new malang pos
Prof. Dr. Purnomo, ST., M.Pd

NEW MALANG POS, MALANG- Di Kota Malang dan Kabupaten Malang banyak banyak SMK yang masih kekurangan guru produktif, terutama di jurusan-jurusan tertentu. Padahal pemerintah mencanangkan SMK lebih banyak dari SMA. Perbandingannya mencapai 67 : 33.

Sehingga tentu saja, kekurangan guru produktif ini menjadi kendala yang menghambat laju perkembangan SMK. Dan mau tidak mau, harus segera dicarikan solusinya agar permasalahan tersebut dapat segera diatasi. Apalagi mulai tahun 2024 guru SMK di Kota Malang yang akan pensiun sebanyak 80 persen per tahunnya.

Fakta ini diuraikan oleh Prof. Dr. Purnomo, ST., M.Pd., dalam orasi ilmiahnya saat acara Pengukuhan Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM), di Graha Cakrawala, Kamis (19/11) kemarin,

Ia memaparkan, bahwa guru menempati garda terdepan dalam kelangsungan pendidikan di SMK, khususnya guru produktif. Berdasarkan kepentingan itulah maka Prof Purnomo melakukan analisis permintaan dan persediaan guru SMK. “Mau tak mau harus segera dilakukan (analisis),” katanya.

Menurutnya analisis mendalam sebagai langkah konkrit untuk meminimalisir kesenjangan antara permintaan guru dengan persediaan guru sangat diperlukan. Yakni analisis kolaboratif dengan melibatkan sekolah, dinas pendidikan dan pemerintah daerah dan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). “Pemerintah daerah dalam hal ini sebagai pengguna lulusan (demand). Sedangkan LPTK sebagai lembaga produsen atau penyedia tenaga kependidikan (supply),” terangnya.

Purnomo melakukan penelitian di dua jurusan SMK, yaitu jurusan mesin dan otomotif. Ia menemukan ada beberapa SMK yang kekurangan guru produktif di dua jurusan tersebut. Misalnya di SMKN 6 Malang dan SMKN 11 Malang.

Ia memaparkan beberapa komponen dasar perhitungan permintaan guru. Antara lain jumlah kelas atau rombel di tiap tingkat, kelompok praktik yang mengikuti pelajaran produktif, serta jumlah jam mapel per minggu pada suatu mapel sama dengan durasi waktu mapel dibagi tiga tahun dan dibagi 38 Minggu.

Sedangkan untuk persediaan guru langkah pertama yang dilakukan adalah mengkaji atau mengevaluasi terhadap kapabilitas LPTK yang bertanggungjawab terhadap ketersediaan tenaga guru.

Ketersediaan guru dievaluasi dengan beberapa komponen dasar. Diantaranya stok calon guru atau enrollment mahasiswa calon guru pada LPTK, lulusan tiap tahun, jenis dan jenjang program yang tersedia, kemampuan produksi tiap program dan resource yang tersedia untuk kemungkinan mengembangkan pada tahun berikutnya.

Purnomo berharap hasil kajian dan analisisnya dapat menjadi panduan dan bahan diskusi bagi pihak-pihak yang bertugas menyediakan tenaga pendidik dan kependidikan.

“Saya berharap hasil analisis ini dapat menjadi bahan diskusi dalam mengatasi permintaan dan persediaan guru SMK. Baik kuantitas, kualitas dan pendistribusiannya termasuk program keahlian yang tidak ada di LPTK,” harapnya. (imm/jon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here