new malang pos
Silvia Ramadhani Staf Humas dan Protokoler Universitas Muhammadiyah Malang

NEW MALANG POS – Memasuki era adaptasi kebiasaan baru, masyarakat dikenalkan dengan banyak protokol kesehatan. Jika pada awalnya untuk memakai masker saja orang akan jengah, kini ketika keluar rumah tanpa mengenakannya justru merasa tidak enak, kurang nyaman bahkan menimbulkan kekhawatiran.

          Ketertiban masyarakat bermasker, menjadi salah satu keberhasilan penerapan adaptasi kebiasaan baru yang dijalankan pemerintah. Ya, setelah mencoba berbagai bentuk pertahanan, mulai dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pembatasan Sosial Berskala Lokal (PSBL), adaptasi kebiasaan baru menjadi pertahanan paling kuat yang dinilai aman dari berbagai ancaman. Mulai dari ancaman Pandemi Covid 19 sendiri hingga krisis yang efeknya mungkin lebih parah akibat mandeknya roda perekonomian.

Bertahan Hidup

Ya, seperti halnya proses adaptasi yang lain, adaptasi kebiasaan baru merupakan proses penyesuaian diri manusia untuk dapat bertahan hidup. Kali ini, bertahan hidup di tengah pandemi tentunya. Berbeda dengan hewan yang terlahir dengan kemampuan adaptasi terbatas pada adaptasi morfologi, fisiologi dan tingkah laku, manusia memiliki akal yang jauh lebih sempurna.

          Berbagai hal ditelurkan pemerintah, sebagai pijakan utama pemberlakuan era adaptasi baru, mulai dari kebijakan penyelenggaraan acara, mekanisme pelayanan publik, kegiatan pendidikan dan perkantoran, pengenaan masker, kebiasaan mencuci tangan hingga bersih diri usai keluar rumah.

          Meski berjalan merangkak, dipenuhi keluh kesah, hingga permasalahan baru yang muncul, proses ini memaksa masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup secara “otodidak” sesuai dengan pemahaman, kepercayaan, dan tingkat kemampuan masing-masing. Berbagai informasi diterima dan dicerna oleh masyarakat dengan banyak latar belakang. Hampir semua merasa gelisah, juga menyangsikan.

          Mulai dari dunia pendidikan, sektor perdagangan, hingga kebijakan di bidang kesehatan terus dihantam berbagai celaan dan makian. Masyarakat berjalan terseok di berbagai kalangan, tak hanya golongan menengah ke bawah.           Memasuki bulan keenam dan ketujuh masa pandemi, ritme di masyarakat mulai terbentuk. Adaptasi yang dijalankan sesuai dengan kemampuan dan ilmu yang dimiliki mulai diapresiasi. Sudah banyak hal yang bangsa ini lakukan, mulai dari pengurangan jumlah karyawan di berbagai perusahaan, bergantinya mekanisme pendidikan dari luring ke daring, pemangkasan jam kerja perkantoran, pemberlakuan sift lebih banyak hingga peraturan penyelengaraan perjalanan dan layanan pemerintahan.

          Semua saat ini sudah jauh lebih peduli atas hadirnya pandemi ini. Hampir setiap rumah, menyediakan tempat cuci tangan, menyimpan handsanitezer, dan mengurangi aktivitas di luar rumah. Berbagai kegiatan kemasyarakatan juga secara otomatis telah banyak menyusut. Perbaikan pola makan dengan gizi berimbang, vaksinasi influensa, hingga memodifikasi perayaan hari-hari istimewa keluarga hingga kenegaraan dilakukan.

          Budaya jenguk menjenguk orang sakit dengan berombongan juga perlahan termodifikasi. Masyarakat seperti lebih bijak memilih dan memilah, apa yang harus dan tidak seharusnya dilakukan. Derajat kepentingan dalam melakukan sesuatu, melewati berbagai pertimbangan, melihat baik buruknya lalu mengambil jalan tengah yang aman. Efektif, efisien, namun tidak kehilangan momen yang berharga.

          Pesta pernikahan misalnya. Jika dulu masyrakat terbiasa dengan pesta mewah dengan undangan mencapai ratusan bahkan ribuan dan digelar sehari semalam yang digelar di dalam ruangan, mulai dari tenda-tenda hingga ballroom mewah kini berganti menjadi pesta kebun yang bersahaja. Bagi mereka yang terbatas dana, menggelar acara di halaman rumah menjadi alternatif. Mengundang kerabat terdekat, acara berjalan lebih khidmat.

          Kualitas Tak Hanya Rutinitas

          Selain kebutuhan akan pengetahuan dalam penerapan protokol kesehatan yang menyelamatkan nyawa, ada hal yang tidak boleh dilupakan pada masa pandemi ini yakni kualitas hidup yang berjalan. Entah di tempat kerja, di dunia sekolah, masyarakat, hingga lingkup terkecil keluarga. Semua harus ada standar penilaiannya. Artinya terukur. Tidak asal berjalan dan menggugurkan kewajiban.

Jika awalnya kita berharap pandemi segera berakhir, pergeseran “kepercayaan“ ini harus segera dijalankan. Masyarakat harus mulai berfikir, hadirnya berbagai kebijakan era adaptasi baru perlu dibarengi tekad yang kuat untuk memberikan yang terbaik dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga misalnya. Jangan hanya karena setiap hari bertemu dalam waktu yang tidak terbatas, aktivitas yang monoton dan kualitas interaksi serta komunikasi dilupakan. Di bidang pendidikan tak terkecuali. Jika pada awal pandemi kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara online dianggap hanya mengisi “kekosongan sementara” karena pandemi, kini harus menjadi point utama yang mendapat perhatian sepenuhnya. Tidak bisa tidak, orang tua harus membersamai, menyemangati dan memahamkan anak-anak, bahwa ini adalah era yang sudah berubah. Dijalankan secara online, bukan berarti hanya sekadar ala kadarnya. Target harus tetap dipasang. Usaha harus tetap dilakukan. Dan peningkatan harus selalu dihadirkan.

Hal yang sama berlaku juga di dunia kerja serta ranah ekonomi yang menggeser  berbagai bisnis dengan format baru. Pelayanan offline harus dilaksanakan dengan maksimal tanpa mengurangi kualitas produk dan kenyamanan pelanggan. Apalagi pelayanan publik oleh pemerintah. Bukan makin susah, semua keperluan yang dijalankan secara daring harusnya membawa lebih banyak kemudahan.

Genapi Kebutuhan Dasar Diri

Setelah menjadi gemulai dan melebur, membersamai serta berdampingan dengan Covid 19, manusia tidak boleh lupa untuk terus menyeimbangkan hidupnya, memenuhi lima kebutuhan dasarnya di era adaptasi kebiasaan baru.

Menurut Abraham Maslow dalam Teori Hierarki Kebutuhan, setiap manusia memiliki lima kebutuhan dasar yakni kebutuhan fisiologis makan, minum, pakaian, lalu keamanan, cinta, harga diri dan aktualisasi diri. Semua ini harus terpenuhi meski pengaplikasiannya mengalami “mutasi ” yang cukup menguras energi dan hati.

Di masa pandemi, kebutuhan aktualisasi tampaknya menjadi poin yang paling banyak membutuhkan sapuan kuas modifikasi agar kesempatan untuk terus mencipta karya tidak terhenti. Lagi-lagi, kita perlu berterima kasih pada teknologi karena hadirnya gadget di hampir semua golongan masyarakat, menjadi penyelamat. Berbagai aplikasi mulai dari media sosial, video conference, hingga game hadir sebagai partner terbaik. Kreasi dan atualisasi diri terus berjalan, masa bertahan di tengah pandemi tetap diliputi kebahagiaan.(*) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here