Ilustrasi: Cyberbullying acap membuat sebagian orang panik atau takut, apalagi di tengah pandemi yang memungkinkan interaksi lebih tinggi dengan media sosial. Berikut hal yang perlu dilakukan ketika mengalami perundungan siber atau cyberbullying. (Foto: Jedidja/Pixabay)

NEW MALANG POS – Cyberbullying dan kekerasan di internet terutama media sosial semakin meningkat pada masa pandemi virus corona. Kondisi ini diutarakan penggagas Bully.id–sebuah aplikasi yang fokus pada konseling hukum dan psikologi cyberbullying, Agita Pasaribu.

Kendati tak merinci peningkatan, ia mengatakan cyberbullying dapat terjadi pada siapa saja dan kapan saja.

Ketika mengalami perundungan online atau cyberbullying, jangan panik, takut, stres atau depresi. Ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk melindungi diri saat mengalami kekerasan di media sosial.

“Perundungan di masa Covid-19 semakin meningkat karena sehari-hari berhubungan langsung dengan internet dan media sosial. Maka butuh psychology first aid (pertolongan pertama untuk psikologis),” kata founder Bully.id Agita Pasaribu dalam webinar memperingati Hari Anak Nasional Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Selasa (7/7).

Data dari Out of the Shadow Report menunjukkan Indonesia termasuk ke dalam negara yang tidak aman bagi anak dalam berjejaring di media sosial.

Terdapat sejumlah bentuk cyberbullying yang bisa terjadi di media sosial seperti flaming atau pertengkaran, kekerasan, menghina seseorang, menggunakan data orang lain, menyebarkan konten pribadi atau revenge porn, dan kekerasan seksual secara online. Kekerasan ini dapat terjadi di unggahan media sosial, kolom komentar, atau pada situs tertentu.

Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan ketika Anda mengalami kekerasan di media social, seperti yang dilansir CNN Indonesia.

1. Tidak membalas cyberbullying

Hindari membalas segala bentuk cyberbullying yang dilakukan kepada Anda. Lebih baik tetap tenang, abaikan, dan alihkan pikiran pada hal lain.

Jangan pula membalas permintaan aneh dari orang lain seperti mengiming-imingi uang, popularitas, atau menyuruh melakukan sesuatu seperti membuka baju dan memperlihatkan alat kelamin.

2. Report dan block akun tersebut

Segera report, block, dan hapus pertemanan dengan akun yang melakukan tindakan kekerasan tersebut. Platform media sosial akan segera melakukan langkah untuk menindaklanjuti laporan tersebut.

Report dan block membuat akun tersebut tidak memiliki akses ke akun Anda.

3. Ceritakan pada orang lain

Segera menceritakan kasus kekerasan di media sosial dengan orang terdekat yang dipercaya misalnya seperti saudara, orang tua, atau guru. Minta pula pendapat, bantuan, dam perlindungan untuk menghadapi kekerasan tersebut.

4. Screenshoot bukti kekerasan di media sosial

Screenshoot atau lakukan tangkapan layar bukti kekerasan di media sosial sebagai barang bukti. Simpan screenshoot tersebut.

“Di Indonesia kasus yang bisa dilaporkan harus memiliki minimal dua alat bukti dan juga diperlukan saksi ahli. Jadi, penting untuk me-screenshoot kekerasan di media sosial tersebut,” kata Agita.

5. Laporkan ke polisi

Dengan bukti yang ada, segera laporkan ke polisi mengenai tindak kekerasan tersebut. Polisi bakal menelusuri kasus tersebut.

Segera minta bantuan jika mendapatkan kekerasan di media sosial. Anda juga dapat menghubungi psikolog untuk meminta bantuan dan menjaga kesehatan mental. (ptj/NMACNNI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here