Paslon Lebih Utamakan Penampilan

NEW MALANG POS – Debat publik pasangan calon (paslon) Bupati-Wabup Malang putaran kedua di ruang sidang DPRD Kabupaten Malang, Jumat (20/11) tadi malam kurang gereget. Tak banyak gagasan baru yang dibeber para calon bupati-wabup itu.

Debat diikuti semua paslon. Yakni HM Sanusi-Didik Gatot Subroto (Sandi), Hj Lathifah Shohib-Didik Budi Muljono (Ladub) dan Heri Cahyono-Gunadi Handoko (Malang Jejeg). Namun demikian, tidak berbeda dengan debat publik putaran bertama. Mereka terkesan siap mengikuti debat, namun materi yang disampaikan biasa-biasa saja.

Analis politik UMM Dr Drs Wahyudi Wijanarko mengatakan gagasan yang disampaikan paslon hanya menjelaskan masalah yang sudah ada. “Secara umum, seluruh paslon belum memiliki grand design pembangunan atau blue print pembangunan yang ditawarkan kepada masyarakat,” kata dia.

Tiga paslon itu menurut Wahyudi tidak memiliki ide atau gagasan yang luar biasa. Mereka terjebak pada persoalan praktis. “Ketiganya juga kurang memiliki fundamen teori maupun konsep, atau rujukan peraturan pemerintah yang ada. Ya seperti tadi dilihat, ya datar begitu,’’ tandasnya.

Dia mengatakan, Sandi sempat menyebutkan tentang aturan, dalam menjalankan pemerintahan. Namun tidak banyak. Paparan yang disampaikan juga cenderung biasa-biasa saja.

Analis politik UM Dr Nuruddin Hady mengatakan tiga paslon sudah lebih siap. Bahkan, program yang dipaparkan juga sudah by data. “Calon nomor urut satu menyebutkan jumlah BUMDes, calon nomor urut dua menyebutkan data garis pantai dan potensinya, dan calon nomor urut tiga menyajikan data tgeografis dan demografis Kabupaten Malang. Mereka sudah berani menampilkan data,’’ ungkap mantan anggota KPU Kota Malang ini.

Namun demikian, dari perjalanan debat yang digelar, ada beberapa kekurangan dari paslon. Calon nomor urut dua contohnya mengobral kartu. “Lha kenapa harus banyak kartu. Cukup satu kartu saja bisa,’’ ujarnya.

Sedangkan calon nomor urut satu juga bagus. Selama debat selalu mengatakan pihaknya akan melibatkan masyarakat dalam pembangunan.

“Calon nomor urut tiga juga sangat oke tadi. Mereka memaparkan program sembilan jejeg. Dimana ada pendidikan dan kesehatan gratis, memberikan modal kepada pelaku UMKM, dan pelayanan publik yaitu pembuatan KTP hanya di desa saja,’’ katanya. Menurutnya pelayanan publik pembuatan KTP cukup sampai di desa, mengingat Kabupaten Malang sangatlah luas.

Sandi Versus Malang Jejeg

Paslon HM Sanusi-Didik Gatot Subroto (Sandi) membeber strategi garap potensi kelautan. Sanusi klaim pihaknya sangat paham. Ia mengatakan, satu tahun menjadi Bupati Malang, pihaknya sudah berbuat banyak untuk nelayan. Nelayan tidak sekadar menjual ikan, melainkan menciptakan produk olahan.

Penjualan ikan menurut dia melalui pelelangan. “Karena bukan Pemkab Malang yang mengelola laut, melainkan Pemprov Jatim. Pemkab Malang hanya memberikan pembinaan dan pelatihan kepada nelayan agar bisa mendapatkan nilai lebih dari hasil tangkapan ikan,’’ ungkap calon petahana ini.

Sementara itu, dalam visi dan misinya, Sanusi mengatakan pihaknya akan menggandeng masyarakat untuk mewujudkan pembangunan lebih baik. “Kami juga menyiapkan program untuk para pemuda di Kabupaten Malang. Sehingga mereka bisa berkreasi dan mendukung pembangunan,’’ tambahnya.

HM Sanusi membeber tentang komitmennya memajukan BUMDes. Selama menjabat sebagai Bupati Malang, Sanusi mengatakan sudah lebih dari 300 BUMDes terbentuk.

Suasana tegang sempat terjadi saat debat. Itu saat calon Bupati Malang nomor urut tiga Heri Cahyono menampik keberhasilan Sanusi dalam bidang pertanian. “Mohon maaf bapak, jika tadi menyampaikan pertanian di Kabupaten Malang terbaik, faktanya di lapangan pupuk sangat sulit. Tidak ada pupuk saat ini,’’ kata Sam HC, sapaan akrab calon bupati dari jalur independen ini.

Dia mengatakan tidak adanya pupuk karena pemerintah tak berperan. “Harus ada manajemen yang baik, sehingga petani sejahtera,’’ katanya.

Mendengar pernyataan Sam HC, Sanusi langsung bereaksi. Menurut dia, Heri tidak paham aturan. Ia mengatakan, pengadaan pupuk bukan kewenangan Pemkab Malang. Tapi bukan berarti pihaknya tidak berusaha. Sanusi menegaskan, beberapa kali sudah mengajukan kepada pemerintah pusat agar terus menyediakan pupuk bersubsidi. “Untuk mendistribusikan pupuk ada aturan, tidak bisa langsung,’’ ungkap santai.

Namun demikian, Sanusi enggan terjebak dalam adu debat. Disesi lainnya, dia menguraikan program yang diusung saat kembali terpilih nanti. “Kami sudah menyiapkan program pembangunan lebih baik. Saat ini ekonomi di Kabupaten Malang semakin baik, banyak investor yang masuk ke Kabupaten Malang,’’ tandasnya.

Sam HC memastikan jika memenangkan Pilkada Kabupaten Malang akan merealisasikan sembilan program jejeg. Selain itu dia menegaskan sudah mendedikasikan diri untuk menjalankan program. Bahkan masyarakat bisa menagih sejak hari pertama menjabat.

Paslon Hj Lathifah Shohib – Didik Budi Muljono di awal debat dimulai menawarkan sejumlah program. Di antaranya menyiapkan program berbasis kartu sesuai kebutuhan masyarakat.

Di antaranya kartu tani, kartu nelayan, kartu peternak bahkan juga kartu bedah rumah. Melalui kartu tersebut, dapat terpetakan kebutuhan masyarakat, sehingga arah pembangunan pun lebih jelas.
Paslon ini juga menyiapkan program untuk meningkatkan BUMDes.

Melalui program Si Bumbu, janji pasangan ini kolaborasikan BUMDes dengan masyarakat. “BUMDes juga harus berkolaborasi dengan IKM, yang itu kemudian memberikan efek bagus untuk kesejahteraan,” urainya.

Laut Kabupaten Malang dianggap sebagai potensi besar. Dengan garis pantai sepanjang 105 kilometer bisa memberikan banyak manfaat.

“Nelayan bisa mendapatkan nilai lebih, dari ikan tangkapannya. Ikan tidak hanya dijual tapi dijadikan produk olahan,’’ katanya. (ira/van)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here