NMP
DIGELANDANG: Tersangka pembunuhan Marsudi dan Marsilan digelandang petugas Polres Malang.(NMP-IPUNK PURWANTO)

NEW MALANG POS, MALANG – Partner In Crime. Itulah hubungan sebenarnya antara korban Juarto dengan kedua tersangka Marsilan dan Marsudi. Mereka bertiga ini sebenarnya adalah teman. Yakni rekan dalam kejahatan.

Partner In Crime sebenarnya mempunyai makna ganda. Dalam bahasa anak-anak gaul, arti Partners In Crime lebih diarahkan pada teman saat susah – saat benar-benar susah. Misalnya pada saat bersama mengerjakan tugas di kelas yang sangat menguras tenaga dan pikiran. Atau partner saat susah payah cari dana dalam rangka penyelenggaraan kegiatan sekolah.

Sementara Partners In Crime dalam arti aslinya adalah pertemanan dalam mengerjakan kejahatan atau hal-hal negatif yang membahayakan atau merugikan orang lain. Korban dan kedua tersangka ini sebenarnya juga soulmate yang merugikan orang.

Mereka ini adalah kawanan pencuri pohon kopi di wilayahnya. Sasarannya adalah pohon milik warga. Pohon kopi ditebang dan dirusak.

“Penebangan lahan kopi ilegal milik warga itu sudah dilakukan beberapa kali. Tujuannya membuat keresahan warga. Sekaligus sebagai wujud tidak suka dengan Pemerintahan Desa Kepatihan,” terang Kapolres Malang AKBP Hendri Umar.

Minggu (11/10) lalu, tersangka Marsudi yang memendam sakit hati merencanakan pembunuhan. Rencana itu disampaikan kepada Marsilan. Kemudian malam itu juga, Marsudi menjemput korban di rumahnya dengan alasan diajak menebang pohon kopi yang sudah biasa mereka lakukan.

Keduanya lalu berboncengan motor Honda Vario menuju kebun kopi milik warga. Setiba di lokasi, ternyata Marsilan sudah menunggu. Mereka kemudian melakukan pencurian pohon kopi.

“Saat menebang pohon kopi, korban dalam keadaan bugil. Dan itu memang biasa dilakukan setiap kali melakukan penebangan ilegal. Sehingga ketika mayatnya ditemukan, korban dalam keadaan tanpa busana,” jelasnya.

Saat penebangan itulah, kemudian dari belakang kedua tersangka memukul kepala korban dengan batang kayu. Sekali pukul korban langsung tersungkur tak sadarkan diri. Mereka kemudian mengangkat tubuh korban lalu membuangnya ke sungai yang berjarak 10 meter dari TKP.

Setelah dipastikan korban meninggal dunia, kedua tersangka lalu kabur. Keesokan harinya, kedua tersangka mendatangi saksi berinisial M. Mereka meminta M membuat alibi.

Yakni meminta M, supaya mengatakan kalau korban datang ke rumahnya. Kemudian sudah pulang keesokan harinya. Keduanya meyakini kalau kasus pembunah itu bakal diselidiki polisi.

Namun sepandai tikus menyembunyikan batang, pasti akan ketahuan juga. Setelah diselidiki kedua tersangka berhasil diamankan.

Lantas bagaimana dengan kasus pencurian pohon kopi?. Hendri menegaskan masih menunggu laporan dari warga. “Pengakuannya ada tujuh TKP pencurian pohon kopi. Kalau ada warga yang melapor telah dirugikan, maka kasusnya juga akan kami proses,” tegas Hendri.(agp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here