NMP
DARI KIRI: Moderator Anam, Ekonom UMM, Jihadi, Dirut BBJ, Paulus Lumintang, Dirut KBI (Persero), Fajar Wibhiyadi dan Pincab BPF Malang, Andri.(NMP-Marga)

NEW MALANG POS – Sejak awal tahun 2020, kondisi perekonomian Indonesia mengalami kontraksi yang diakibatkan perang dagang AS – China serta kemunculan pandemi Covid – 19. Tak ayal, pada kuartal 1, pertumbuhan ekonomi nasional hanya mampu mendarat di level 2,97 persen.

Jauh dari target sebesar 4,5 persen sampai 4,6 persen. Pada 24 Maret 2020, IHSG pun sempat jatuh ke titik terendah yaitu turun 37 persen ditutup pada level 3.937. Perlambatan ini semakin kuat setelah sinyal resesi dibunyikan pada jelang akhir kuartal 2. Kinerja sebagian portfolio Investasi dalam negeri lesu.

Sementara itu terjadi anomali pada harga emas yang melonjak naik hingga menembus level US$ 2.070 / troy ons pada 7 Agustus 2020 silam . Sebagai salah satu instrumen safe haven, emas menjadi buruan para investor di tengah ketidakpastian ekonomi global dan kekhawatiran di masa pandemi.

Penyebaran Covid – 19, terutama menjadi faktor pengungkit yang memicu kenaikan harga emas, meski pada akhirnya kembali melandai di level US$ 1.850 – US$ 1980 / troy ons sekarang. Namun, peluang emas untuk kembali bersinar masih besar. Sebab, pemilihan Presiden Amerika Serikat dan kembali meningkatnya ketegangan AS – Tiongkok diprediksi mendorong emas kembali naik.

Gambaran seluruh analisa dan prediksi tersebut terangkum dalam kegiatan Invesment Outlook PT Bestprofit Futures (BPF) Malang bersama dengan PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) dan Universitas Muhammadiyah Malang di Hotel Ibis Style, Malang.

Pimpinan Cabang BPF Malang, Andri mengatakan bahwa situasi ekonomi yang tidak menentu membuat banyak investor bertanya-tanya mengenai arah ke depan. Atas dasar itu, BPF Malang berinisiatif mengadakan Investment Outlook, Rabu (21/10) sebagai upaya memberi kontribusi positif bagi perkembangan investasi di Indonesia khususnya di kota Malang.

Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta, Stephanus Paulus Lumintang mengatakan bahwa dalam keadaan ekonomi yang masih bergejolak, terutama pada masa pandemi ini secara global masih berpeluang dalam melakukan investasi mendapatkan keuntungan dengan menggunakan moment dan instrumen yang tepat.

Seperti berinvestasi dalam instrumen perdagangan berjangka, misalnya dalam kontrak emas loco London, kontrak berjangka kopi, dan lain-lain. Dimana gejolak lain, selain masa pandemi, adanya pemilihan presiden Amerika Serikat yang akan turut serta mempengaruhi gejolak ekonomi dunia. Tentunya investasi yang dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat resiko dan konsekuensi dari masing- masing jenis investasi yang akan digeluti.

Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) Fajar Wibhiyadi mengatakan sejak awal tahun 2020 wabah Covid – 19 telah memberikan dampak ekonomi yang cukup besar, dan hampir ke semua sektor ekonomi. Namun ada sebuah fenomena yang menarik di industri perdagangan berjangka komoditi, dimana saat masa pendemi ini, justru terjadi kenaikan transaksi.

Data PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) yang berperan sebagai Lembaga Kliring Penyelesaian dan Penjaminan Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi di BBJ menunjukkan, hingga Kuartal III tahun 2020 terjadi pertumbuhan transaksi sebesar 25,43 persen, dari 992.187 lot di Kuartal III 2019 menjadi 1.244.491 Lot di Kuartal III 2020.

Selain itu, dari Pasar Fisik Komoditas juga menunjukkan trend kenaikan yang positif. Data transaksi Pasar Fisik Komoditas Timah Murni Batangan di Bursa Berjangka Jakarta sampai dengan Kuartal III tahun 2020, terjadi total transaksi sebanyak 9.850 Lot dalam 49.296 Ton, dengan Transaction Value sebesar USD 813.986.011. Ini semua tentu merupakan bukti bahwa industri Perdagangan Berjangka Komoditi cukup tahan terhadap guncangan ekonomi, baik lokal maupun global.

“Kami optimis, kedepan industri perdagangan berjangka komoditi akan terus berkembang. Tantangannya adalah bagaimana para pelaku melakukan edukasi yang benar kepada masyarakat tentang investasi di PBK,” tandasnya. Melihat situasi kesehatan yang mulai pulih dengan penemuan dan dimulainya pendistribusian vaksin Covid 19, kondisi perekonomian nasional diprediksi pulih perlahan.

Sementara menunggu aktivitas normal secara keseluruhan, proyeksi emas sebagai alternatif investasi primadona diperkirakan masih bakal berlanjut. Sementara itu, menutup kuartal III tahun ini, BPF Malang mencatat pertumbuhan volume transaksi sebesar 75.663 lot, naik 107,59% dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama.

Sementara itu untuk jumlah nasabah baru sepanjang Januari 2020 sampai September 2020, BPF Malang mampu menarik 187 nasabah baru atau meningkat 49,60% dari kuartal III tahun lalu. Andri mengatakan peningkatan kinerja selama pandemi dikarenakan animo masyarakat terhadap investasi perdagangan berjangka mulai bergairah.

Edukasi yang dilakukan selama ini melalui pemberitaan, kegiatan di kampus, hingga service door to door ke setiap calon nasabah yang ingin mencoba lakukan transaksi telah membuahkan hasil yang positif. “Kami berharap bahwa semakin banyak masyarakat yang melirik investasi di perdagangan berjangka sebagai alternatif investasi pilihan yang menjanjikan,” tegasnya. (mar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here