new malang pos
Ilustrasi: Memiliki tato sebenarnya bukan kondisi yang menghalangi Anda untuk melakukan donor darah. Namun tetap ada beberapa hal yang perlu terlebih dulu dicermati. (Foto: istockphoto/baytunc)

NEW MALANG POS – Beberapa kondisi kadang terpaksa bakal membuat rutinitas donor darah tertunda. Salah satunya, ketika Anda tidak fit atau tekanan darah rendah usai begadang. Tapi bagaimana dengan Anda yang bagian tubuhnya terdapat tato?

Calon pendonor memang dianjurkan mempersiapkan kondisi tubuh seperti cukup tidur, asupan cairan dan nutrisi. Paling tidak sehari sebelum donor darah, hindari mengonsumsi obat dan alkohol. Dan, tato yang melekat di tubuh sebagian dari Anda, sesungguhnya tak menghalangi aktivitas donor darah.

Kepala Unit Transfusi Darah PMI DKI Jakarta Ni Ken Ritchie mengatakan, kepemilikan tato memang termasuk dalam formulir pendaftaran donor darah. Namun ini bukan berarti seseorang tidak boleh donor sama sekali hanya karena punya tato.

“Kami perlu tahu kapan tato dibuat. Kalau sudah setahun, dua tahun, risikonya akan berbeda dengan yang baru dibuat,” kata Ni Ken menjelaskan perihal tato dan aktivitas donor darah, seperti yang dikutip CNN Indonesia.

Untuk diketahui, pembuatan Tato termasuk prosedur yang melibatkan jarum, sementara PMI tidak bisa memastikan jarum yang digunakan itu baru atau bekas. Karena itu pertanyaan soal tato perlu disertakan dalam formulir donor darah.

Kemudian, penularan penyakit hingga timbul gejala biasanya memerlukan jeda waktu atau masa jendela. Deteksi penyakit jika ada bakteri atau virus yang menghuni tubuh akan tampak dalam seminggu hingga 3 bulan, karena antibodi yang terbentuk.

“Sebaiknya beri jeda waktu agak lama, enam bulan setelah membuat tato, baru bisa donor dan pihak PMI bisa mendeteksi jika ada penyakit,” imbuh Ni Ken lagi.

Bagaimana dengan donor darah saat haid?

Meski tidak berhubungan dengan jarum, kondisi menstruasi atau haid justru yang bisa menghalangi aktivitas donor darah. Namun hanya pada awal-awal masa menstruasi saja.

“Perempuan saat haid di hari pertama, hari-hari awal itu [pelepasan darah] cukup banyak sehingga tidak disarankan. Apalagi melihat data, kondisi perempuan Indonesia cenderung memiliki hemoglobin (Hb) rendah,” terang Ni Ken.

Akan tetapi ia menjelaskan, pendonor perempuan tidak harus menunggu hingga menstruasi selesai. Ni Ken menyarankan selepas hari-hari awal menstruasi, perempuan baru bisa mendonorkan darah.

“Setelah melewati hari-hari awal, boleh donor darah,” kata Ni Ken. (els/NMA/CNNI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here