new malang pos
Faizin Dosen Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang

NEW MALANG POS – Baru bulan lalu kita peringati sebagai bulan bahasa, tampaknya tidak ada yang berubah dari tahun ke tahun. Hal yang mungkin berbeda yakni ramainya media massa dengan teks sumpah pemuda. Akan tetapi, penggunaan bahasa sebagai elemen inti dalam sumpah tersebut menjadi bias tafsir dalam pelaksanaanya. Tidak sulit memang untuk sekedar berbicara, lantas kenapa banyak yang salah tafsir isi pembicaraan orang lain?

Bahkan satu ujaran saja dapat mengegerkan dunia. Lebih parah lagi konflik akan bermunculan setelah ujaran tersebut dituturkan. Tak banyak mungkin yang menganlisa bahwa bahasa memiliki kontribusi besar dalam aspek kemunculan konflik. Begitu juga sebaliknya bahasa memiliki peranan besar untuk meredam konflik. Bahkan yang masih hangat saat ini yakni tuturan Presiden Prancis yang mejadikan goncangan bagi warga muslim dunia dan berbagai konflik di negaranya sendiri.

Itulah contoh nyata bagaimana kita menganggap biasa dan wajar apa yang kita tuturkan tetapi mitra tutur menganggap sebaliknya. Tidak hanya itu, bahkan di Indonesia masih banyak pula pelbagai tuturan yang disampaikan pesohor publik dan masyarakat lainnya menimbulkan berbagai kegaduhan.

Tampaknya kita kurang memerhatikan betul bagimana cara penyampaian pesan melalui bahasa yang dapat diterima dengan baik oleh penerimanya. Kita cenderung hanya memerhatikan bahwa kita dapat menyampaikan pesan dengan sarana bahasa. Sayangnya, berbagai hasil peneletian terkait konflik sangat minim bahasan aspek bahasa sebagai kajiannya.

Dalam arti spesifik bahasa dianggap kurang memiliki relevansi terhadap hubungan konflik. Hal ini dapat  dipahami dikarenakan bahasa terimplikasi secara inheren pada aktivitas sosial manusia sehari-hari, sehingga sulit diisolasi secara mandiri sebagai variabel faktor penyebab khusus munculnya konflik. Ketidakmampuan seseorang memproduksi bahasa yang baik dianggap tidak akan memiliki kontribusi tinggi terhadap kemunculan pelbagai persoalan dan konflik di ruang publik.

Bahasa sebagai piranti sosial akan selalu melekat terhadap seluruh aktivitas sosial yang dilakukan masyarakat. Keintiman keterlibatan bahasa dalam kemunculan konflik menjadi nyata dikarenakan bahasa merupakan pemarkah utama perbedaan antar individu, antar kelompok, dan antar negara. Dengan demikian, memproduksi bahasa tidak semata mengeluarkan verba melalui oral ataupun tulisan. Akan tetapi, perlu memerhatikan aspek penutur, diksi yang dituturkan, mitra tutur, situasi atau keadaan, dan aspek sosial lainnya. Hal tersebut untuk menjembatani  “cultural gap” penutur dengan mitranya. Dalam hal ini  bahasa tidak hanya  berfungsi sebagai wahana interaksi semata, tetapi juga mengemban fungsi sebagai wahana tata nilai dan simbol.

Rekonstruksi Diksi Publik

Ranah publik menjadi ranah sensitif terhadap berbagai hal, sebab banyak sesuatu yang harus menjadi latar dalam keadan sosial tertentu. Tak luput pula dalam aspek komunikasi, hal tersebut melekat dan menjadi penentu. Pelbagai macam produksi bahasa dalam komunikasi akan dimunculkan dengan maksud dan tujuan masing-masing dengan gaya dan cara yang berbeda-beda pula. Banyak sekali pemroduski bahasa tidak sadar bahwa diksi yang dimunculkan akan menyingung individu tertentu ataupun kelompok.

Keterbatasan kosakata yang dimiliki seseorang dalam interaksi sosial dapat membuat seseorang mengalami kesulitan mengungkapkan maksud tertentu terhadap orang lain.  Hal yang sebaliknya akan terjadi apabila seseorang kurang tepat dan berlebihan dalam penggunaan kosakata akan mempersulit diterimanya dan dipahaminya maksud dari isi pesan yang disampaikan. Oleh sebab itu, untuk meminimalisir hal tersebut seseorang harus mengetahui dan memahami bagaimana pemakaian kata dalam komunikasi yang baik di ranah publik.

Diksi dalam sarana komunikasi menduduki fungsi mutlak sebab diksi atau pilihan kata dalam penggunaan komunikasi akan berdampak terhadap ketepatan  kata-kata untuk mewakili pikiran dan perasaan yang ingin dinyatakan dalam suatu tuturan. Tidak cukup hanya itu kepekaan terhadap pemilihan kata ini akan menuntut kemampuan seseorang membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikannya.

Sehingga kemampuan tersebut hendaknya disesuaikan dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki sekelompok masyarakat dan pendengar atau pembaca dari pengujarnya. Diksi atau pilihan kata selalu mengandung ketepatan makna dan kesesuaian situasi dan nilai rasa yang ada pada pembaca atau pendengar. Sehingga secara otomatis dapat membentuk ekspresi gagasan yang tepat, menciptakan suasana yang tepat, mencegah perbedaan tafsir, dan mencegah salah pemahaman.

Dalam komunikasi publik sudah sewajarnya pemroduksi bahasa memiliki kepekaan terhadap penggunaan kata atau diksi dalam berbagai kesempatan dengan memerhitungkan ketepatan serta kesesuaian. Ketepatan ini akan menyangkut makna, logika, dan kesamaan maksud.  Dalam aspek kesesuaian hal ini akan merujuk terhadap konteks sosial yang terjadi. Dengan demikian, sudah sewajarnya seluruh masyarakat apalagi pesohor publik (pejabat dan artis) untuk memulai menjadikan diksi sebagai piranti penting komunikasi.

Jargon “Revolusi Mental” yang diidamkan Priseden Jokowi dengan persepsi bahwa warga Indonesia harus mengenal karakter orisinal bangsanya. Dalam arti lain Jokowi menginginkan masyarakat Indonesia yang berkarakter santun, berbudi pekerti, ramah, dan gotong royong. Hal ini jelas dapat dimulai dengan merekonstruksi ruang komunikasi publik yang bermartabat dan santun serta penggunaan diksi yang baik. Hal ini dapat dimulai dengan contoh dari berbagai pihak dengan mengutamakan kesantunan berbahasa dalam komunikasi publik.

Dengan demikian, hal tersebut akan memberikan dampak terhadap meminimalisir konflik serta kemampuan penutur bahasa untuk mensintesis pengetahuan dan prinsip-prinsip etika yang melekat di masyarakat dengan ketepatan penggunaan bahasa di berbagai latar sosial. Semoga dengan upaya ini kita dapat mewujudkan Indonesia yang multikultural dengan damai dan aman untuk menuju Indonesia yang berkemajuan.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here