New malang Pos
Ana Rokhmatussa’diyah (Doktor Ilmu Hukum dan Dosen Fakultas Hukum Unisma, Penulis Buku dan Ketua Pokja 1 TP PKK Kota Malang)

NEW MALANG POS – “We are quilty of many errors and faults, but our worst crime to abandoning our children, neglecting the fountain of life. Many of the things we need can wait. The child can not. Right now is the time his blood is being made and his senses are being developed. To him we cannot answer “tomorrow”. His name is “today”

Kalimat ini diterjemahkan oleh penyair Taufik Ismail dari Pemenang Hadiah Nobel Sastra tahun 1945 bernama Gabriela Mistral yang artinya “banyak kekhilafan dan kesalahan yang kita perbuat, namun kejahatan kita yang paling nista adalah kejahatan  mengabaikan anak-anak kita, melalaikan mata air hayat kita. Kita bisa tunda berbagai kebutuhan kita. Kebutuhan anak kita, tidak bisa ditunda. Pada saat ini, tulang-belulangnya sedang dibentuk, darahnya dibuat dan susunan sarafnya tengah disusun. Kepadanya kita tidak bisa berkata “esok”. Namanya adalah “kini”.

Anak-anak yang tingkat pertumbuhan atau kepentingan-kepentingannya tidak dipedulikan, berarti mengabaikan hak-hak asasinya untuk menjadi manusia yang berpribadi normal. Hak keadilan ekonomi dan kesejahteraan yang seharusnya dimiliki misalnya dapat berpengaruh terhadap hak-hak asasi lainnya, seperti hak memperoleh pendidikan yang layak jika hak tersebut dapat diimplementasikan. Hak asasinya di bidang perlindungan hukum yang gagal ditegakkan misalnya juga dapat berpengaruh secara negatif terhadap perkembangan fisik maupun non-fisiknya.

Anak dapat terjerumus dalam perilaku yang kontra produktif, melanggar norma-norma agama, hukum, dan sosial bilamana hak-haknya di bidang ekonomi tidak berhasil diwujudkan. Artinya, aspek kehidupan anak yang seharusnya dapat diisi untuk kegiatan yang positif bagi pertumbuhan moral, intelektual dan keagamaannya, akhirnya tidak maksimal bisa dipe­nuhi, karena hak fundamentalnya di bidang ekonomi (kese­jahteraan) tidak diperolehnya.

Salah satu akar masalah tersebut dapat dikaitkan dengan fenomena anak-anak yang terlibat dalam berbagai kegiatan kerja berekologis sosial informal, seperti menjadi pekerja-pekerja atau buruh-buruh yang diorientasikan guna memenuhi kebutuhan ekonominya. Keterlibatan anak dalam kegiatan bisnis ini mengakibatkan ada hak-haknya yang  lain terancam dilanggar pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggungjawab yang memanfaatkan kondisi rentan dalam kehidupannya.

Selain itu, mereka juga sangat potensial terli­bat dan dijebak serta dipengaruhi oleh kondisi ekologis mikro maupun makro, yang dapat menjerumuskannya dalam perilaku deviatif. Dari kategori pelanggaran dapat meningkat menjadi kejahatan yang meresahkan masyarakat atau mengakibatkan kerugian bagi hak-hak orang lain.

Sudah cukup lama dunia ini digelisahkan dengan makin meningkatnya kenakalan dan kejahatan yang pelakunya dari  kalangan  anak-anak.  Misalnya,  Laporan “United Nations Conggress on The Prevention of Crime and the Treatment of Offenders, menyatakan adanya kenaikan jumlah juvenile delenquency dalam kualitas kejahatan, dan peningkatan dalam kegarangan serta kebengisannya yang lebih banyak dilakukan dalam aksi-aksi kelompok daripada tindak kejahatan individual.

Jika masyarakat di Indonesia dewasa ini juga dilan­da kekhawatiran dan ketakutan dengan kecenderungan makin meningkatnya  kualitas dan macam-macam kejahatan yang dilakukan remaja atau anak-anak yang berstatus pelajar misalnya, negara maju yang menyebut dirinya sebagai pelopor penegakan HAM seperti Amerika Serikat juga menghadapi persoalan kejahatan remaja yang cukup serius.

Problem pelanggaran dan kejahatan bukan hanya terjadi dalam ekologis orang dewasa, tetapi juga di kalangan anak-anak. Begitu pula problem pelanggaran dan kejahatan tidak hanya terjadi di negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia, tetapi di negara-negara maju seperti Amerika Serikat juga sedang menghadapi kasus kejahatan yang pelakunya dari kalangan remaja.

Kecenderungan seperti yang terjadi di Amerika itu juga tampak terjadi di Indonesia,  artinya  ada pergeseran dan perubahan gaya hidup di kalangan remaja berstatus pelajar, baik yang berkaitan dengan sikapnya terhadap lawan jenis (perilaku seks) maupun hubungannya  dengan perkembangan nilai-nilai budaya, sosial dan lainnya.

Perubahan yang terjadi telah mengakibatkan remaja Indonesia menempuh jalan hidup yang sebelumnya dinilai terlarang menurut ukuran budi pekerti, agama dan hukum. Mereka menjauhi dan mengingkari norma-norma yang berlaku, bahkan di antara perilakunya termasuk kategori kejahatan baik kejahatan dalam perspektif moral, agama maupun lebih-lebih perspektif hukum.

Fenomena meresahkan dan mengkhawatirkan juga terjadi belakangan ini di Indonesia, khususnya yang menimpa kalangan anak usia muda. Tidak sedikit di antara mereka terjerumus dalam berbagai bentuk tindak kejahatan yang tergolong memberatkan. Dengan kata lain, kenakalan anak atau anak bermasalah dengan hukum (ABH) mendapat sorotan yang cukup tajam dari kalangan masyarakat yang memperhatikan masalah ini.  

ABH yang sering terjadi ini, tampaknya sudah kehilangan ciri “manis” nakalnya dan beberapa  di antaranya sudah menjurus pada tindakan-tindakan brutal atau kenekatan yang membahayakan keselamatan diri maupun nyawa orang lain. Penggunaan narkotika, penodongan, pemerasan dan sebagainya, cukup membuat sibuk para petugas keamanan untuk melakukan upaya preventif.

Itu menunjukkan bahwa, tidak lagi jenis kenakalan yang merajalela di kalangan anak-anak, melainkan kejahatan. Mereka sedang terjebak dalam pola dan gaya hidup yang bertentangan norma-norma hukum. Mereka sedang menempuh jalan yang dapat berdam­pak buruk bagi diri, masyarakat dan bangsanya.

Anak sebagai generasi yang memiliki karakteristik tersendiri, dimana fisik dan mentalnya belum matang dan dewasa. Agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan sebaik-baiknya, perlu adanya perlindungan dalam ekologi progresif dengan jalan membina, memelihara, dan meningkatkan kesejahteraannya. Jika tidak, maka sulit diharapkan pertumbuhan dan perkembangannya di kemudian hari akan berjalan normal.

Perlindungan anak dalam Kovenan-kovenan interna­sional juga intinya dilatarbelakangi oleh problem pelanggaran hak-hak asasi anak baik dalam aspek ekonomi, budaya, politik, hukum, dan lainnya, yang langsung maupun tidak langsung, yang pelanggaran hak-hak asasi anak itu dapat mengancam serius  masa depannya.

Dalam Mukadimah Deklarasi Hak-Hak Anak alenia 3 dinyatakan bahwa mengingat karena alasan fisik dan mental yang belum matang dan dewasa, anak-anak membutuh­kan perlindungan  serta  perawatan khusus termasuk per­lindungan hukum sebelum maupun sesudah mereka dilahirkan. Inilah kenapa anak butuh proteksi ekologis yang progresif.(*)     

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here