Personal Block dan Kemiskinan

0

NEW MALANG POS – Jika mendengar kata ideal, tentu yang kita bayangkan adalah segala sesuatu yang sesuai, cocok, dan yang sudah sepatutnya. Jika sesuatu dirasa tidak sesuai, tidak cocok dan tidak patut, maka hal tersebut dikatakan tidak ideal. Ada standarisasi ideal dan tidak ideal. Akhirnya, kita terbiasa membuat standar standar tertentu untuk setiap hal dalam hidup kita.

Jika ingin sukses dalam hidup, maka kita harus sekolah setinggi tingginya. Jika sudah sekolah sampai tingkat perguruan tinggi, maka bekerjanya tidak boleh sama dengan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh orang dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah, gajinya harus juga lebih tinggi. Bahkan sampai dengan urusan menikah, harus dilakukan dengan orang yang memiliki tingkat pendidikan yang setara, berasal dari keluarga dengan kalangan yang setara, dan lain sebagainya.

Hal di atas akhirnya membentuk semacam pembatas, seorang tokoh sosiologi; Paul B Horton menyebutnya dengan In-group dan Out-grup. Orang dengan identitas kelompok 1 tidak boleh menyeberang/berada di kelompok yang lain. Setidaknya, inilah yang saya pahami dari pernyataan Menteri Koordinator PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan)tentang “orang kaya menikah dengan orang miskin.”

Pak Menteri sepertinya menyadari bahwa budaya budaya kemiskinan—jika meminjam konsep yang digunakan oleh Oscar Lewis—sudah berjalan lama di negeri ini.

Perangkap Kemiskinan (Deprivation Trap)

          Dalam karyanya, Oscar Lewis menuliskan temuannya tentang fenomena kemiskinan di Amerika Latin. Disebutkan, masyarakat tidak pernah bisa keluar dari jebakan kemiskinan karena alih-alih membangun akses, mereka (orang miskin) justru cenderung membentuk kelompok/komunitas yang terdiri dari kalangan yang sama. Karena itu, mereka tidak memiliki peluang untuk memiliki akses yang berguna untuk memutus rantai kemiskinan tersebut.

          Meskipun tidak sama persis, tetapi hal yang dituliskan oleh Oscar Lewis tadi masih relevan untuk digunakan menganalisis kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan yang sama. Kondisi tersebut di atas, dikatakan Robert Chambers dengan perangkap kemiskinan (Deprivation Trap). Individu yang berada di lingkaran tersebut hanya akan memiliki sedikit, bahkan tidak punya sama sekali peluang untuk mendapat akses memperbaiki nasibnya. Sehingga timbul jurang pemisah yang sangat lebar antara si kaya dan si miskin. Si miskin tidak akan bisa dengan mudah menyeberang ke sisi lainnya (si kaya). Meskipun ada yang pernah berhasil, tapi prosentasenya sangat sangat kecil.

          Personal Block

          Kondisi tadi diperparah dengan kebiasaan masyarakat kita yang suka minder atau enggan untuk bergabung dengan orang yang memiliki latar belakang berbeda. Tentu kita tidak asing mendengar kalimat “menikah itu harus melihat bibit bebet dan bobotnya”, meski memiliki tujuan yang baik, tetapi sering kalimat tersebut dijadikan dasar pengambilan keputusan yang melanggengkan kemiskinan di negeri ini.

          Seseorang akan memiliki kecenderungan untuk membatasi dirinya agar tidak keluar dari lingkungan kehidupannya, kalau bisa semakin naik, tidak boleh di bawah standar saat ini. Inilah yang kemudian disebut dengan Personal Block.

          Standar-standar personal kemudian diciptakan, semua dengan tujuan menjaga stabilitas status. Ketika seseorang sudah bergelar sarjana, dia akan memiliki kecenderungan untuk memilih pasangan hidup dengan orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang sama. Meskipun kemudian orang tadi bertemu dengan seseorang yang cocok tetapi tidak memiliki latar belakang pendidikan yang sama, besar kemungkinan dia akan mempertimbangkan ulang terkait keputusan yang akan dia lakukan berikutnya.

          Di sisi lain, orang dengan latar belakang berbeda (di bawah standar personal) juga melakukan hal yang sama. Dia akan merasa minder jika dihadapkan dengan situasi yang sama, kemudian yang terjadi adalah jurang pemisah antara kelompok satu dengan kelompok yang lain tadi semakin kuat dan semakin kuat. Dalam situasi seperti ini, idiom “yang kaya makin kaya, yang miskin tetap miskin” akhirnya tetap memiliki eksistensinya.

          Sepertinya memang sudah saatnya masyarakat negeri ini memutus tradisi penyebab kemiskinan kultural ini, salah satunya adalah dengan menghilangkan personal block dalam kehidupan kita. Saya rasa kemiskinan karena ketidakmampuan memiliki akses sudah terlampau berat dibebankan kepada mereka, janganlah ditambah dengan egoisme menjaga status quo menjadi penghalang tambahan bagi mereka untuk bisa memperbaiki nasib.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here