Yayasan Tidak Salah, Duduk Bersama Dan Jangan Ada Paksaan

0

PERSELISIHAN internal di Yayasan Arema, sembilan tahun lalu, berujung lahirnya dua klub Arema pasti dapat diselesaikan dengan baik. Semua pihak terkait  harus duduk secara bersama-sama guna mencarikan jalan keluar terbaik. Bagaimana caranya? Untuk jelasnya, berikut wawancara New Malang Pos dengan CEO Arema FC Ir. R. Agoes Soerjanto.

Mengapa Arema sampai pecah menjadi dua, bahkan tiga tim?

Perpecahan ini tidak ada yang salah . Karena situasi, Arema harus membagi peran bermain di dua kompetisi karena adanya dualisme federasi pada tahun 2011. Yakni kompetisi LPI dan ISL. Sekali lagi, bukan kemauan Arema menjadi pecah, tapi semata mata mempertahankan eksistensi Singo Edan, meskipun harus mengikuti dua kompetisi. Bayangkan kalau kita hanya ikut satu kompetisi saja, IPL yang ternyata kompetisinya bubar di tengah jalan, bisa jadi Arema tidak ada sekarang. Beruntung akhirnya Arema tetap eksis di ISL menyelesaikan kompetisinya. Termasuk saat dilakukan verifikasi unifikasi kompetisi tahun 2014. Yakni penggabungan klub IPL dan ISL sebagai upaya memersatukan dualisme kompetisi, dan yang terpilih adalah Arema yang berkompetisi di ISL yang diakui. Fakta fakta ini harus dipahami secara objektif, dan bersyukur Arema tetap bertahan dan ada. Selama terjadi dualisme kompetisi, tidak ada upaya membeda-bedakan Arema, semua saling mendukung saling menghormati. Bahkan di IPL sampai terjadi klaim Arema oleh tiga pengelola, kita pun juga menghormati diinamikanya. Karena semata mata semua ingin mempertahankan Arema.

Sekarang, muncul tuntutan dari Aremania agar Arema kembali bersatu. Bisakah?

Kita anggap dinamika, semangat bersatu harus tetap dikumandangkan oleh Aremania selama itu positif.  Rujukan Aremania itu kan sejarah masa lalu, karena itu perlu dijelaskan kondisi objektifnya. Sekali lagi, Arema bermain di dua kompetisi itu bukan kemauan Arema termasuk pengurus Yayasan Arema, tapi justru mereka ingin selamatkan Arema. Ini harus dipahami dulu. Gampang jika memang mereka ingin menghidupkan Yayasan Arema, duduk bersama tanpa dipaksa. Arema itu kan dikenal guyub, tapi sekali lagi jangan dipaksa. Kalau dipaksa justru akan beda melihat arah dan tujuannya. Bersatu dengan tetap menghormati apapun keputusan dan kebijakan yang terjadi selama  perjalanan Arema sampai saat ini.

Bagaimana cara mewujudkannya?

Semua pihak diajak berkomitmen bersatu untuk Arema. Berbeda-beda tapi tetap Arema. Bhinneka Tunggal Arema, kalau boleh disebut. Saya optimis jika tujuannya memang tulus untuk kebersamaan, orang orang yang dulu berjuang untuk Arema akan mau menerima ajakan bersatu. Tapi kalau kesannya dipaksa, sepertinya akan beda persepsinya. Pertemuannya dilakukan dengan cara Arek Malang yaitu penuh keterbukaan, blak-blakan dan guyub. Dengan karakter dan jiwa Arek Malang atau Arema, permasalahan ini pasti akan dapat terselesaikan. Pintu kami juga selalu terbuka lebar-lebar kepada siapapun. Termasuk kepada Wali Kota Malang dan seluruh pihak lainnya. Tapi kalau hanya dengan beropini saja, apalagi tidak tahu akar permasalahan, ya pasti tidak akan bisa.

Bagaimana peranan Yayasan Arema terkait hal ini?

Sekali lagi tidak ada yang salah dengan pengurus Yayasan Arema. Kita hormat dengan perjuangan bapak-bapak dan semuanya termasuk Aremania yang berjuang menjaga Arema tetap ada. Kalau toh sekarang ada Aremania yang minta Yayasan Arema dihidupkan lagi, ya baik baik kita bicarakan secara damai dan guyub. Seperti halnya kita pertemuan keluarga besar Arema, tidak ada paksaan, semua toleran dan jika memang dianggap ada hasil keputusan, ya kita hargai. Karena semata mata tujuannya untuk eksistensi Arema. Arema ini kebanggaan bersama, tak perlu adu otot hanya untuk mempertahankan klaim kepemilikan. Kalau toh semua dianggap pernah keliru atau salah, ya itu bagian dari perjuangan, dan tidak perlu dibesar-besarkan. Sekarang perlunya pertemuan itu untuk simbol persatuan.

Saat bertemu Aremania, Senin (16/11) lalu, Wali Kota Malang Sutiaji berjanji memberi waktu kepastian tentang Yayasan Arema dalam waktu seminggu. Tanggapan Anda?

Boleh-boleh saja Walikota memberi statement seperti itu. Tapi alangkah eloknya, jika sebelum bertemu Aremania tersebut, beliau terlebih dulu bertemu dengan semua pihak. Termasuk dengan kami,  terkait permasalahan ini. Jadi beliau mengetahui dan mengurai akar permasalahannya yang ada  secara gamblang. Kami tunggu saja bagaimana realisasi janji Walikota tersebut. Intinya sebagai mediator yang baik, juga tidak boleh lantas memunculkan ancaman kebijakan larangan menggunakan fasilitas publik. Termasuk stigma negatif tentang pihak yang tidak mendukung aksi Aremania, sebab kita juga menghargai pendapat Aremania lainnya yang mungkin setuju keinginan bersatu. Tapi mungkin beda caranya. Arema itu kekeluaragaan, selesaikan dengan pendekatan kekeluargaan, tidak perlu diancam.

Bagaimana peranan Pemkot Malang selama ini terhadap keberadaan Arema FC? Termasuk selama pandemi Covid-19 yang berakibat dihentikannya Liga Indonesia?

Kalau mau jujur, tidak ada secara langsung. Padahal Pemkot Malang seharusnya dapat turut berperan. Misalnya dengan memberikan beberapa kemudahan terkait fasilitas untuk latihan, penggunaan stadion Gajayana, dispensasi pajak dan lain-lain. Saling sinergi, sebab keduanya saling membangun image positif bagi Kota Malang.  Saling support dalam mempertahankan eksistensi dan kejayaan Arema. Bahkan, kami sudah lama menunggu Wali Kota Malang misalnya hadir saat anak-anak berlatih. Atau berkunjung ke mess. Sebagai bentuk perhatian dan kepedulian kepada Arema yang selama ini jadi kebanggaan arek-arek Malang dan keberadaannya untuk berprestasi mengharumkan nama Kota Malang. Dan, Arema ini adalah aset bagi Pemkot dan masyarakat Malang.

Seberapa jauh dampak dihentikannya Liga Indonesia?

Jelas sangat berdampak dan sangat memukul dalam semua hal. Termasuk dalam segi keuangan. Kami bersyukur, semua kewajiban kami kepada seluruh komponen tim, termasuk puluhan karyawan, tetap dapat selalu kami lakukan dengan baik. Inilah wujud komitmen kami untuk terus menjaga eksistensi Arema dengan roh Arek Malangnya yang kuat sebagai kebanggaan arek-arek Malang. Situasi sekarang ini tentu sangat sulit, kompetisi dihentikan, kalau toh jalan tanpa penonton. Ayo kita rasakan bersama secara objektif, ini tujuannya semata mata ingin mempertahankan kebanggaan warga Malang Raya.

Apa harapan Anda?

Saya berharap ke depannya sudah tidak perlu ada perbedaan lagi. Toh keberadaan klub sepak bola Arema adalah untuk berprestasi dan mengharumkan nama Malang. Karena itu, jika Malang punya satu atau dua atau tiga klub Arema, bagi saya tidak ada masalah. Toh semuanya selalu berbuat yang terbaik untuk Kota Malang. Terpenting antara satu dan klub lainnya, jangan sampai berbenturan. Dan hal tersebut harus benar-benar selalu dijaga. Saya juga minta, jangan Arema ini hanya ‘dipergunakan’ untuk  kepentingan-kepentingan yang besar, atau hal-hal bersifat seremonial belaka, tapi setelah itu ditinggalkan begitu saja. (nug/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here