NEW MALANG POS – SEJUMLAH proyek mercusuar Kota Batu punya nilai positif. Daya manfaatnya besar. Begitu juga dengan gagasan desa wisata. Strategis karena berdampak bagi warga sekaligus untuk Pemkot Batu. Tapi harus memperhatikan berbagai syarat penting sehingga tujuannya tepat sasaran.

Pakar ekonomi FEB Universitas Brawijaya (UB) Nugroho Suryo Bintoro, SE, M.Ec.Dev, Ph.D dan pakar pariwisata UB, A. Faidlal Rahman, SE.Par, M.Sc memberikan analisanya masing-masing tentang dua tema besar Kota Batu. Yakni proyek mercusuar Pasar Besar Batu dan pengembangan desa wisata.

Menurut Nugroho, pembangunan Pasar Besar Batu maupun kereta gantung strategis. Asalkan mengakomodir pelaku usaha tradisional. Selain itu komitmen pemerintah mensejahterakan masyarakat harus terukur.

Koordinasi antara kepala daerah di Malang Raya pun sangat penting. Yakni Wali Kota Batu, Bupati Malang dan  Wali Kota Malang. Sehingga sinergitasnya kuat dan berdampak pada warga. “Perlu koordinasi tiga kepala daerah di Malang Raya. Tiga daerah ini mau diwacanakan seperti apa. Misalnya Kota Batu sebagai Kota Pariwisata baik alami maupun buatan, kemudian Kota Malang  kota jasa dan perdagangan serta Kabupaten Malang sebagai daerah industri, yang seperti ini harus ada pakem,” ungkap Nugroho.

Ketiga kepala daerah tersebut idealnya punya kesepahaman, bahkan kesepakatan. Sehingga pembangunan terintegrasi dan berlanjut. Sebab terintegrasi dan berlanjut ini masih jarang dilakukan kepala daerah di Indonesia.

Pembangunan Pasar Besar Batu misalnya, jika terealisasi akan memiliki dampak besar dari segi ekonomi. Namun akan lebih baik jika terintegrasi. Contohnya pasar induk adalah pasar Lawang. Kemudian terdistribusi ketiga daerah baik dari kabupaten Malang, Kota Malang maupun Kota Batu.

“Prinsipnya jangan sampai saling berebut, karena ada Pasar Lawang kemudian Batu ada pasar yang notabenenya sebagai kota pariwisata. Semua akan diambil Kota Batu sehingga ini menjadi hal yang tidak baik. Sebab daerah sekitarnya akan melakukan hal yang sama sehingga pembangunan tidak akan bersinergi,” urai alumnus School of Public Administration – Huazhong University of Science and Technology, Wuhan, P.R. China ini.

Identifikasi Potensi Desa Wisata

Kota Batu memang memiliki potensi luar biasa dari sisi wisata meskipun hampir sama di setiap daerah. Yakni lebih ke alam maupun pertanian. Potensi tersebut  ditunjang oleh budaya dan tradisi masyarakat sehingga patut dikembangkan.

Pemandangan desa wisata bisa diversifikasi produk pariwisata yang ada di Kota Batu. Sebab selama ini produk pariwisata lebih dikenal masyarakat umum bersifat artifisial atau buatan. Sehingga hadirnya desa wisata bisa menambah keragaman.

Menurut A Faidlal Rahman, SE.Par, M.Sc, desa wisata adalah produk yang menawarkan keunikan dan potensi desa. Artinya memiliki segmen pasar tersendiri. Sehingga tidak bisa disamakan antara desa wisata dengan wisata artifisial.

“Apalagi desa wisata ini adalah produk yang didesain mengedepankan keunikan, kekhasan dan potensi desa. Jadi cara membangunnya harus sesuai dengan karakteristik daerah tersebut. Jika berbicara apakah akan menarik? Jelas menarik bagi wisatawan yang ingin mengetahui potensi desa atau mereka ingin tinggal di desa,” ungkap Faidhal.

Desa wisata tidak akan menarik apabila motivasi wisatawan bukan pada wisata desa. Untuk itu upaya pengembangannya sebagai sebuah diversifikasi produk wisata yang ada dan melengkapi destinasi wisata di Kota Batu.

Namun yang perlu diperhatikan adalah wisata menjadi peluang yang besar untuk menarik wisatawan berkunjung ke Kota Batu. Untuk mewujudkan desa wisata dibutuhkan identifikasi potensi daerah. Apalagi setiap desa meskipun ‘DNA’ sama tetapi tetap ada perbedaan khususnya dari segi potensi.

“Untuk mengembangkannya berangkat dari potensi apa yang paling dominan di desa itu. Kemudian perlu dibuat master plan pengembangan desa wisata, lalu dibuat paket-paket wisata, menggelar event-event, membuat home stay dan lain sebagainya,” paparnya.

Event yang digelar pun juga harus jelas dan tidak keluar dari kerangka keunikan potensi desa tersebut. Tak lupa desa wisata juga perlu branding dengan membuat media sosial dan dikelola secara profesional oleh warga desa dan kepala desa setempat.

Pengembangan desa wisata tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan peran masyarakat termasuk menentukan mana yang akan dijadikan homestay, pelaku usaha, pemerintah sebagai regulator juga diperlukan perannya. Pelaku pariwisata besar kedepan mendukung dan mendorong tumbuh kembangnya desa wisata ini.

“Dan jangan menganggap desa wisata pesaing mereka, tapi ini untuk melengkapi keragaman produk pariwisata di Kota Batu. Kalau ini terwujud pasti di situ akan ada ada aktivitas, potensi kesenian, kebudayaan dan tradisi masyarakat terlestarikan,”  paparnya.

Apabila banyak wisatawan berkunjung ke desa wisata, pemda mendapat PAD. Ekonomi warga ikut bergerak.  (lin/van)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here