistilahkan satu pohon satu nyawa. Artinya begitu pentingnya menjaga kelestarian flora.

Pohon erat kaitannya dengan iklim. Kota Batu sudah tidak sedingin beberapa tahun yang lalu. Artinya telah terjadi sesuatu yang menyebabkan perubahan tersebut. Tentu salah satunya jumlah tanaman  pohon yang kian berkurang.

Sulaiman menambahkan, selain berdampak pada iklim jumlah pepohonan juga memengaruhi debit air tanah. Sekitar satu bulan yang lalu, ia bersama tim dari HPAI Malang Raya berkunjung di Wisata Air Terjun Coban Rondo. Di sana Sulaiman melihat debit air yang sudah tidak besar lagi dibanding beberapa tahun sebelumnya. “Itu akibat dari pembangunan yang kian pesat. Konservasi air kita jadi terganggu dan akhirnya stok air kita terbatas,” imbuhnya.

Belum lagi bencana alam yang mengancam di setiap saat. Seperti longsor yang struktur tanahnya sudah tidak kuat karena permukaannya gundul, tidak adanya pepohonan. Jalan satu-satunya, menanam pohon sebanyak-banyaknya.

Kondisi memprihatinkan seperti saat ini jika dibiarkan akan terus memburuk. Tanpa gerakan atau aksi sosial untuk menanam pohon akan berdampak buruk di masa yang akan datang.

Oleh karena itu, Sulaiman bersama komunitasnya di HPAI Malang Raya tidak pernah bosan berkampanye gemar menanam pohon. Kami sebagai aktivis lingkungan berkomitmen untuk tidak segan mengedukasi masyarakat. Tidak ada yang menggaji kita. Kami berlandaskan niat dan tekad kuat. Demi anak cucu kita di masa yang akan datang,” tuturnya.

Dalam rangka Hari Tanam Pohon se-Dunia, HPAI Malang Raya bersama DLH Kabupaten Malang bekerjasama menanam ribuan bibit pohon. Dimulai dari arah selatan, tepatnya di daerah Ngebruk hingga wilayah utara di Singosari.

Kegiatan tersebut sebagai langkah nyata agar menjadi motivasi bagi masyarakat untuk melakukan hal yang sama. Ini pun demi menyelamatkan lingkungan dan kelestarian hidup. (imm/van) 

Penyuluh Kehutanan Pencetus AMKE

IA perempuan luar biasa. Hari-harinya bertugas sebagai penyuluh Kehutanan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Malang Provinsi Jawa Timur. Tapi juga visioner. Salah satu contohnya menginisiasi wisata edukasi Area Model Konservasi Edukasi (AMKE). Lokasinya di Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu. Itulah jejak perjuangan pelestarian lingkungan Sri Asih.

new malang pos
Sri Asih

AMKE dicetuskan Sri Asih untuk dikelola masyarakat. Gagasan besarnya yakni melestarikan alam dan menjaga ekosistem lingkungan. Konsep ibu tiga anak ini melibatkan masyarakat secara berkelanjutan.

“AMKE luasnya 10 hektare. Lahan ini merupakan Tanah Kas Desa (TKD) Pemdes Oro-Oro Ombo yang dikerjasamakan dengan warga dengan sistem bagi hasil. Memang tidak semua warga, mereka yang mengelola adalah warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Panderman,” paparnya.

Perempuan kelahiran Lamongan, 17 Agustus 1972 ini mengatakan, pengelolaan AMKE oleh KTH Panderman mencakup sejumlah aspek. Setidaknya saat ini terdapat 33 jenis wahana edukasi.

Mulai dari healing forest, omah jamur, batik eco print, omah porang, fun bike family, panahan center, camping ground dan permainan tradisonal. Selain itu ternak umbaran, warung HHBK, dan masih banyak lagi.

“Apa yang kami lakukan melalui KTH ini bertujuan untuk bisa menata konservasi. Secara tak langsung pada akhirnya mampu meningkatkan pengetahuan SDM, melestarikan lingkungan, dan berdampak pada perekonomian warga sekitar. Tak hanya mereka yang ada di KTH,” terangnya.

Sri Asih yang pernah meraih penghargaan dari KLH Penyuluh Kehutanan memang aktif dalam kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan. Ia menjelaskan tak hanya mendorong masyarakat untuk masuk dalam KTH, namun di dalam KTH dia memberikan edukasi kepada anggotanya. Ini  terkait proses penanaman, pengolahan lahan, pengolahan hasil lahan, hingga pemasaran.

Serta memberikan pengetahuan teknik konservasi tanah secara vegetative. Yakni setiap pemanfaatan tanaman atau vegetasi maupun sisa-sisa tanaman sebagai media pelindung tanah dari erosi. Membuat sumur resapan atau biopori sebagai penyimpan air.

Tak hanya itu, KTH Panderman sebagai pengelola AMKE dijadikan contoh membentuk KTH lainnya yang tersebar di 24 desa dan kelurahan di Kota Batu.  Mengingat akan ada banyak manfaat yang bisa diperoleh. Baik kelestarian lingkungan hingga mendapatkan keuntungan.

“Karena tidak semua anggota KTH memiliki modal, di AMKE kami menggunakan konsep bagi hasil. Artinya masyarakat atau lembaga, baik negeri atau swasta bisa menanamkan sahamnya di sini. Kemudian anggota KTH yang mengerjakan dan terakhir dilakukan bagi hasil,” terangnya.

Dengan itulah sampai saat ini, Asih mampu membentuk tujuh KTH di Kota Batu. Beberapa KTH yang telah dibentuk dan memiliki SK meliputi Desa Oro-Oro Ombo, Tlekung, Torongrejo, Bulukerto, Gunungsari, Sumberejo, dan Kelurahan Temas. Untuk 17 desa dan kelurahan sisanya, Asih pasang target membentuk KTH pada tahun 2021.

“Jadi dengan adanya KTH di setiap desa dan kelurahan di Kota Batu nanti secara tak langsung konservasinya benar-benar bisa ditangani. Sehingga kehadiran KTH juga bisa menjadi sumber penghidupan masyarakat dalam mengelola lahan sekitar,” tandasnya. (eri/van)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here