Mewaspadai Happy Hypoxia pada Covid-19

0

NEW MALANG POS – Pandemi Covid-19 belum berakhir. Terhitung tujuh bulan sejak kasus pertama ditemukan pada awal Maret 2020 lalu, belum ada tanda-tanda kurva kasus Covid-19 akan melandai. Justru, jumlah kasus Covid-19 makin melonjak. Kasus kematian kian meningkat. Ratusan tenaga medis pun ikut berguguran.

Data per 6 Oktober 2020 lalu, kasus konfirmasi positif Covid-19 di Indonesia mencapai 311.176 kasus dan 11.374 kasus meninggal dunia. Di Kota Malang, tercatat 1.830 kasus positif dan 178 orang meninggal. Dari kalangan tenaga medis, sebanyak 130 dokter dan 92 perawat wafat akibat Covid-19. Di saat genting seperti ini, muncul fenomena baru yang menambah kekhawatiran: happy hypoxia.

Apa Itu Happy Hypoxia?

Happy hypoxia merupakan suatu gejala laten pada penyakit Covid-19. Hypoxia adalah kondisi di mana seseorang mengalami penurunan kadar oksigen dalam darah. Saturasi oksigen darah yang normal berkisar 90-100 persen. Jika saturasi oksigen kurang dari 90 persen, pasien akan mengalami sesak. Pada penyakit Covid-19, hypoxia dapat terjadi karena adanya radang di paru atau sumbatan bekuan darah di pembuluh darah paru.

Jika terjadi penurunan saturasi oksigen darah, normalnya tubuh akan segera merespon dengan mempercepat pernapasan. Akibatnya akan timbul gejala sesak pada pasien. Keluhan sesak ini menjadi alarm bagi tenaga medis untuk segera memberi bantuan oksigen pada pasien.

Namun, pada beberapa pasien Covid-19, ditemukan kadar oksigen dalam darah sudah berkurang, tapi pasien tampak baik-baik saja. Tak ada sesak atau keluhan berat lainnya. Hanya gejala ringan seperti demam, batuk, atau pilek saja. Bahkan pasien masih bisa beraktivitas seperti biasa. Sesak yang menjadi tanda adanya hypoxia pun tak terdeteksi. Karena itulah, fenomena ini disebut happy hypoxia atau silent hypoxia.

Dalam infografis yang dibuat dr Adam Prabata, saturasi oksigen pada pasien Covid-19 yang mengalami happy hypoxia hanya 62-78 persen, meski sudah dibantu dengan oksigenasi. Hingga saat ini belum bisa dipastikan jumlah kasus happy hypoxia pada pasien Covid-19. Estimasi dari penelitian yang ada, happy hypoxia terjadi pada 62 persen pasien berat dan 46 persen pasien yang diintubasi/ ICU/ meninggal dunia. Mekanisme timbulnya happy hypoxia pada pasien Covid-19 belum diketahui dengan pasti. Ada beberapa mekanisme yang masih diteliti. Pertama, kemungkinan terjadi toleransi terhadap penurunan saturasi oksigen dalam darah. Kedua, sumbatan pembuluh darah dapat menghambat respon pernapasan.

Ketiga, pada pasien Covid-19 usia tua atau punya komorbid diabetes, respon pernapasan akibat hipoksia berkurang. Dan keempat, kemungkinan Covid-19 mampu menyerang sistem saraf dan menyebabkan gangguan pada respon sesak.

Gawatnya, pasien yang mengalami happy hypoxia ini kondisinya sulit diprediksi. Jika kadar oksigennya sudah sangat rendah, kondisi pasien akan mengalami perburukan yang drastis. Yang awalnya baik-baik saja, dalam waktu yang sangat cepat, bisa berubah menjadi sesak yang hebat, hilang kesadaran, sampai meninggal dunia.

Karena itulah, setiap pasien yang sudah terkonfirmasi positif Covid-19 harus diobservasi secara ketat. Walaupun awalnya tak bergejala, tetap harus dipantau secara berkala. Tanda-tanda vital tubuh harus rutin diperiksa, terutama pengukuran saturasi oksigen dalam darah. Cara termudah adalah dengan menggunakan alat seperti pulse oximetry. Namun, alat ini tidak direkomendasikan dipergunakan sendiri oleh orang awam, melainkan tetap harus dalam pantauan tenaga kesehatan.

Bukan Penyakit Biasa

Adanya happy hypoxia ini membuktikan Covid-19 bukan penyakit biasa. Penyakit ini berbahaya, tak boleh dianggap sederhana. Karena itulah, penanganan wabah harus dilaksanakan dengan serius dan seksama. Kesehatan dan keselamatan rakyat harusnya menjadi perhatian utama.

Dalam Islam, satu nyawa lebih berharga dibandingkan dunia seisinya. Menyelamatkan nyawa satu orang sekalipun sangatlah penting. “Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (Al Maidah: 32)

Sekarang, bukan hanya satu orang saja yang telah kehilangan nyawa, tapi ribuan! 11 ribu lebih orang meninggal itu bukanlah angka statistik belaka. Mereka adalah ayah, ibu, saudara, yang sangat dicintai oleh keluarganya. Bahkan ada satu keluarga yang harus kehilangan beberapa anggotanya secara beruntun karena virus ini.

Jangan meremehkan wabah ini. Jangan sampai kita baru tersadar ketika virus Korona menyerang orang yang kita sayang. Jangan pula menuduh rumah sakit dan tenaga medis sengaja meng-Covid-kan. Tak ada gunanya membisniskan Covid-19. Tak akan sebanding dengan hilangnya ratusan nyawa teman sejawat.

Bersatu Melawan Covid-19 Pandemi Covid-19 ini memang bencana yang luar biasa. Untuk mengakhirinya, butuh kerja sama dari berbagai pihak. Dari sisi masyarakat, jangan abai dengan penyakit ini. Tingkatkan kewaspadaan. Ikuti protokol kesehatan yang ada, yaitu 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan). Hindari bepergian ke tempat ramai atau berkerumun.

Pemerintah pun hendaknya memaksimalkan 3T (Testing, Tracing, Treatment). Testing dengan meningkatkan pemeriksaan swab PCR. Tracing dengan melakukan penelusuran dari kasus terkonfirmasi positif. Dan treatment dengan memberikan fasilitas kesehatan yang memadai dan mendukung penelitian untuk menemukan obat/ vaksin.

 Penyelenggaraan tes swab PCR secara masal perlu ditingkatkan, terutama di lokasi yang rawan penularan Covid-19 seperti perkantoran, sekolah, atau pondok pesantren. Dengan tes yang masif, pasien positif Covid-19 akan diketahui sehingga dapat segera diisolasi untuk mencegah penularan dan diobservasi untuk mengantisipasi gejala happy hypoxia.

Diperlukan pula regulasi yang ketat untuk memastikan masyarakat mematuhi protokol kesehatan. Adanya razia protokol kesehatan dan sanksi administratif merupakan terobosan yang patut diapresiasi. Namun, mencegah kerumunan juga sangat urgent dilakukan. Apalagi menjelang Pilkada di wilayah Kabupaten Malang, harus dilakukan langkah-langkah yang sistematis agar Pilkada tak menjadi klaster baru.

Pandemi Covid-19 ini memang berbahaya. Kita pun tak tahu kapan wabah ini akan usai. Namun, dengan bersatu dan berjuang bersama, kita pasti bisa melewatinya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here