Kekerasan Online Oleh Kaum Terdidik

0

NEW MALANG POS – Kekerasan di lingkungan dunia pendidikan tinggi masih saja terjadi. Meski ini era daring atau online, jenis kekerasan yang lain masih dilakukan oleh “oknum” kaum terdidik. Misalnya yang baru-baru ini terjadi, mahasiswa baru (maba) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mendapat perlakuan tidak menyenangkan ketika dibentak-bentak oleh senior mereka saat ospek online. Penyebabnya karena maba tersebut diketahui tidak mengenakan ikat pinggang saat ospek online berlangsung. Hal ini pun sempat viral di media sosial dan mendapat beragam komentar dari warganet.

Kasus lainnya, viral ospek mahasiswa baru di Universitas Khairun. Kejadian tidak menyenangkan saat ospek, juga terjadi di Universitas Khairun, Ternate pada 29 Agustus 2020 hingga berujung viral di media sosial. Melansir Kompas.com, 30 Agustus 2020, maba di Universitas Khairun saat itu satu persatu meminum air yang sudah disediakan panitia orientasi di dalam gelas air mineral, setelah itu meludahkannya kembali ke dalam gelas tersebut. Hal itu dilakukan peserta orientasi secara bergiliran di dalam sebuah ruangan. Terlihat, hampir sebagian besar mahasiswi ragu-ragu untuk meminumnya, namun tetap saja mereka lakukan. Setelah kejadian itu, pihak kampus menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut.

Itu mengisyaratkan, bahwa meski Ospek atau Oshika bagi mahasiswa baru secara umum dijalankan dengan cara online, namun kekerasan yang menimpa maba masih tetap terjadi. Kekerasan ini terbukti masih menjadi bahasa sehari-hari manusia yang mengaku beradab, terpelajar, dan cendekia.

Kebiadaban kaum terpelajar itu mencerminkan dirinya sebagai manusia-manusia yang mengibarkan symbol-simbol modernitas, namun tetap kesulitan bercerai dengan kebiadaban. Ketidakadaban masih menyeruak menjadi perilaku yang diabsahkan oleh kekuatan-kekuatan kaum yang menyebut dirinya paling ber-akal-budi.

Bisa dibaca, bahwa tindak kekerasan (violence) masih dijadikan sebagai “opsi” kehidupan di bawah payung dan atasnama otoritas hegemoni akademik. Pilihan berupa “okol” (ucapan kasar, tidak layak) masih lebih disuperioritaskan, kalau tak diabsolutkan dibandingkan pilihan cerdas dengan menggunakan akal sehat. Kekuatan anomalitas verbal masih ditampilkan untuk jadi “penghakim liar”, dan barbar untuk melindas berfungsinya akal sehat.

Oknum kaum terpelajar, yang merasa dan mempopulerkan dirinya jadi pelaku sejarah yang menentukan disain konstruksi bernegara dan bermasyarakat masih belum benar-benar jadi terbentuknya masyarakat berperadaban tinggi, justru yang ditampilkannya masihlah produk perilaku orang-orang yang layaknya tak perlu dan tak pernah mengenal norma, moral, agama, dan hak-hak asasi manusia (HAM).

Mereka itu tergolong tak cukup punya malu  tatkala kekerasan dijadikan sebagai senjata utama dalam menjawab interaksi sosial-edukatif. Kondisi ini dapat terbaca secara general, bahwa dalam kehidupan keseharian mereka, jika dihadapkan dengan tantangan kegiatan yang melibatkan banyak elemen kampus secar pluralistik, bukan tidak mungkin mereka akan kesulitan mencegah dirinya dari kecenderungan melakukan dan bahkan “membiasakan” pelecehan dan pelaggaran hak-hak asasi manusia, meski dalam lingkup mikro.

Mengapa mereka sampai bisa terjerumus melakukan kekerasan? Jawabannya: di dunia mereka sedang mengalami krisis  sentuhan hati nurani yang lembut atau banyaknya dan beragamnya “teladan” berucap, bersikap dan berperilaku dehumanistik.

Mereka memang sering mendapatkan “pelajaran”, bahwa di berbagai lapisan masyarakat masih demikian kuat bersemainya “kekerasan” sebagai instrumen supremasi rule of game.  Suatu komunitas gampang menkomoditi kekerasan sebagai konsekuensi logis dalam bangunan system yang diwajibkan untuk dipatuhi, meski hal itu kemudian menyerempet dan mereduksi hak-hak sesama manusia. Ada hak fundamental yang dilecehkan dan dikorbankan. Kekerasan menjadi sistem yang dibenarkan dalam bingkai struktural dan kultural.

Meski barangkali mereka selalu dipesan agar kekuatan fisik tak dikedepankan sebagai “hukum” yang menghakimi segmen komunitas, tetapi kita tetap membutakan mata hati atau ambil sikap tak peduli. Mereka tetap menjadi pengikut Thomas Hobbes, kalau manusia itu tak lebih dari homo homini lupus, manusia belum tergeser wataknya dari  “serigala bagi manusia lainnya.” Manusia merupakan deskripsi dari hewan yang lebih ganas dibandingkan serigala tatkala keunggulan akal dikalahkan.

Kaum terpelajar itu pun akhirnya menjadi tak steril dari watak yang membahayakan kehidupan orang lain. Tatkala hati nurani sudah kehilangan “kecerdasan transendentalnya”, sudah ditumpulkan oleh kekuatan emosional  yang disuperioritaskan, dan dilindas oleh target pemuasan eksperimen pendadaran fisik yang tak mempedulikan  batas ketahanan, maka yang terlihat adalah tampilan perilaku “animalistic”, suatu bentuk tindakan yang anomaly yang tak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh binatang.

Boleh jadi kaum terpelajar itu bisa lebih sadistik, dan biadab meramu ucapan dan menggelar perilakunya, karena tatkala akalnya disalahgunakan, dijadikan alat memuluskan pembohongan atau merencanakan berbagai bentuk pembenaran atau “penghalalan” perilaku bercorak deviatif dan dehumanistik

Embrio kriminalitas yang mengguncang dan menjatuhkan citra pendidikan tinggi ke tataran yang memprihatinkan itu adalah berkat tindakan dehumanisasi Sebagian oknum kaum terpelajar, yang menurut istilah kriminolog Edwin Sutherland dikategorikan dengan “kejahatan” yang dibentuk lewat proses pembelajaran. Artinya mereka rentan melakukan kekerasan karena belajar dari realitas kekerasan yang dipahami dan dikiblatinya.

Kaum terpelajar seperti itu identik menikmati romantisme kultural yang bercorak represif dan otoritarian, sehingga otomatis  membuat kampus sulit lekang dari kekerasan demi kekerasan, sekecil apapun.

Atas dasar itu, maka kasus di Unesa, Universitas Khairun, dan barangkali masih banyak yang lainnya, sebenarnya dapat “tertafsirkan” hanya mempresentasikan kondisi secara umum dunia pendidikan tinggi (komunitasnya manusia terpelajar) di Indonesia yang masih belum steril dari berbagai praktik-praktik konvensional dan barbar. Dimana perilaku mulia dan berbasis keagungan budi serta penghormatan terhadap martabat manusia masih merupakan barang  mahal yang belum bisa “terbeli” dan dinikmati oleh komunitas terdidik secara universalistik, yang akan atau sedang menunaikan tugasnya sebagai agen pembaharuan. Oleh karena itu, kearifan dalam menyikapinya jika terjadi kekerasan online, pimpinan kampus dapat dilakukan secara demokratis dan berkeadaban.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here