new malang pos
Muhaimin (Redaktur New Malang Pos) bersama Kasubag Pemberitaan Bagian Humas Setda Kota Malang, saat pelantikan pengurus Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Malang.

NEW MALANG POS, MALANG – Sebagai asli korane arek Malang, New Malang Pos yang punya tag line “Bukan Koran Baru”, sejak dilauncing awal Juli lalu, langsung tancap gas dengan kecepatan tinggi. Semua atensi, klien dan juga mitra yang pernah kami jalin sebelumnya kami bangun langsung dirangkul semuanya, baik Pemda dan mitra bisnis di Malang Raya.

Direktur Utama PT Malang Pos Siber, H. Sudarno Seman yang menaungi koran New Malang Pos pun melakukan hal yang sama. Mengenalkan New Malang Pos dan mengkonsolidasikan semua mitranya, termasuk Pemda di Malang raya. Tidak butuh waktu lama untuk mengenalkan New Malang Pos sebagai asli korane arek-arek Malang. Pelan tapi pasti, order iklan dari mitra-mitra yang telah dibangun mulai berdatangan ke New Malang Pos, salah satunya dari Pemkot Malang.

Sebagai redaktur yang bertanggung jawab terhadap halaman rubrik Kota Malang dan Malang Raya, saya (Muhaimin) harus mengawal setiap atensi, baik pemberitaan maupun iklan yang disampaikan pimpinan dan juga teman-teman marketing. Hampir setiap hari harus mengawal atensi iklan dan pemberitaan khususnya di Pemkot Malang dan DPRD Kota Malang.

Tidak jarang, penugasan iklan diberikan secara mendadak dan harus bisa dilakukan. Tidak ada kata tidak bisa, apalagi menolak penugasan. Karena nafas kami di koran New Malang Pos berasal dari iklan. Untuk memastikan penugasan iklan berjalan dengan baik yang sesuai dengan harapan pemasang iklan, saya harus sering kali turun langsung ke lapangan. Mencari dan mengejar penugasan dari Pak Dirut yang kadangkala datangnya mendadak.

Dengan turun langsung ke lapangan dapat segera berkoordinasi dengan teman-teman wartawan dan fotografer. Sehingga bisa mendapatkan materi yang telah ditugaskan Dirut kepada saya. Penugasan materi iklan advertorial di Pemkot Malang misalnya, Pak Dirut sampai memberikan request sampai hal yang paling teknis. Jangan sampai materi iklan yang didapatkan tidak sesuai dengan harapan pemasang iklan. Karena Pak Dirut mendapatkan request juga dari pemasang iklan.

Pernah mendapatkan penugasan untuk iklan advertorial sore hari untuk meliput kegiatan yang tengah berjalan. Tidak tanggung-tanggung, iklan yang dipasang satu halaman penuh untuk advertorial yang harus terbit esok harinya. Karena terbiasa bekerja di bawah tekanan deadline, penugasan itu pun langsung dilaksanakan dan saya kawal ke lapangan. Koordinasi dilakukan di lapangan dengan berbagi tugas antara wartawan dan fotografer. Tidak jarang, untuk memudahkan tugas wartawan, saya juga harus menulis sebagian beritanya. Dengan ditanggung bersama akan memudahkan pekerjaan saat di jam deadline.

Mengawal atensi (iklan) langsung Pak Dirut dan juga marketing sudah terbiasa saya lakukan. Bahkan, sering harus liputan sendiri, baik menulis dan memfoto kegiatan yang menjadi atensi (iklan) pimpinan. Karena tidak mungkin menugaskan wartawan dan fotografer pada saat hari libur (Sabtu). Sejak pandemi Covid-19, kami memang tidak terbit di hari Minggu. Ini dilakukan untuk mengurangi jam kerja seperti yang diatur pemerintah. Pilihannya dengan mengurangi hari terbit.   

Pilihannya harus liputan sendiri agar atensi dari pimpinan tetap dapat dilaksanakan dan tidak mengganggu liburan wartawan dan fotografer. Meski harus mengurangi jatah waktu libur saya yang biasanya digunakan untuk bersama keluarga. Untungnya, keluarga kecil saya sudah memahami kerja yang saya jalani selama ini. Semuanya dilakukan dengan hati ikhlas yang diniati dengan ibadah.

Lagi pula dengan mengetik sendiri hasil liputan advertorial di lapangan akan memudahkan saya untuk proses lay out, sekaligus mengawal atensi yang diberikan pimpinan. Karena untuk iklan pemerintahan ada beberapa hal yang wajib ada, baik penyebutan instansi dan logonya. Jika tidak, maka jangan harap bisa terbayar. He…he…he…saya pernah melakukan kekhilafan tidak mencantumkan satu bagian dalam iklan yang wajib dicantumkan. Setelah terbit keesokan harinya baru tersadar kalau ada hal yang wajib tidak tercantum. Sudah bisa ditebak, jadi bahan evaluasi dari Pak Dirut karena tidak bisa terbayar. Iklan pemerintahan itu sudah MoU yang sudah memuat banyak klausul, termasuk hal wajib yang harus disebutkan dalam iklannya. Saya hanya bisa minta maaf ke Pak Dirut dan menayangkan ulang iklan tersebut dengan sedikit sentuhan yang berbeda, agar tidak terkesan sama dengan yang sebelumnya oleh pembaca. Tapi iklannya bisa terbayar oleh pemasang iklan. Bahkan saking dekatnya dengan para mitra, saya diminta mitra saya dan Pak Dirut, untuk menjadi pengurus Pramuka Kwarcab Kota Malang mewakili kalangan professional dengan membawa nama New Malang Pos. Saat itulah, akhirnya saya mengenakan seragam Pramuka lagi  (dulu terakhir SMA ikut Pramuka) dengan panggilan baru, Kak Muhaimin. Salam Pramuka. (aim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here