new malang pos

Oleh: Sugeng Winarno

Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

 “Angel temen tuturanmu, angel temen, tuturanmu.” Begitu ungkapan yang viral di medsos merespon sulitnya penegakan protokol kesehatan. Potongan suara pelawak Baseman anggota Kartolo cs itu memang lucu hingga jadi guyonan untuk menyindir pada orang yang sulit dinasehati. Ungkapan itu rasanya juga pas untuk merespon pelaksanaan kampanye Pilkada pekan pertama yang diwarnai dengan banyak pelanggaran. Mengatur kampanye saat pandemi Covid-19 memang sulit, banyak yang melanggar aturan main.

Pilkada 2020 digelar di 270 daerah dan diikuti oleh 25 pasangan calon (paslon) yang berkontestasi di sembilan pemilihan gubernur. Terdapat 615 paslon untuk pemilihan bupati, dan 101 paslon di 37 pemilihan walikota. Kampanye Pilkada 2020 sudah dimulai sejak Sabtu (26/9) hingga 71 hari ke depan. Dalam pelaksanaan kampanye, diharapkan tak dilakukan dengan pengumpulan massa, seperti konser musik dan rapat akbar. Interaksi sang kandidat diharapkan banyak dilakukan melalui media digital.

Pilkada saat pandemi Covid-19 jelas berbeda dengan pelaksanaan Pilkada yang normal. Pilkada kali ini situasinya khusus, hingga tak boleh disamakan dengan beberapa pilkada sebelumnya. Pada putaran awal masa kampanye banyak perilaku yang belum berubah. Kampanye model tatap muka masih mendominasi pada pelaksanaan kampanye di sejumlah wilayah.

Sejumlah Pelanggaran

Merubah kampanye model tatap muka dan pengerahan massa menjadi kampanye digital memang sulit. Kampanye digital juga tak bisa dilakukan hanya dengan konsep seperti layaknya kampanye tatap muka biasa yang dibuat online. Sifat media konvensional dengan tatap muka langsung dengan interaksi di dunia maya tentu berbeda. Sejumlah tim sukses dan paslon akhirnya lebih memilih cara-cara kampanye konvensional dengan pengumpulan massa. 

Kampanye model pengumpulan massa berpotensi melonggarnya penerapan disiplin protokol kesehatan. Pertemuan fisik banyak dipilih sebagai cara kampanye andalan oleh para tim sukses dan sejumlah paslon kepala daerah. Berdasarkan hasil pengawasan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), seperti diberitakan sejumlah media, pada kurun waktu tanggal 28-30 September saja terdapat 43 persen kampanye tatap muka.

Menurut pantauan Bawaslu, dalam 3 hari masa pengawasan, setidaknya terdapat 582 aktivitas kampanye di 187 kabupaten/kota. Ditemukan 43 persen kampanye tatap muka, penyebaran bahan kampanye (22 persen), melalui alat peraga (17 persen), kampanye lewat media sosial (11 persen), dan beberapa metode lainnya. Metode kampanye dengan pengerahan massa masih dianggap sebagai cara yang efektif untuk menggaet massa oleh tim sukses para kandidat.

Menurut temuan Bawaslu, pelanggaran protokol kesehatan ditemukan di 35 kabupaten/kota. Sejumlah daerah yang melanggar protokol pencegahan Covid-19 adalah Depok, Trenggalek, Mojokerto, Ketapang, Bontang, Supriori, Bulukumba, Pasangkayu, Makassar, dan Solok Selatan. Munculnya pelanggaran ini menunjukkan bahwa sejumlah tim sukses dan pasangan calon tak sensitif pada situasi dan kondisi saat pandemi.

Sementara sepanjang awal kampanye (26/9) hingga 5 oktober, Bawaslu telah menemukan 270 daerah yang menyelenggarakan kampanye tatap muka di 256 kabupaten/kota (95 persen). Hanya 14 kabupaten/kota (5 persen) yang tidak terdapat kampanye tatap muka. Dari 256 kabupaten/kota, terdapat 9.189 kampanye dengan kegiatan tatap muka atau pertemuan terbatas. Bawaslu menemukan 237 dugaan pelanggaran protokol kesehatan di 59 kabupaten/kota. Bawaslu juga telah membubarkan 48 kegiatan dan melayangkan 70 surat peringatan.

Sulitnya Ubah Kampanye

Menyimak banyaknya pelanggaran kampanye menunjukkan bahwa pola kampanye sulit diubah. Walaupun situasi pandemi Covid-19 masih sangat membahayakan di sejumlah daerah, ternyata tak membuat para tim sukses paslon mencoba cara-cara kampanye yang lebih aman dan sehat. Data juga menunjukkan setidaknya sudah ada enam calon kepala daerah yang ikut berkontestasi dalam Pilkada tahun ini yang meninggal dunia karena Covid-19.

Merujuk Antar Venus (2012) dalam bukunya “Manajemen Kampanye” menyatakan bahwa kebanyakan kampanye yang dilakukan di negeri ini masih belum melandaskan pada konsep-konsep kampanye ilmiah yang dikembangkan dalam disiplin komunikasi. Sebagian besar kampanye masih mengandalkan pada feeling dan kebiasaan yang dilakukan secara turun-temurun. Situasi inilah yang menjadikan kampanye politik dari waktu ke waktu hanya pengulangan konsep-konsep serupa tanpa inovasi dan kreativitas yang berarti.

Pada situasi pandemi seperti saat ini, sebenarnya para kandidat dan tim sukses masih bisa melakukan kampanye melalui tiga platform media. Pertama, above the line, yakni kampanye lewat media arus utama (mainstream media) seperti koran, radio, dan televisi. Kedua, through the line, yakni kampanye melalui media online dan media sosial seperti Website, Instagram, Twitter, Facebook, Youtube, dan WhatsApp. Ketiga, below the line, yakni kampanye dengan media tatap muka dan word of mouth, dengan tetap menjalankan disiplin protokol kesehatan yang ketat.

Sulitnya merubah cara kampanye ini bisa jadi karena tim kemenangan masing-masing paslon tak mau mencoba sesuatu yang baru. Sementara di sejumlah masyarakat kita juga masih beranggapan bahwa kampanye itu merupakan kegiatan pengumpulan massa dengan panggung dangdut atau hiburan yang lain. Kampanye masih identik dengan ramai-ramai, arak-arakan massa, meneriakkan yel-yel, dan pakai kaos dan bendera atribut partai beraneka rupa.

Para tim sukses paslon, kandidat, dan partai politik punya tugas untuk mengedukasi masyarakat. Kampanye yang baik tak musti dengan pengerahan massa dan adu pesona lewat kemampuan retorika di panggung oleh para tim sukses dan para kandidat. Model kampanye yang lebih mengekplorasi kecakapan dan rekam jejak sang kandidat perlu dikedepankan. Kesuksesan kampanye di televisi pada Pilpres silam menjadi cara yang bisa dicoba untuk Pilkada kali ini.

Penegakan disiplin di negeri ini memang masih menjadi barang mewah. Bagaimana penanganan pandemi Covid-19 menjadi terhalang oleh sikap abai sejumlah masyarakat. Terhadap aturan kampanye pun demikian. Banyaknya pelanggaran aturan kampanye menunjukkan bahwa sejumlah warga negeri ini memang sulit diatur. Maka, bener kata lawakan Baseman: angel temen tuturanmu, angel temen, tuturanmu. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here