new malang pos
Firahil Syaifinnabilah Guru SDI Sabilillah Malang

NEW MALANG POS – Covid-19 sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Virus asal kota Wuhan China yang mudah menular dan telah menelan beribu nyawa, datangnya tiba-tiba dan penyebarannya sangat cepat hingga menjadi pandemi yang menggemparkan dunia, tak terkecuali Indonesia. Dampak yang ditimbulkan pun sangat besar dan dirasakan oleh semua kalangan, termasuk dunia pendidikan.

Sejak Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi global, tentu ini sangat berpengaruh terhadap jalannya roda pendidikan di Indonesia. Penyebaran virus ini mengubah model pembelajaran secara drastis. Seluruh kegiatan pembelajaran dilakukan secara daring, mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Kegiatan pembelajaran yang semula dilakukan dengan tatap muka kini berubah menjadi tatap layar. Semua pihak dipaksa untuk beradaptasi dan melek teknologi. Tentunya ini bukan hal yang mudah bagi siapapun yang terlibat dalam lingkaran pendidikan. Kondisi seperti ini, tentu menjadi tantangan bagi guru, siswa, bahkan orang tua.

Di balik ujian pasti ada hikmahnya. Ada hikmah atau pelajaran yang bisa dipetik dari dunia pendidikan terkait pandemi ini, yakni peran guru yang tak tergantikan oleh teknologi. Pembelajaran offline tatap muka bersama guru terbukti lebih efektif ketimbang pembelajaran online tatap layar. Selamanya kehadiran dan peran guru tidak akan tergantikan oleh apapun, begitu juga teknologi.

Beragam teknologi tersedia untuk memudahkan pembelajaran daring, mulai dari Google Meet, Zoom, Google Classroom, Edmodo, bahkan salah satu kemajuan teknologi yang tengah berkembang yakni Computer Basic AI (Artificial Intellegent). Benda tak hidup yang bisa mencengangkan dunia, yaitu robot. Teknologi berbasis AI ini banyak diprediksi oleh para ahli akan membawa keuntungan bagi dunia. Di Washington, beberapa perusahaan sudah menerapkan penggunaan robot untuk menggantikan peran manusia. Seperti mengelas, mengecat badan mobil, menyortir barang di gudang, menelusuri pipa bawah tanah, dan lainnya. Professor Robotik dari Arizona State University Heni Ben Amor mengatakan bahwa dalam lima tahun ke depan robot berbasis AI ini bisa menggantikan peran bartender di kafe, menyambut tamu di hotel atau memberikan informasi pada tour wisata.

          Sebuah sekolah dasar di Auckland, New Zealand sudah menguji Robot AI pertama bernama Will. Will, guru avatar digital besutan korporasi energi Vector dan Soul Machine ini digadang menjadi pioneer masa depan. Will bisa berinteraksi seperti layaknya seorang manusia pada umumnya. Siswa bisa bertanya tentang apapun terhadap Will seperti matahari dan turbin angin. Will akan memperhatikan dan menjawab pertanyaan para siswa.

Wakil rektor University of Buckingham Inggris, Sir Anthony Seldon, mengungkapkan dalam British Science Festival yang diadakan di Brighton, Inggris, bahwa manusia akan kehilangan pekerjaannya sebagi guru dan beralih fungsi menjadi pengawas di kelas. Beliau berpendapat bahwa dalam waktu 10 tahun, peran guru tidak akan lagi dipegang oleh manusia, melainkan robot-robot cerdas yang menginspirasi.

          Lantas apakah ini masa depan dunia pendidikan? Bagaimana potensi model guru digital seperti Will?. Mungkin untuk sebagian masalah pendidikan yang terjadi di Indonesia, seperti kurangnya guru di daerah pedalaman, kurangnya anggaran guru, bermacamnya gaya belajar siswa, dan susahnya interaksi antara siswa dan guru seperti pandemi ini, guru robot bisa menjadi solusi.

Presiden Indonesia Joko Widodo memberikan pernyataan terkait masalah ini pada saat memberikan pidato di HUT ke 72 PGRI. Beliau mengatakan bahwa robot canggih mungkin dapat menjawab berbagai pengetahuan dan kebutuhan apa saja, tetapi tidak dapat menggantikan peran guru. Sebab guru menjalankan tugas profetik, mengemban misi kemanusiaan, menggerakkan jiwa peserta didik kepada kebenaran dan kebaikan sehingga membentuk karakter.

Robot seperti Will tentu akan mengalami hambatan interaksi sosial, seperti gesture, mimik wajah, bahkan intonasi suara. Robot tentu tidak memiliki rasa simpati dan kasih sayang yang selalu dihadirkan guru ketika mengajar. Ian Person, anggota dari World Academy of Arts and Science mengatakan bahwa kemampuan berfikir kreatif guru tidak bisa digantikan oleh robot. Dia berpendapat bahwa robot tak pernah bisa berhubungan atau mengerti dunia anak-anak. Mungkin, robot akan mengurangi beban kerja guru, tetapi tidak akan pernah menggantikan guru.

Melalui proses pembelajaran secara langsung atau tatap muka, siswa belajar dan mendapatkan nilai-nilai yang tak bisa didapatkan melalui pembelajaran daring. Pembelajaran secara daring hanya memperhatikan satu aspek saja, yakni aspek kognitif. Sedangkan aspek-aspek yang lain, seperti aspek afektif dan aspek psikomotorik, tentu tidak bisa tersalurkan secara sempurna. Nilai-nilai kemanusiaan seperti pendidikan karakter, kedisiplinan, cinta sesama, jujur, dan saling menghormati, tentu tidak akan mudah dipelajari di tengah pembelajaran daring seperti sekarang ini.

Esensinya, tugas guru tidak hanya memberi ilmu pengetahuan saja, namun juga mendidik karakter siswa dengan mentransfer nilai-nilai dan norma yang baik. Guru adalah pendidik dan pengajar. Kedua istilah tersebut memang terlihat sama, tetapi nyatanya memiliki arti yang berbeda. Seorang pengajar belum tentu pendidik, tetapi seorang pendidik pasti menjadi pengajar. Guru tidak hanya bertugas mengajarkan pengetahuan saja, tetapi juga bertugas membentuk karakter.

Dalam dunia pendidikan saat ini, kecerdasan akedemik tidak lagi menjadi penentu keberhasilan siswa, bahkan ketika suatu saat mereka memasuki dunia kerja. Kecerdasan moral dan attitude menjadi pertimbangan utama bagi generasi muda saat ini. Guru adalah role model dan tauladan bagi siswanya. Guru berperan besar untuk kemajuan bangsa ini.

Profesi guru adalah profesi yang akan terus ada dan tidak tergantikan oleh apapun, sekalipun robot. Robot bisa saja menggantikan pelayan hotel menyambut tamu, merawat orang sakit, memasak layaknya seorang koki, bahkan memberi pengetahuan kepada siswa di sekolah. Namun, robot tidak bisa mengekspresikan kasih sayang yang selalu dihadirkan guru, robot tidak membentuk karakter.

 Itulah mengapa, tidak ada satupun teknologi yang bisa menggantikan kehadiran guru dalam pembelajaran. Karena guru memiliki kompetensi, dan keterampilan dalam mengajar dan mendidik siswa di sekolah.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here