new malang pos
Siswa-siswi SDIT Ahmad Yani dalam kegiatan imunisasi di sekolah beberapa waktu yang lalu.

NEW MALANG POS, MALANG-Pandemi belum berakhir. Sekolah masih menerapkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Tentu dengan segala kendala dan permasalahanya. Baik untuk guru maupun siswa itu sendiri.

Apapun kondisinya proses belajar mengajar harus tetap berjalan. Pendidikan generasi bangsa harus diselamatkan. Yang paling penting tidak mengenyampingkan kualitas. Walaupun tidak semaksimal saat kondisi normal.

Di tengah kondisi pandemi ini, SDIT Ahmad Yani menerapkan satu terobosan. Yaitu program home visit dan school visit. Home visit adalah guru yang mengajar ke rumah siswa dan school visit, siswa yang ke sekolah.

Home visit dilaksanakan dengan sistem zona. Misalnya beberapa siswa SDIT Ahmad Yani yang di wilayah tertentu, bisa berkumpul di satu rumah siswa, di situ guru mengajar.

“Tapi tetap siswa dalam level kelas yang sama. Dan kami menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” ucap Kepala SDIT Ahmad Yani Nurdiah Rachmawati, M.Pd.

Adapun school visit diberlakukan untuk semua siswa mulai kelas 1 sampai kelas 6. Sistemnya secara bertahap. Program ini sudah direncanakan sejak September lalu.

Siswa datang ke sekolah dua hari sekali dalam satu hari ada dua tahap. Setiap tahap 120 menit. Siswa dibagi menjadi tiga kelas masing-masing kelas lima siswa dan didampingi dua guru.

“Jadi setiap tahap hanya ada 15 anak. Dan Alhamdulillah sudah berjalan satu putaran tanpa kendala yang berarti,” ujar Rachma.

Ia mengaku pada awalnya terjadi pro kontra untuk dilaksanakannya program school visit. Terutama di kalangan orang tua. Dari jumlah total 319 siswa, sebanyak 260 yang setuju. Jadi sekitar 80 persen orang tua yang setuju dan mendukung program school visit ini. “Namun kami tidak memaksakan. Siswa boleh ke sekolah asal dengan persetujuan orang tua,” tandasnya.

Selain itu Rachma menambahkan, SDIT Ahmad Yani juga melayani siswa yang mengalami kesulitan belajar di rumah. Misalnya tidak ada sarana untuk pembelajaran jarak jauh. Karena laptop atau gadget dipakai orang tua kerja. Atau keluarga yang menemani di rumah gagap teknologi.

Dengan kondisi tersebut siswa kesulitan belajar sendiri, mereka butuh pendamping. Termasuk sarana belajar. “Bagi yang mengalami kendala ini kami minta untuk datang ke sekolah,” imbuhnya.

Program layanan khusus ini  tidak serta merta dilakukan, guru benar-benar selektif. Diawali dengan komunikasi guru dengan orang tua. Selanjutnya dilakukan kunjungan guru untuk survei ke rumah siswa. Kalau hasilnya memang dibutuhkan bantuan maka siswa diundang untuk belajar di sekolah.

Menurut Rachma, PJJ memberikan tantangan dan yang besar. Termasuk ketidakmampuan siswa mengikuti PJJ. Sementara pandemi hingga kini belum diketahui batas masanya.

“Kita tidak mungkin membiarkan anak tidak sekolah sampai pandemi usai. Maka segala upaya kita lakukan,” tambahnya.

Ia berharap dengan program-program tersebut, dapat mengurangi beban pikiran orang tua. Dan school visit diharapkan memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar menerapkan protokol kesehatan.

Dengan menggunakan masker, cuci tangan dan menjaga jarak. Sekolah pun menyediakan bilik desinfektan. Untuk siswa, guru dan orang tua yang hadir ke sekolah. “Tidak ada masalah yang tidak terselesaikan dengan komunikasi yang baik,” pungkasnya. (imm/jon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here