new malang pos
Seorang native asal Afghanistan Azizah Akbari mengajar Bahasa Inggris di kelas virtual TK Islam Sabilillah dalam program We Can Speak.

NEW MALANG POS, MALANG-Meski secara daring siswa-siswi TK Islam Sabilillah tetap semangat belajar Bahasa Inggris. Apalagi bisa belajar langsung dari turis. Tentu memberi kesan yang berbeda.

Akhir pekan lalu, ada program We Can Speak with Native. Dua native speaker dari Spanyol dan Afghanistan diundang TK Islam Sabilillah secara virtual.

Para siswa pun semakin asyik belajar. Mulai kosa kata (vocabolari) sampai pada lagu-lagu berbahasa Inggris. Di akhir sesi ada game dengan permainan tebak gambar.

Koordinator We Can Speak TK Islam Sabilillah Nufrida Desi S. S.Pd mengatakan meskipun secara virtual kegiatan We Can Speak tetap berlangsung interaktif. Siswa dapat mengikuti arahan para native dengan aktif. “Anak-anak cukup aktif belajar. Mereka dapat mengikuti dan menirukan apa yang diucapkan oleh native,” katanya.

Yang tak kalah seru saat di sesi game. Permainan tebak gambar berbahasa Inggris. Setiap siswa diberikan kesempatan untuk menjawab gambar yang ditampilkan oleh guru atau native.

Namun sebelumnya, guru memberikan penjelasan lebih dulu gambar apa saja yang akan diajarkan. Misalnya gambar dan nama-nama binatang. Atau tempat-tempat wisata seperti pantai, gunung dan lain-lain. “Tergantung tema yang kami ajarkan pada anak-anak,” ujar Desi. 

Mendapat kesempatan berbicara dengan turis merupakan hal yang menyenangkan. Apalagi konteksnya untuk peningkatan skill berbahasa asing. Sebuah kesempatan yang tentunya diharapkan oleh setiap siswa.

Tak peduli sedang pandemi, TK Islam Sabilillah tetap komitmen dengan visi dan misinya. Tetap menyajikan inovasi-inovasi pembelajaran yang tak biasa. Kreativitas menjadi ruh dalam setiap metode dan cara mengajar guru.

We Can Speak adalah salah satu program unggulan TKIS. Saat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), konsep belajar yang dipilih adalah secara virtual.

Kendati, demikian siswa tetap terlihat sangat antusias. Azizah Akbari dan Arthuro Diaz yang menjadi native pada pekan lalu, juga tak kalah semangat.

Kendati demikian, Desi mengakui We Can Speak yang digelar secara daring dengan siswa TK bukan perkara mudah. Materi yang diberikan harus benar-benar menarik.

Hal itu tidak lain untuk menjaga fokus siswa. Jika tidak anak akan merasa bosan dan tidak konsentrasi. Pembelajaran daring selama satu jam menjadi sesi yang sangat lama dan membosankan.

Maka dari itu, guru TK Islam Sabilillah terus berinovasi. PJJ menjadi tantangan yang harus bisa dilalui. Tidak lain dengan kreativitas untuk menyajikan hal-hal baru untuk anak didik.

“Dengan cara daring native atau guru tidak bisa lebih dekat dengan anak. Kami juga tidak bisa mengajak mereka bermain sebagai bagian dari pembelajaran. Tapi bagi kami ini bukan kendala. Tapi tantangan yang harus dihadapi dengan kreativitas dan inovasi,” tuturnya. (imm/jon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here