NMP
SEBELUM PANDEMI: Siswa sekolah dasar ini terlihat semangat mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan sistem tatap muda.(NMP-IPUNG PURWANTO)
  • Awal November Kegiatan Belajar Mengajar Tatap Muka Dimulai

NEW MALANG POS, MALANG – Pemerintah Kabupaten Malang siap menggelar kegiatan belajar mengajar dengan  sistem tatap muka. Rencananya dimulai pada awal bulan November. Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang Dr. Rahmat Hardijono.

“Saat ini sedang disiapkan dan dimatangkan kembali rencana tersebut. Jika semuanya lancar insyaallah bulan depan pembelajaran tatap muka mulai dilaksanakan,’’ ucap Rahmat.

Menurutnya, rencana pembelajaran tatap muka ini seiring dengan kondisi sekarang. Kabupaten Malang sudah masuk dalam zona kuning. “Namun pelaksanaannya nanti secara bertahap,” katanya.

Harapannya, kondisi zona kuning ini tidak berubah lagi ke zona orange atau merah. Sebaliknya bisa kembali normal ke zona hijau.

“Saat pembelajaran tatap muka nanti juga terus dilakukan evaluasi untuk kebaikan bersama. Pastinya semuanya sedang dimatangkan kesiapannya, terutama untuk kelengkapannya,’’ urai Rahmat.

Kendati belajar dengan sistem tatap muka, semua pihak juga tetap memperhatikan keselamatan dan kesehatan. Alasannya jelas, jangan sampai belajar tatap muka justru menimbulkan kluster baru atau menambah jumlah kasus Covid-19 di Kabupaten Malang.

“Karena itu kami terus melakukan koordinasi untuk mempersiapkan semuanya. Karena bagi kami pembelajaran tatap muka ini penting, tapi kesehatan dan keselamatan masyarakat juga penting,’’ tegasnya.

Karenanya sebelum dimulai, lembaga sekolah wajibmenyediakan sarana sanitasi dan kebersihan sarana cuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun atau cairan pembersih tangan. Termasuk hand sanitizer dan disinfektan.

Selain itu, sekolah yang menggelar pembelajaran tatap muka harus memastikan kemampuan untuk mengakses secara mudah dan cepat fasilitas pelayanan kesehatan, seperti Puskesmas, klinik, rumah sakit, dan lainnya.

“Sekolah juga wajib menerapkan area wajib masker. Serta mengatur tata letak ruangan atau area lingkungan sekolah dengan memperhatikan jarak antar orang duduk dan berdiri. Mengantre minimal 1,5 meter dan kecukupan ruang terbuka serta saluran udara untuk memastikan sirkulasi yang baik,’’ beber Rahmat.

Bukan itu saja, sekolah juga wajib memiliki thermogun. Dimana alat tersebut digunakan untuk mengukur suhu para siswa sebelum mereka masuk ruang kelas. Termasuk wajib melakukan pemetaan baik guru dan siswa yang memiliki penyakit bawaan atau komorbit. Mereka tidak boleh datang ke sekolah meskipun digelar pembelajaran tatap muka.

“Karena mereka ini sangat rentan sehingga sesuai hasil koordinasi kami dengan para kepada sekolah, lebih dulu melakukan pemetaan guru dan siswa. Yang komorbit dilarang untuk datang ke sekolah,’’ tambahnya.

Bukan itu saja, sekolah juga wajib membuat kesepakatan bersama komite sekolah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan terkait kesiapan pembelajaran tatap muka. Pria berkacamatan ini juga mengatakan, orang tua atau wali murid tetap dapat memilih untuk melanjutkan belajar dari rumah bagi anaknya.

“Tidak ada paksaan. Jika orang tua tidak berkenan anaknya belajar tatap muka, mereka boleh tetap belajar dari rumah,’’ tambahnya.

Hal paling ditekankan Rahmat, saat pembelajaran tatap muka dilakukan, sekolah bersedia kembali ditutup apabila ditemukan kasus terkonfirmasi positif Covid-19.  “Ini juga sudah kami koordinasikan dengan seluruh kepala sekolah. Jika ditemukan ada siswa atau guru yang positif terpapar, maka sekolah kembali ditutup,’’ tandasnya.

Sementara dengan dibukanya kembali sistem belajar tatap muka, tentu membuat para siswa bahagia. Karena selama ini mereka merindukan sekolah dan kegiatan belajar mengajar selayaknya, seperti saat kondisi normal.(ira/agp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here