Perempuan Bukan Pejuang Legalisasi Aborsi

0

“Kehidupan adalah anugerah yang diberikan Allah kepada hambanya. Begitu pula nyawa yang ada di badan kita. Dialah yang berhak mencabutnya. Sebagai manusia beriman, saya menolak pengesahan aborsi,” demikian tulis Sukiah R. Hastuti dalam Surat Pembaca di suatu media yang  berjudul “Aborsi, No Way”.

Ide itu merupakan ekspresi perempuan  atau layaknya manusia bernurani yang tidak merelakan dirinya jadi pejuang terhadap pembenaran, legalisasi, atau pengesahan pembunuhan janin, pengguguran kandungan, atau aborsi atas nama hak reproduksi, karier, tuntutan kerja, kegagalan kontrasepsi, target melanjutkan studi, identitas sosial atau nama baik keluarga, dan keterdesakan ekonomi (kemiskinan).

Ekspresi itu merupakan bentuk panggilan nurani atau kejiwaan sebagai perempuan dan ibu yang merasa dirinya menunaikan tugas kesejarahan di muka bumi, menjaga dan melindungi estafetisme zaman melalui amanat dari-Nya dalam bentuk perlindungan hak hidup janin dan pertumbuhannya agar kelak bisa menjadi khalifah yang bermanfaat di muka bumi.

Persoalannya, masih banyakkah perempuan yang batinnya menjeritkan aborsi sebagai pembunuhan, perampasan atau pemenggalan hak hidup? Masih akan terus bergemakah kampanye moral yang meneriakkan peperangan terhadap upaya-upaya yang bermaksud melegalisasi aborsi?

Seharusnya setiap orang beragama dan menganut prinsip keadaban, tidaklah menjadikan aborsi sebagai pilihan utama atau opsi yang dilegalitaskan. Dalam agama, aborsi hanya dibenarkan jika ada alasan darurat seperti dalil medis yang menyebutkan, bahwa jika aborsi tidak dipilih, nyawa perempuan yang mengandungnya dalam bahaya besar terancam nyawanya.

Itu menunjukkan, bahwa hanya ketika ada pilihan sulit, aborsi itu boleh dijadikan pilihan. Alasan sulit inipun  tetap berpihak pada prinsip penghormatan hak hidup manusia, yakni perempuan yang sedang mengandung. Pilihan ini tidak dimaksudkan sebagai pembenaran pembunuhan atas nama kehidupan janin, melainkan sebagai upaya maksimal untuk menjaga kelangsungan hidup sosok yang lebih produktif, dalam hal ini perempuan yang tidak menolak menunaikan kewajiban reproduksinya, yang nota bene sebagai kewajiban bertajuk menghormati (melahirkan dan memperjuangkan) hak hidup.

Tingginya nilai hak hidup itu dapat terbaca dalam ungkapan Nurcholis Majid, “menghidupi satu nyawa manusia sama dengan menghidupi manusia sejagad dan membunuh seorang manusia sama dengan membunuh manusia sejagad.” Ungkapan Cak Nur ini merupakan tafsir humanitas terhadap  Al-Qur’an Surat Al Maidah ayat 32: Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia memelihara kehidupan manusia semuanya.

Makna manusia sejagad merupakan titik tekan fundamental dan universal, bahwa eksistensi kehidupan sebagai anugerah Tuhan itu mahal harganya. Seseorang yang terjaga kehidupannya akan bisa berbuat banyak untuk menunaikan kewajiban seperti menghidupi keluarga, membebaskan derita sesama, menjadi pemimpin publik yang amanah, atau bisa memilari kehidupan sesamanya yang terancam nyawanya.

Seseorang yang punya kemampuan ekonomi berlimpah yang terjaga hak hidupnya, niscaya potensial bisa melakukan peran-peran positif berbasis kemanusiaan, kerakyatan, dan kebangsaan. Dengan kemampuan ekonominya, ia bisa merancang program dan membumikannya untuk mengentas sesamanya yang hidup ditimpa kesulitan cadangan pangan, kekurangan gizi (malnutrisi),  gagal menempuh pendidikan yang layak, dan  berbagai bentuk kemadaratan yang membahayakan kesehatan dan nyawanya.

Ia bisa berbuat demikian itu, salah satu faktornya karena adanya proteksi terhadap hak hidupnya. Kalau hak hidupnya dirampas, sementara sumber ekonomi yang seharusnya bisa mendukung kemaslahatan makro ikut terputus, maka terancamlah hak-hak manusia lainnya yang selama ini misalnya menggantungkan kekuatan modal, manajemen kerja, dan karitas darinya.

Seseorang yang menjalankan tugas universal itu bermula dari janin yang dilindungi hak hidupnya oleh pemain utama dunia, yakni perempuan. Ia berkewajiban dalam hal misalnya menjaga, merawat, atau mempertanggungjawabkannya secara moral dan medis sejak dalam proses pembuahan.  Dari hak hidup yang dilindungi sejak dari janin inilah, modal besar bangunan kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsa ditentukan.

Dalam Memorandum OKI tentang Hak Asasi Manusia (HAM) Islam (Masyru’u Watsiqoti Huquq wa-wajibaat al-Insan: Al-Insaniyat al-asasiyat fil-Islam) butir keduapuluh disebutkan pula, bahwa setiap individu dilarang melenyapkan hak kehidupan, kebebasan, hidup terhormat, dan keselamatan pribadinya baik secara material maupun normatifnya, ia dilarang pula membelenggu dan memperbudak manusia dimana saja.

Larangan melenyapkan hak hidup tersebut secara a contrario merupakan bentuk perintah wajib untuk melindungi, menyelamatkan, dan mencegah berbagai bentuk perbuatan yang membahayakan, mengancam, dan melenyapkan hak hidup, termasuk aborsi, meski aborsi ini dilegalitaskan demi jaminan kepastian profesi dokter atau paramedis dan atas nama prevensi terhadap kemungkinan dijadikanya opsi aborsi non-medis yang membahayakan  nyawa manusia Meski ada larangan baik menurut agama, hukum, dan suara batin, tetapi tidak sedikit di antara kita ini yang menunjukkan watak ambiguitas ketika dihadapkan dengan realitas kasus aborsi dan akar kriminogennya. Paling gampang misalnya, kita menyebut sebagai masyarakat beragama Islam terbesar di muka bumi, namun di sisi lain mulai ada kecenderungan menggebu-gebu (memperjuangkan) dilegalitaskannya kejahatan (aborsi).

Legalisasi aborsi itu didalihkan pada realitas kasus banyaknya permintaan dari konsumen aborsi. Permintaan dari masyarakat ini meningkat dari waktu ke waktu karena kehamilan yang tidak dikehendakinya (unwanted pregnancy). Kehamilan demikian bisa terjadi akibat “kecelakaan” (hamil sebelum menikah), janin yang terdeteksi secara medis tidak sesuai dengan yang diprogram (misalnya perempuan)  maupun kegagalan pemakaian kontrasepsi.

Itu setidak-tidaknya menunjukkan bahwa aborsi, tanpa dilegalisasikan pun sudah menjadi suatu pilihan dari anggota masyarakat yang sedang mengalami unwanted pregnancy. Aborsi telah atau masih menjadi suatu penyakit masyarakat yang dibenci, namun masih demikian sering dijadikan pilihan akhir akibat krisis komitmen merawat, menjaga, dan melindungi hak hidup anak manusia. Kondisi seperti inilah yang seharusnya jadi bagian dari “lahan” perjuangan perempuan di era milenialistik ini.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here